AdCoba

Monday, 25 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 1

Bettalakron


Prajurit, Penyihir, Tabib dan Bayangan


by: Atriary Listyopradito



Dia adalah raja dari segala kehancuran…
Yang menebar kengerian dan ketakutan…
Semudah melemparkan kerikil ke dalam danau…
Sorot matanya yang mengerikan…
Membuat tak ada yang berani menatapnya...
Keempat sayapnya mengepak mengerikan…
Membawa tubuh besarnya menebar teror di angkasa…
Sebuah kekuatan kegelapan yang sangat sempurna…
Namun empat segel telah membuatnya diam…
Sebuah batu telah mengunci kekuatan magisnya…
Sebuah kalung penghargaan berjiwa suci telah mengunci lehernya…
Sebuah cermin bening telah menenggelamkan dirinya…
Dan,
Sebuah Jiwa kesepian yang ketakutan telah menyempurnakan segelnya…
Ia akan bangkit hanya dengan merusak keempat segel tersebut…
Dan dunia akan kembali menghadapi bencana terbesar…


1
Awal Sebuah Akhir



TAK!!!

Sebuah kapur mendarat kencang di atas kepala Aldi. Anak-anak nakal yang duduk di belakang Aldi memang suka mengganggu Aldi. Ini semua karena Malik, sepupu Aldi yang kaya dan ketua genk anak-anak nakal di SMAnya membenci Aldi. Malik memang suka sirik oleh Aldi karena tampangnya yang lumayan ganteng. Tapi karena provokasi dari Malik, Aldi berhasil dijauhi dari teman-teman wanitanya yang mengejarnya. Ia pernah difitnah mencuri dompet guru yang hilang dan alhasil dompet tersebut sudah ada di tas Aldi saat diperiksa oleh guru. Padahal Aldi tahu, ini semua pasti ulah Malik dan teman-temannya. Aldi pun tidak dikeluarkan dari sekolah dengan alasan para guru masih bisa memaafkan. Namun Aldi curiga ini adalah akal-akalan Malik untuk tetap membuat Aldi tetap berada di sekolah ini untuk bisa terus menyiksanya dan membuat hidupnya makin sengsara. Dan sekarang Aldi sudah hampir tak memiliki seorang teman pun.

“Balas lemparanku kalau berani!!!” Kata teman sebangku Malik yang tadi melempar kapur.

Aldi hanya diam saja melihatnya dan kemudian kembali melihat ke depan.

“Dasar banci!” Kata Malik sambil mengelus rambutnya yang keritingnya bukan main. Perutnya yang gendut ikut bergoyang seiring dengan cekikikannya yang mirip suara babi. Teman-teman Malik yang duduk di dekatnyapun mulai ikut melemparkan ejekan-ejekan pada Aldi. Tapi Aldi tetap tak acuhkan mereka. Dalam hal ini, Aldi serba salah karena jika Ia membalas mereka, Aldi sendirilah yang akan habis. Karena orang tua Malik, sepupunya yang kaya itu adalah penyumbang dana pembangunan terbesar di sekolah ini. Otomatis para guru pun menghormati Malik. Dan lagi, Aldi sudah di blacklist oleh para guru.

“Apa yang kau lakukan, Aldi?” Tanya Pak Ferry yang sedang mengajar di depan.

“Malik, Pak.” Kata Aldi.

“Mengadu seperti anak kecil, Aldi? Kurasa kau akan mendapat masalah setelah pelajaran ini.” Kata Pkak Ferry. Suaranya di buat se sok yang ia bisa, “Dan jangan sesekali lagi kau mengganggu Malik. Kau sama sekali tidak berhak menyentuhnya dengan tangan orang miskin sepertimu.”

Dengan mudahnya guru itu berkata seperti itu. Namun tak heran. Pak Ferry sudah cukup terkenal sebagai guru yang tak bertanggung jawab yang dengan mudah menerima suap. Beberapa kali ia diberi ‘amplop’ oleh orang tua Malik. Dan ini membuat Pak Ferry menjadi sangat memperhatikan Malik di sekolah.

Pada saat pulangpun Aldi tak lolos dari lontaran ejekan-ejekan yang tak bosan-bosannya dilontarkan pada Aldi setiap harinya. Membuat hari-hari sekolah Aldi yang buruk semakin memburuk. Dalam hati Aldi menangis keras-keras. Karena hampir semua orang tak ada yang mau berteman dengannya. Dan di rumahpun, tak lebih baik keadaannya dibandingkan dengan di sekolah. Ibunya telah menghilang selama lebih dari 8 tahun yang lalu. Akhirnya Ayahnyapun yang memiliki sifat buruk mulai suka mabuk-mabukan. Sekarangpun Aldi tinggal di rumah yang sudah seperti sarang. Satu-satunya yang membuat Aldi ingin bertahan hidup adalah…

“Selamat datang Kakak!!” Sapa seorang cewek berambut panjang lurus, lembut dan hitam dengan wajah manisnya menyapa Aldi sambil tersenyum. Dia adalah adik Aldi. Yang bersekolah juga di SMP kelas 3 di SMP negeri 13 Bandung. Berbeda satu tahun dengan Ami, Aldi bersekolah kelas 1 SMA di SMA negeri 5 Bandung sekarang. Bagaimanapun juga ini adalah sebuah sekolah yang cukup menonjol di sini. Aldi dan Ami berusaha keras untuk berada pada tingkat atas pendidikan mereka.

“Bagaimana sekolahmu?” Tanya Aldi sambil mengelus rambut adiknya itu.

“Menyenangkan Kak. Kakak bagaimana?”

“Sama.” Aldi berbohong. Ia tak mau menambahkan pikiran Adiknya itu dengan masalahnya sendiri, “Oh ya, Ami, seragamku di mana?”

“Aku simpan di lemari yang tengah Kak.”

Mereka berdua kerja sambilan di sebuah restoran sederhana milik orang bernama Bu Latifah. Sang pemilik restoran tersebut, Bu Latifahpun cukup baik kepada Aldi dan Ami yang merupakan pelayan dan juru masak di restorannya yang sederhana ini. Bahkan kata baik tidak cukup untuk memujinya yang pernah memberi Aldi dan Ami pekerjaan seperti ini. Masakan Aldi bisa dibilang sangat enak. Ia sangat mahir memasak. Tetapi ada juga beberapa tamu yang datang karena hanya ingin melihat adik Aldi yang manis itu.

***

Setelah selesai bekerja, Aldi dan Ami menghadap Bu Latifah untuk diberikan gaji bulanan mereka. Walaupun jumlahnya sedikit, gaji itu mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

“Jangan dibuat jajan ya.” Ujar Bu Latifah sambil memberikan amplop gaji kepada Aldi dan Ami.

“Terima kasih banyak Bu.” Kata Ami sambil mengambil amplop gaji tersebut dari tangan Ami.

“Oh, ya, bagaimana kabar Ayahmu?” Tanya Bu Latifah tiba-tiba.

“Oh, dia baik-baik saja kok di rumah.” Jawab Ami.

Aldi berubah suasana hatinya mendengar nama ayahnya disebut. “Huh si pemabuk itu…” Ujar Aldi. Ami langsung berubah paras mukanya.

“Yah… Ibu harap kalian baik-baik saja di rumah. Hati-hatilah di jalan.” Kata Bu Latifah. Ia sudah hafal betul bagaimana keadaan di rumah mereka. Dari ibu mereka yang sudah 8 tahun ini menghilang, sampai kebiasaan ayahnya yang suka menghabiskan uang untuk berjudi dan mabuk-mabukan.

“Selamat tinggal Bu…” Kata Ami sambil mengikuti kakaknya melangkah menembus gelapnya malam hari di Bandung.

***

Aldi dan Ami pulang ke rumah mereka dengan berjalan kaki untuk menghemat uang mereka. Jarak yang ditempuh memang cukup jauh dari restoran menuju rumah mereka. Namun dengan berjalan kaki, mereka bisa menambahkan beberapa ribu rupiah ke dalam uang saku dan uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Apa Kakak belum bisa memaafkan Ayah?” Ami memandang Aldi sambil berjalan di sebelahnya.

Aldi diam saja.

“Kak, jawab dong…”

“Memaaafkan orang yang sudah membuat Ibu menderita dan pergi menghilang? Memaafkan orang yang sudah membuat hidup kita yang susah semakin susah? Aku rasa lebih mudah mencari ketiak ular.” Jawab Aldi agak berang. Ia kadang heran mengapa Ami bisa menyuruhnya memaafkan orang yang sering menyakiti Ami begitu saja.

Ami terdiam mendengar kata-kata Aldi. Kemudian Ia memberanikan diri berkata, “Cobalah memaafkan Dia Kak. Biar begitu Dia Ayah kita. Kita adalah darah dagingnya.”

Aldi sebenarnya tidak mau menanggapi argumentasi ini. Ia memilih untuk mengganti topik pembicaraan, “Mi, kamu tak usah mengurus masalah ini. Biarkan saja semua ini.” Aldi mengelus rambut adiknya yang panjang tergerai itu, “Hari ini adikku makin cantik.”

“Gombal!.” Kata Ami sambil setengah ge-er, “Nanti sampai di rumah jangan berkelahi dengan Ayah, ya.”

Aldi hanya tersenyum, “Mau kau pakai untuk apa uang gajimu itu?”

“Aku ingin memakainya untuk membeli jaket Kak. Tadi di tengah jalan Aku lihat jaket bagus dan murah di distro dekat restoran Bu Latifah. Besok Aku akan langsung membelinya. Bolehkan Kak?”

Aldi melihat ke arah Ami. Memang mereka sama-sama tidak memakai jaket dan tidak memilikinya di rumah. Ada juga jaket, namun sudah penuh lubang bekas gigitan ngengat. Dan Aldi pun tahu, adiknya selalu kedinginan bila mereka pulang jalan kaki ke rumah mereka pada malam hari.

“Tentu. Itukan uangmu. Pakailah untuk kebutuhanmu.” Aldi mencium kening Adiknya tercinta itu. Ami tersenyum. Beberapa pasang mata melihat ke arah pasangan mesra ini yang sebenarnya adalah kakak adik.

***

Mereka berdua sampai di sebuah rumah yang sederhana dengan beberapa pecahan beling tercecer di garasi rumah dan di pojok garasi tersebut terdapat banyak barang-barang rongsokan seperti halnya ban bekas dan kaleng kosong. Mobil tua mereka yang catnya sudah mengelupas di sana-sini terparkirkan di depan rumah. Bau kol busuk tercium dari depan rumah. Mungkin berasal dari beberapa sayur-sayuran yang membusuk dan didiamkan di dekat jendela samping rumah. Di sana-sini tumbuh rumput liar yang panjangnya nyaris seperti rambut Malik jika habis di rebonding.

Entah apa kata para tetangga mereka. Namun rumah ini nyaris tidak mungkin untuk dijadikan seperti rumah sewajarnya oleh tenaga Aldi dan Ami. Dan mungkin juga dalam beberapa kesempatan, rumah ini menjadi bahan gosip ibu-ibu yang sedang berbelanja pada pagi hari.

Ami membuka pintu rumah. Begitu pintu terbuka, bau alkohol langsung menyibak ke luar rumah bak aroma selamat datang. Sambil berusaha mengacuhkan bau tersebut, mereka langsung menaruh tas di sofa reyot mereka. Debu-debu beterbangan dari sofa itu.

“Hari Minggu nanti akan kubersihkan.” Kata Ami sambil menggelengkan kepala melihat debu-debu yang beterbangan.

Aldi menekan sakelar lampu di pojok ruangan. Lampu 10 watt menyala menerangi ruangan yang nyaris bukan seperti ruangan. Di lantai terdapat banyak koran berceceran. Tembok-tembok ruangan tersebut terdapat bekas bocor dan catnya sudah terkelupas. Di tengah ruangan bergeletakan botol-botol minuman keras yang beberapa di antaranya sudah dihinggapi sarang laba-laba.

Aldi dan Ami mengambil tas mereka dari sofa dan menyibakkan debunya. Saat hendak naik ke kamar mereka, mereka bertemu dengan sesosok laki-laki kurus brewokan. Rambutnya berantarkan dan bau alkohol yang menyengat tercium darinya.

“Ayah belum tidur?” Tanya Ami basa-basi.

Pria itu tak menggubris kata-kata Ami. Ia langsung mengambil tas dari tangan Ami dan membukanya. Ia mengambil selembar amplop dari tas Ami.

“Hey, itu gaji Ami!” Bentak Aldi.

“Aku juga tahu.” Kata Ayah Aldi tenang.

“Mau kaupakai untuk apalagi?!”

“Sudah lama Aku tidak minum. Akan kupakai untuk membeli minuman.”

“Tapi apa hakmu?! Ami akan memakainya untuk membeli jaket. Kasihan Dia tiap malam kedinginan!!!”

“Hakku apa?! Aku ini Ayah kalian!” Ayah Aldi balas membentak. Ia langsung menampar Aldi. Aldi terjatuh. “Belilah jaket lain kali.” Ia langsung berjalan dan hendak keluar rumah untuk membeli minuman keras.

“Beraninya kau!!!” Teriak Aldi. Ia hendak bangun dan membalas tamparan ayahnya itu. Ami yang asalnya membantu Aldi untuk bangun menjadi berusaha untuk menahan Aldi suapaya tidak melancarkan sebuah kepalan tangan ekspres kearah hidung Ayahnya yang sudah bengkok walaupun kepalan tangan itu tidak sampai pada tempat yang dituju.

“Sudahlah Kak. Ami akan membeli jaket itu bulan depan lagi…” Kata Ami tegar. Tapi terdapat sedikit nada bergetar dalam kata-kata Ami.

Begitu Ayahnya keluar dan menutup pintu, suasana menjadi agak tenang. Tapi Aldi masih tetap berang karena hasil jerih payah Adiknya itu dipakai untuk hal-hal maksiat. Tanpa ngobrol lagi, Ami langsung mengambil tasnya dan lari ke kamarnya di lantai atas.

Aldi bangun dan mengelus-elus pipinya yang tadi ditampar Ayahnya. Walau Ia sudah biasa berkelahi dengan Ayahnya, tapi perkelahian mereka jarang ada yang bisa sampai membuat Ami menjadi seperti itu. Dasar ayah tak berperikemanusiaan! Pikirnya. Aldi memutuskan naik dan mencoba menghibur Ami.

Aldi menaiki tangga kayu rumahnya yang sudah reyot dan menimbulkan suara berdecit setiap ada orang yang menaikinya. Aldi membuka pintu kamar paling ujung. Kamar ini merupakan kamar yang paling rapih dan paling harum di rumah ini. Ami memang rajin membereskan kamarnya dan apik dengan barang-barangnya. Walaupun begitu, tetap saja ada bekas bocor di sana-sini yang tidak mungkin tertutupi beberapa pernak-pernik kamar itu.

Aldi melihat Ami sedang tiduran memunggungi pintu di atas tempat tidurnya. Aldi mendekatinya. Tampaknya Ami menyadari ada yang mendekatinya. Ia langsung bangun dan cepat-cepat menyeka air matanya. Begitu melihat Aldi, dia langsung memasang senyum yang tak harus pintar untuk menebaknya bahwa itu adalah senyum yang dipaksakan.

“Eh, Kakak. Aku capek Kakak. 5 menit saja yah… Nanti Aku bantuin masak habis aku…” Kata-kata Ami terhenti. Aldi tiba-tiba memeluk Adiknya.

“Bodoh. Jangan pernah mencoba membohongi pembohong.” Kata Aldi sambil membelai rambut Adiknya.

“Nggak kok Kak… Bener… Ami…” Akhirnya Ami tak kuat lagi menahan tangisnya. Ia menangis kencang sekali sambil memeluk Aldi.

Saat ini Aldi tahu Ia hanya bisa menunggu sampai Ami berhenti menangis. Pikirannya berputar cepat. Dan sebuah ide gila terbesit dari hatinya.

No comments: