3
Sebuah Petunjuk
Aldi terengah-engah. Ia sampai ke daerah Dago yang ramai akan pengunjung. Di
“Aquanya satu Bu…” Kata Aldi pada Ibu penjaga warung tersebut.
“Aduh nak… Kotor sekali pakaianmu. Apa yang habis kamu lakukan?” Kata Ibu itu. Aldi agak kaget dengan alangkah bakunya bahasa yang dipakai oleh Ibu itu.
Aldi hanya diam saja.
“Aduh kasihan sekali… Sini Ibu obatin dulu… Duduklah dulu.” Ajak Ibu itu pada Aldi untuk duduk di tempat duduk yang berada di depan warungnya yang kecil itu. “Sepertinya kau ada masalah, Nak? Ceritakanlah pada Ibu.”
Aldi kembali hanya diam saja. Tetapi Aldi sempat merasakan kehangatan seorang Ibu pada saat melihat Ibu itu mulai membersihkan luka pada tangan Aldi.
“Ceritakanlah. Tak baik memendam masalah diri sendiri tanpa menceritakannya pada orang lain.” Kata Ibu itu sambil terus membersihkan luka Aldi. Anehnya, walaupun Aldi bersifat dingin, Ibu-Ibu yang berwajah cukup cantik untuk orang seumurannya ini tetap tersenyum hangat.
Aldi akhirnya memutuskan untuk bicara. “Ya… Ini semua ceritanya panjang sekali. Aku tak yakin Kau mau mendengarnya semua ini.”
“Ceritakanlah!”
“Dan mungkin Kau akan tertawa karena ini semua seperti cerita dalam novel-novel. Tapi ini benar-benar nyata.”
“Jangan ragu. Ibu pasti percaya.”
Aldi mulai menceritakan tentang semua hal. Dari awal hilangnya Ibunya, Malik yang mulai memusuhinya, cerita menyedihkan yang Ia lalui tiap harinya bersama Adiknya, dan juga mengapa Ia bisa sampai di sini dengan penampilan seperti ini.
***
Setengah jam berlalu. Akhirnya Aldi selesai menceritakan kisah hidupnya selama ini. Aldi heran mengapa Ia yang biasanya cool dan nggak banyak omong bisa bercerita lama seperti ini. Mungkin karena Ibu itu enak untuk diajak ngobrol. Ibu itu rupanya adalah seorang pendengar yang baik. Ia terkaget dan khawatir pada saat yang tepat.
“Jadi sekarang kau mau ke mana?” Tanya Ibu itu.
Aldi terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus ke mana.
“Tidak tahu mau ke mana ya?” Kata Ibu itu. Aldi terkaget. Apa Ibu itu bisa membaca pikiran orang?
Aldi mengangguk dan kembali terdiam. Pikirannya bekerja keras untuk menentukan ke mana tujuannya selanjutnya. Harus ke mana aku sekarang?!!
“Bingung ya? Aku tahu ke mana kau harus pergi, Nak Aldi.” Kata Ibu itu sekali lagi. Dan sekali lagi pikiran Aldi tertebak. Kali ini Aldi benar-benar kaget. Ini tak mungkin sebuah kebetulan. Aldi memutuskan untuk menanyakannya.
“Bu, apakah…”
“Kalau begitu pergilah ke daerah Dago atas.” Ibu itu memotong pertanyaan Aldi. “Jangan… Jangan sampai masuk ke goa Belandanya. Kau cukup ke
“Menunggu? Apa maksudmu?” Tanya Aldi heran.
“Sudahlah. Cepatlah ke
Aldi hanya terperangah. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ibu itu. “Apa maksudnya?”
“Baiklah. Sekarangkan jam 8 malam.” Kata Ibu itu sambil menunjukkan jam di warungnya. “ Tunggulah di tanah kosong dekat goa Belanda jam 10. Dan ingatlah, jangan bawa siapapun ke
Aldi sama-sekali tidak mengerti apa yang diomongkan Ibu tersebut. Tapi Ibu tersebut terus memaksa Aldi untuk pergi ke tempat itu. Aldi ingin menanyakan tentan hal ini lebih detail lagi. Belum pernah Ia merasa secerewet dan sepenasaran ini. “Bu… Apakah yang…”
“Cepatlah pergi nak. Di
Aldi pun tak ingin mengambil resiko. Ia langsung saja berterima kasih pada Ibu itu dan segera pergi dengan membawa seribu pertanyaan yang siap diajukan pada Ibu itu. Sayangnya, Aldi tidak bisa menanyakan kesemuanya itu.
***
Aldi memilih untuk menuruti perintah Ibu itu. Apapun resikonya.
Sepintas muncul rasa curiga dan kaget dibenak Aldi. “Apakah ini untuk menjebakku? Dan bagaimana bila sekarang jika Polisi-Polisi itu sedang menunggu untuk menangkapku di
***
Aldi turun di sebuah jalan yang dikitari rumah-rumah pemukiman penduduk yang masih agak renggang. Di
Aldi duduk di sebuah batu yang tanahnya dipenuhi rerumputan liar yang tak terawat.
Jam sudah menunjukkan 09.55. Belum ada yang terjadi. Aldi kembali menunggu. Suara jangkrik terdengar di mana-mana. Sesekali Aldi menggaruk kakinya. Sepertinya nyamuk di sini cukup ganas. Aldi mengalami bentol di beberapa tempat pada kakinya. Besar-besar lagi. Angin malam yang dingin terus-menerus menerpa Aldi. Aldipun merasa kedinginan dan mulai agak menggigil.
“Hei, lihat! Apa yang kita dapat malam ini.”
Terdengar suara dari arah Aldi datang. Begitu Aldi melihat, ternyata Malik bersama 2 anak buahnya. “Mau apa Kau di sini?!” Tanya Aldi ketus. Aldi menduga Ibu tadi adalah suruhan Malik yang disuruh untuk membawa Aldi kemari dan menyuruhnya menunggu untuk ditangkap Malik dan anak buahnya.
“Awalnya kami ingin menguji nyali kami dengan main malam-malam di Goa Belanda. Tapi sepertinya sekarang kami jadi ingin menangkap seorang buronan polisi.” Kata Malik sambil tertawa.
“Buronan?” Tanya Aldi. Hati Aldi mencelos. Apakah sudah separah itu dia dianggap? Tapi dengan kata-kata Malik barusan, tampaknya Ibu itu bukanlah utusan Malik. Tapi Aldi sekarang lebih memikirkan bagaimana nasibnya selanjutnya.
“Kau tidak tahu?” Kata Malik dengan
Aldi geram. “Anak manja sebaiknya tidak keluar malam-malam. Bagaimana jika dotmu diminum orang lain?” Aldi membalikkan badan dan berusaha kabur setelah melontarkan sebuah ejekan. Aldi tahu betul sifat Malik yang perasa dan mudah kena ejekan. Dan sepertinya ejekan itu berefek cukup memuaskan.
“Apa? Yang kau maksud Aku? Beraninya Kau!!! Aku bukan bayi. Kamu yang bayi!!! Tangkap mereka.” Kata Malik teriak-teriak histeris.
Aldi berlari menaiki bukit yang menuju pintu masuk goa. Aldi tahu betul di
Aldi sampai pada depan pintu goa. Berada di tempat yang tepat tetapi tidak pada waktu yang benar. Kedua anak buah Malik sudah ada tepat di belakang Aldi. Tetapi Aldi tidak pada dalam jarak jangkau tangan mereka. Nafas Aldi mulai terengah-engah. Staminanya cepat terkuras pada tempat yang terjal di sekitar sini. Aldi menghindari pohon yang ada di depannya. Sempat terpeleset sedikit yang membuat jaraknya dengan anak buah Malik bertambah dekat. Tapi Aldi yakin, staminanya tidak lebih parah dari kedua pengejarnya di belakang. Kalau Malik sih… sudah pasti kehabisan staminanya sejak tadi.
BUG!!!
Aldi jatuh terjerembab. Kakinya terjegal sebuah akar pohon yang menonjol di tanah. Aldi tidak sempat melihatnya.
“Ugh…” Aldi merintih kesakitan. Ia berusaha bangun kembali, tetapi anak buah Malik menarik kaki Aldi. Aldi terjatuh kembali. Kemudian salah satunya memukul perut Aldi. Otomatis rusuknya yang tadi sudah hampir sembuh sekarang sakit lagi. Sakitnya 2 kali lipat daripada tadi siang.Aldi langsung memegangi perutnya. Menahan sakit yang bukan main pada perut dan rusuknya.
“Masih sakit yang tadi siang, hah?!” Kata anak buah Malik sambil menendang lengan Aldi yang sedang memegangi perutnya.
“Kita patahkan saja kakinya supaya nanti dia nggak bisa kabur lagi.” Kata anak buah Malik yang satunya lagi.
“Ide bagus…” Kata yang satunya sambil tersenyum.
“Tunggu, aku ingin menghajarnya juga.” Malik berlari terengah-engah dari arah bawah goa.
“Biar kita patahkan saja kakinya yang satu bos… Biar dia nggak bisa kabur lagi nanti.” Kata anak buah Malik kepada Malik.
“Aku yang pegang perintah di sini!” Kata Malik dengan
“Berdiri Kau!!!!” Bentak anak buah Malik sambil memegangi kedua lengan Aldi dari belakang dan mengangkatnya. Sedangkan anak buah yang satunya lagi memegangi kaki kanannya dan meluruskannya.
“Kau tinggal sikut lututnya bos! Dan…” Kata anak buah Malik yang memegangi kaki Aldi.
“Pegang yang benar ya!” Kata Malik sambil mengambil ancang-ancang.
“Dasar pengecut!” Kata Aldi yang tampaknya seperti rintihan.
“Kalau kau mau memohon dan mencium sepatuku, kau akan kumaafkan dan tak perlu ada kaki yang patah.” Kata Malik.
“Tak akan!!!” Aldi meludah kepada Malik.
“Apa?! Ih, jijik!!!” Malik mulai histeris. “Beraninya!” Malik mulai memukuli badan Aldi yang dipegangi kedua tangannya. Tetapi pukulannya tidak begitu keras. Muka Malik seperti yang mau nangis.
“Sudah bos! Patahkan saja kakinya.” Kata anak buah Malik.
Malik menenangkan diri dan mulai memasang senyum kemenangan kembali. “Mati kau sekarang, brengsek!”
Aldi yang sudah lemah dan pusing sudah tidak kuat lagi untuk meronta. Ia menutup matanya dan pasrah. Hatinya kesal sekali karena sudah diperlakukan seperti ini, Ia hanya bisa diam dan menunggu dirinya disakiti.
“Pada hitungan ketiga, akan terjadi kejadian yang sangat hebat bagimu, Aldi!” Kata Malik. “Satu.” Malik mulai menghitung.
“Wah, pakai hitungan segala. Lama bos!” Kata anak buah Malik.
“Diam! Aku yang pegang perintah di sini.” Malik marah. “Dua.”
“Maaf bos.” Kata anak buah Malik.
Aldi kesal karena hanya bisa menunggu kakinya dipatahkan dan harus menanggung rasa malu dan kesal di hatinya. Sepertinya ini akan jadi akhir dari pelariannya. Tapi apakah benar?
“Tiga…” Kata Malik sambil tertawa mengakhiri hitungannya. Tetapi saat Ia mengambil ancang-ancang, angin kencang bertiup seakan ada sebuah helikopter yang siap mendarat dari atas mereka.
Aldi yang sudah menutup matanya memberanikan diri membuka matanya karena penasaran mengapa Ia belum diapa-apakan dan karena penasaran dengan sumber angin kencang yang datang tiba-tiba ini.
Saat Aldi melihat ke atas, terlintas sesosok besar bayangan hitam besar sepanjang satu setengah kali mobil sedan. Hanya saja benda ini bersayap. Setelah benda itu memutar sekali, Ia mendarat setidaknya 4 meter dari mereka berempat. Saat dilihat dengan seksama, ternyata Ia bukan sebuah benda mati ataupun kendaraan bermotor semacam helikopter. Tetapi mirip dengan seekor binatang yang ada di buku-buku dongeng. Seekor naga. Dengan badannya yang sepanjang satu setengah kali mobil sedan dan sebesar truk kontainer. Terdapat sepasang lengan yang kecil dan berjari 3 dengan kuku panjang dan tajam. Terdapat 4 sayap pada punggunnya. Ekornya yang hampir sepanjang 3,5 meter mengayun ke
“Lepaskan Dia!” Naga tersebut mengeluarkan suara yang ngebass dan menggelegar pada mereka.
Tetapi mereka berempat diam saja. Terkesima dengan apa yang mereka lihat dan karena saking tidak percayanya ada makhluk seperti ini.
“Kubilang lepaskan dia!!!” Kata naga itu sekali lagi dengan suara yang menggelegar karena merasa tidak digubris.
Anak buah Malik yang seakan baru sadar itu langsung saja melepaskan pegangannya dari tangan dan kaki Aldi. Nyaris melemparnya mungkin karena saking kagetnya. Malik yang sepertinya kaget sekali sekarang mengeluarkan suara isakan kecil yang mirip cicitan tikus. Ia langsung berlari ke belakang anak buahnya.
“Jangan ada yang bergerak!!!” Perintah naga itu. Malik langsung loncat kaget karena merasa dialah yang ditunjuk oleh naga itu. Dan Aldi berani bertaruh, sekarang Malik pasti sudah ngompol di celananya.
“Kau yang baju putih.” Kata naga itu.
Aldi merasa agak kaget.
“Iya, kau nak.” Kata naga tersebut dengan nada yang lebih halus dibandingkan saat Ia baru datang tadi.
Aldi berjalan menuju sang naga itu dengan langkah yang agak berat sambil memegangi rusuknya yang tampaknya terluka agak parah. Dan juga diiringi sedikit rasa takut. Siapa tahu naga itu tiba-tiba akan menerkamnya.
“Tenanglah. Aku di sini untukmu… Kenapa rusukmu?” Kata naga itu terkaget melihat Aldi memegangi rusuknya. Anak buah Malik dan Malik langsung kaget takut naga itu marah. Dan benar saja naga itu langsung melihat ke arah mereka. “Pasti ini ulah merekakan, Nak?” Naga itu menaruh ekornya tepat di hadapan Aldi dan Ia kemudian sedikit membungkuk. Naga itu langsung mengibaskan kempat sayapnya yang membuat angin yang sangat kuat. Aldi berpegangan pada ekor naga itu yang sepertinya juga dimaksudkan oleh naga itu untuk menjaga Aldi agar tidak terbang. Tidak seperti Malik dan kawan-kawannya. Mereka terhempas ke bawah bukit. Dan dalam sekejap sosok mereka bertiga hilang disertai teriakan mereka yang makin lama makin tidak terdengar.
“Ke mana mereka?” Tanya Aldi melihat mereka terhempas begitu saja. Dengan sedikit perasaan senang sih…
“Tenanglah. Hanya terhempas ke bawah. Paling 2 atau 3 patah tulang. Cukup untuk mereka.” Kata naga itu. “Mereka tak akan mati.”
“Padahal bunuh saja mereka. Aku tak keberatan.” Kata Aldi.
Naga itu tertawa. “Tidak… Aku tidak diijinkan membunuh. Baik di sini, ataupun di Bettalakron.”
Aldi mendelik. Ia baru saja mendengar nama tempat atau nama apalah yang asing dan belum pernah Ia dengar. “Maaf, apa yang kau sebut tadi?”
“Bettalakron. Dunia di mana fantasi yang kau inginkan bisa kau dapatkan. Dunia yang disanggah oleh empat ilmu utama manusia. Dunia yang mana akan kau akan kuajak ke
Aldi terkaget. Ia diajak oleh makhluk asing menuju tempat asing yang belum bahkan belum pernah Ia dengar sebelumnya. “Dunia? Bukan di Bumi?”
“Bumi? Tidak. Dunia ini berada jauh di
Pikiran Aldi bekerja keras. Ia tidak percaya dengan apa yang Ia dengar barusan. Dunia yang berada jauh dari Bumi? Apa naga ini gila? Tapi sepertinya Ia bisa buktikan kalau Ia serius. Tapi bila aku pergi, bagaimana dengan Ami?
“Lalu jika kau di sini terus, apakah tidak akan menyakiti hati adikmu juga? Kau akan terus jadi buronan dan jika tertangkap oleh… Lopisi?”
“Polisi…” Aldi membenarkan.
“Yah.. apalah itu. Dasar nama yang aneh. Dengan kau ditangkap oleh… Polisi. Benar? Apakah tidak akan menyakiti adikmu? Apakah adikmu tidak akan malu melihat kakaknya dimasukkan ke dalam penjara? Ia pasti akan jadi bahan cemoohan. Apa kau tega melihat adikmu menerima penderitaan seperti itu? Apapun yang kau lakukan, kau tak bisa lari untuk selamanya.”
Hati Aldi dipenuhi keragu-raguan. Di antara dua pilihan, yaitu tetap di sini untuk tetap lari dan menjadi buronan dan menjaga adiknya kalau bisa, atau mempercayai kata-kata naga ini untuk pergi ke dunia di mana Ia tak tahu dunia macam apa itu. “Maaf, aku… aku tak bisa memilih.”
“Cepatlah pilih. Aku tak bisa lama-lama di sini. Pasti kehadiranku cukup mencolok. Dan aku tak boleh sembarangan terlihat di sini. Bisa gempar nanti.”
Aldi tahu Ia harus cepat memilih.
“Bagaimana?” Tanya naga itu tidak sadar.
Aldi terdiam sebentar dan kemudian Ia melihat kepada naga tersebut. “Baiklah. Aku ikut kau.”
No comments:
Post a Comment