AdCoba

Sunday, 31 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 3

3

Sebuah Petunjuk

Aldi terengah-engah. Ia sampai ke daerah Dago yang ramai akan pengunjung. Di sana Ia yakin tidak akan ketemu oleh para Polisi yang mengejarnya itu. Merasa haus dan lelah, Aldi mendekati sebuah warung yang kebetulan berjualan di sekitar situ untuk membeli minum. Yang pasti, sekarang Aldi cukup menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang menarik. Baju seragam SMA yang kancingnya lepas satu dan ada sedikit noda darah di bagian dadanya. Noda yang bertebaran pada seragam Aldipun cukup membantu penampilannya untuk membuat orang disekitarnya risih.

“Aquanya satu Bu…” Kata Aldi pada Ibu penjaga warung tersebut.

“Aduh nak… Kotor sekali pakaianmu. Apa yang habis kamu lakukan?” Kata Ibu itu. Aldi agak kaget dengan alangkah bakunya bahasa yang dipakai oleh Ibu itu.

Aldi hanya diam saja.

“Aduh kasihan sekali… Sini Ibu obatin dulu… Duduklah dulu.” Ajak Ibu itu pada Aldi untuk duduk di tempat duduk yang berada di depan warungnya yang kecil itu. “Sepertinya kau ada masalah, Nak? Ceritakanlah pada Ibu.”

Aldi kembali hanya diam saja. Tetapi Aldi sempat merasakan kehangatan seorang Ibu pada saat melihat Ibu itu mulai membersihkan luka pada tangan Aldi.

“Ceritakanlah. Tak baik memendam masalah diri sendiri tanpa menceritakannya pada orang lain.” Kata Ibu itu sambil terus membersihkan luka Aldi. Anehnya, walaupun Aldi bersifat dingin, Ibu-Ibu yang berwajah cukup cantik untuk orang seumurannya ini tetap tersenyum hangat.

Aldi akhirnya memutuskan untuk bicara. “Ya… Ini semua ceritanya panjang sekali. Aku tak yakin Kau mau mendengarnya semua ini.”

“Ceritakanlah!”

“Dan mungkin Kau akan tertawa karena ini semua seperti cerita dalam novel-novel. Tapi ini benar-benar nyata.”

“Jangan ragu. Ibu pasti percaya.”

Aldi mulai menceritakan tentang semua hal. Dari awal hilangnya Ibunya, Malik yang mulai memusuhinya, cerita menyedihkan yang Ia lalui tiap harinya bersama Adiknya, dan juga mengapa Ia bisa sampai di sini dengan penampilan seperti ini.

***

Setengah jam berlalu. Akhirnya Aldi selesai menceritakan kisah hidupnya selama ini. Aldi heran mengapa Ia yang biasanya cool dan nggak banyak omong bisa bercerita lama seperti ini. Mungkin karena Ibu itu enak untuk diajak ngobrol. Ibu itu rupanya adalah seorang pendengar yang baik. Ia terkaget dan khawatir pada saat yang tepat.

“Jadi sekarang kau mau ke mana?” Tanya Ibu itu.

Aldi terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus ke mana.

“Tidak tahu mau ke mana ya?” Kata Ibu itu. Aldi terkaget. Apa Ibu itu bisa membaca pikiran orang?

Aldi mengangguk dan kembali terdiam. Pikirannya bekerja keras untuk menentukan ke mana tujuannya selanjutnya. Harus ke mana aku sekarang?!!

“Bingung ya? Aku tahu ke mana kau harus pergi, Nak Aldi.” Kata Ibu itu sekali lagi. Dan sekali lagi pikiran Aldi tertebak. Kali ini Aldi benar-benar kaget. Ini tak mungkin sebuah kebetulan. Aldi memutuskan untuk menanyakannya.

“Bu, apakah…”

“Kalau begitu pergilah ke daerah Dago atas.” Ibu itu memotong pertanyaan Aldi. “Jangan… Jangan sampai masuk ke goa Belandanya. Kau cukup ke sana dan menunggu.”

“Menunggu? Apa maksudmu?” Tanya Aldi heran.

“Sudahlah. Cepatlah ke sana mumpung masih gelap. Kala sudah terang aku tak jamin bisa.” Kata Ibu itu.

Aldi hanya terperangah. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ibu itu. “Apa maksudnya?”

“Baiklah. Sekarangkan jam 8 malam.” Kata Ibu itu sambil menunjukkan jam di warungnya. “ Tunggulah di tanah kosong dekat goa Belanda jam 10. Dan ingatlah, jangan bawa siapapun ke sana!”

Aldi sama-sekali tidak mengerti apa yang diomongkan Ibu tersebut. Tapi Ibu tersebut terus memaksa Aldi untuk pergi ke tempat itu. Aldi ingin menanyakan tentan hal ini lebih detail lagi. Belum pernah Ia merasa secerewet dan sepenasaran ini. “Bu… Apakah yang…”

“Cepatlah pergi nak. Di sana ada polisi yang sepertinya sedang patroli kemari.” Kata Ibu itu sambil menunjukkan 2 orang polisi yang sedang menuju ke arah mereka.

Aldi pun tak ingin mengambil resiko. Ia langsung saja berterima kasih pada Ibu itu dan segera pergi dengan membawa seribu pertanyaan yang siap diajukan pada Ibu itu. Sayangnya, Aldi tidak bisa menanyakan kesemuanya itu.

***

Aldi memilih untuk menuruti perintah Ibu itu. Apapun resikonya. Karena Ia sudah tidak memiliki tujuan lagi. Segera saja Ia menaiki kendaraan umum yang melintasi jalur dekat goa Belanda. Aldi melewati daerah Dago yang padat akan pengunjungnya. Sekali lagi di kendaraan umum yang dinaiki Aldi, Aldi menjadi pusat perhatian karena penampilannya. Tapi Aldi memilih untuk tidak mengacuhkan mereka dan berusaha memikirkan apa yang akan terjadi nanti.

Sepintas muncul rasa curiga dan kaget dibenak Aldi. “Apakah ini untuk menjebakku? Dan bagaimana bila sekarang jika Polisi-Polisi itu sedang menunggu untuk menangkapku di sana?” Aldi bertanya dalam hati. Dan berbagai pertanyaan yang tak kalah heboh dan bodohpun ikut bermunculan dalam benak Aldi. “Mungkin Ibu itu sebenarnya orang gila yang kebetulan kutemui. Ia membohongiku kemari, yang sebenarnya tidak akan terjadi apa-apa. Kalau begitu untuk apa kuturuti perintah Ibu itu?” Ada juga, “Di sanakan gelap. Siapa tahu Ibu itu paranormal yang mencoba memberi makan jinnya yang pemakan manusia dan aku sebagai umpannya? Dan bagaimana jika jinnya itu sudah menunggu di sana dan siap menerkamku?” Dan yang paling parah, “Atau mungkin seekor peri akan menjemputku dan membawaku ke negeri lain yang penuh dengan kedamaian.” Aldi tertawa dalam hati. Mana ada dunia seperti itu. Tapi semuanya bukan tidak mungkin terjadi… Semuanya mungkin saja… Mungkin saja.

***

Aldi turun di sebuah jalan yang dikitari rumah-rumah pemukiman penduduk yang masih agak renggang. Di sana Aldi menemukan jalan setapak yang kiranya menuju ke arah Goa Belanda. Aldi pernah sekali pergi ke Goa Belanda saat Ia masih di kelas 2 SMP. Jadi Ia masih sedikit-sedikit ingat jalan menuju Goa Belanda. Setelah agak lama berjalan, Ia sampai di sebuah tempat di mana terdapat sebuah goa yang terlihat cukup angker yang terlihat dari luar. Aldi pernah masuk sebentar ke sana. Ada beberapa ruangan yang bekas dijadikan penjara, tempat penyimpanan senjata, dan ruang penyiksaan. Goa tersebut di bangun oleh pasukan Belanda untuk bersembunyi, bergerilya dan menahan atau bahkan menyiksa, membunuh dan menyembunyikan mayat para orang-orang yang berani melawan penjajahan mereka di Indonesia. Berhubung Ibu itu berkata, “Jangan masuk ke goanya.” Jadi Aldi kembali lagi menuju tanah kosong di sekitar goa tersebut. Disertai dengan hembusan nafas lega karena tidak usah menghadapi kengerian goa tersebut sendirian di malam yang gelap ini.

Aldi duduk di sebuah batu yang tanahnya dipenuhi rerumputan liar yang tak terawat. Kemudian Ia melihat jam pada jam tangannya. Jam saat ini menunjukkan pukul 09.47. Sekitar seperempat jam lagi, sesuatu yang dimaksudkan oleh Ibu itu akan datang atau terjadi. Karena Aldi sama sekali tidak tahu dan tidak ada gambaran tentang apa yang akan Ia hadapi pada jam 10. Polisi yang dikira Aldi akan menunggu di sini bila ini sebuah jebakanpun tidak ada di sekitar sini.

Jam sudah menunjukkan 09.55. Belum ada yang terjadi. Aldi kembali menunggu. Suara jangkrik terdengar di mana-mana. Sesekali Aldi menggaruk kakinya. Sepertinya nyamuk di sini cukup ganas. Aldi mengalami bentol di beberapa tempat pada kakinya. Besar-besar lagi. Angin malam yang dingin terus-menerus menerpa Aldi. Aldipun merasa kedinginan dan mulai agak menggigil. Mana Ia tidak punya jaket lagi. Beberapa saat dilalui Aldi sambil mengingat-ingat Ami, Adiknya. Tak terpikir bagaimana Ayahnya akan memperlakukannya saat Ia tak ada. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Toh setelah ini Aldi berencana akan menuju rumahnya hanya untuk melihat situasinya. Dan bertemu Adiknya kalau bisa.

“Hei, lihat! Apa yang kita dapat malam ini.”

Terdengar suara dari arah Aldi datang. Begitu Aldi melihat, ternyata Malik bersama 2 anak buahnya. “Mau apa Kau di sini?!” Tanya Aldi ketus. Aldi menduga Ibu tadi adalah suruhan Malik yang disuruh untuk membawa Aldi kemari dan menyuruhnya menunggu untuk ditangkap Malik dan anak buahnya.

“Awalnya kami ingin menguji nyali kami dengan main malam-malam di Goa Belanda. Tapi sepertinya sekarang kami jadi ingin menangkap seorang buronan polisi.” Kata Malik sambil tertawa.

“Buronan?” Tanya Aldi. Hati Aldi mencelos. Apakah sudah separah itu dia dianggap? Tapi dengan kata-kata Malik barusan, tampaknya Ibu itu bukanlah utusan Malik. Tapi Aldi sekarang lebih memikirkan bagaimana nasibnya selanjutnya.

“Kau tidak tahu?” Kata Malik dengan gaya sok jago yang dibuat-buatnya. “Penduduk Bandung sedang digegerkan karena adanya seorang remaja yang lari dari sebuah tuduhan kekerasan dalam rumah tangganya. Sekarang berdoalah dan serahkan dirimu pada kami. Dengan begitu Kau takkan digiring ke kantor polisi dengan tubuh babak belur.”

Aldi geram. “Anak manja sebaiknya tidak keluar malam-malam. Bagaimana jika dotmu diminum orang lain?” Aldi membalikkan badan dan berusaha kabur setelah melontarkan sebuah ejekan. Aldi tahu betul sifat Malik yang perasa dan mudah kena ejekan. Dan sepertinya ejekan itu berefek cukup memuaskan.

“Apa? Yang kau maksud Aku? Beraninya Kau!!! Aku bukan bayi. Kamu yang bayi!!! Tangkap mereka.” Kata Malik teriak-teriak histeris.

Aldi berlari menaiki bukit yang menuju pintu masuk goa. Aldi tahu betul di sana banyak tempat persembunyian. Karena di sana banyak terdapat pohon-pohon besar dan tebing-tebing yang menutupi pinggir-pinggir goa tersebut.

Aldi sampai pada depan pintu goa. Berada di tempat yang tepat tetapi tidak pada waktu yang benar. Kedua anak buah Malik sudah ada tepat di belakang Aldi. Tetapi Aldi tidak pada dalam jarak jangkau tangan mereka. Nafas Aldi mulai terengah-engah. Staminanya cepat terkuras pada tempat yang terjal di sekitar sini. Aldi menghindari pohon yang ada di depannya. Sempat terpeleset sedikit yang membuat jaraknya dengan anak buah Malik bertambah dekat. Tapi Aldi yakin, staminanya tidak lebih parah dari kedua pengejarnya di belakang. Kalau Malik sih… sudah pasti kehabisan staminanya sejak tadi.

BUG!!!

Aldi jatuh terjerembab. Kakinya terjegal sebuah akar pohon yang menonjol di tanah. Aldi tidak sempat melihatnya. Sekarang Ia terbanting ke tanah dengan posisi telungkup. Tangan kirinya berusaha menahan laju jatuhnya.

“Ugh…” Aldi merintih kesakitan. Ia berusaha bangun kembali, tetapi anak buah Malik menarik kaki Aldi. Aldi terjatuh kembali. Kemudian salah satunya memukul perut Aldi. Otomatis rusuknya yang tadi sudah hampir sembuh sekarang sakit lagi. Sakitnya 2 kali lipat daripada tadi siang.Aldi langsung memegangi perutnya. Menahan sakit yang bukan main pada perut dan rusuknya.

“Masih sakit yang tadi siang, hah?!” Kata anak buah Malik sambil menendang lengan Aldi yang sedang memegangi perutnya.

“Kita patahkan saja kakinya supaya nanti dia nggak bisa kabur lagi.” Kata anak buah Malik yang satunya lagi.

“Ide bagus…” Kata yang satunya sambil tersenyum.

“Tunggu, aku ingin menghajarnya juga.” Malik berlari terengah-engah dari arah bawah goa.

“Biar kita patahkan saja kakinya yang satu bos… Biar dia nggak bisa kabur lagi nanti.” Kata anak buah Malik kepada Malik.

“Aku yang pegang perintah di sini!” Kata Malik dengan gaya sok. “Tapi aku suka idemu. Mari kita lakukan!”

“Berdiri Kau!!!!” Bentak anak buah Malik sambil memegangi kedua lengan Aldi dari belakang dan mengangkatnya. Sedangkan anak buah yang satunya lagi memegangi kaki kanannya dan meluruskannya.

“Kau tinggal sikut lututnya bos! Dan…” Kata anak buah Malik yang memegangi kaki Aldi.

“Pegang yang benar ya!” Kata Malik sambil mengambil ancang-ancang.

“Dasar pengecut!” Kata Aldi yang tampaknya seperti rintihan.

“Kalau kau mau memohon dan mencium sepatuku, kau akan kumaafkan dan tak perlu ada kaki yang patah.” Kata Malik.

“Tak akan!!!” Aldi meludah kepada Malik.

“Apa?! Ih, jijik!!!” Malik mulai histeris. “Beraninya!” Malik mulai memukuli badan Aldi yang dipegangi kedua tangannya. Tetapi pukulannya tidak begitu keras. Muka Malik seperti yang mau nangis.

“Sudah bos! Patahkan saja kakinya.” Kata anak buah Malik.

Malik menenangkan diri dan mulai memasang senyum kemenangan kembali. “Mati kau sekarang, brengsek!”

Aldi yang sudah lemah dan pusing sudah tidak kuat lagi untuk meronta. Ia menutup matanya dan pasrah. Hatinya kesal sekali karena sudah diperlakukan seperti ini, Ia hanya bisa diam dan menunggu dirinya disakiti.

“Pada hitungan ketiga, akan terjadi kejadian yang sangat hebat bagimu, Aldi!” Kata Malik. “Satu.” Malik mulai menghitung.

“Wah, pakai hitungan segala. Lama bos!” Kata anak buah Malik.

“Diam! Aku yang pegang perintah di sini.” Malik marah. “Dua.”

“Maaf bos.” Kata anak buah Malik.

Aldi kesal karena hanya bisa menunggu kakinya dipatahkan dan harus menanggung rasa malu dan kesal di hatinya. Sepertinya ini akan jadi akhir dari pelariannya. Tapi apakah benar?

“Tiga…” Kata Malik sambil tertawa mengakhiri hitungannya. Tetapi saat Ia mengambil ancang-ancang, angin kencang bertiup seakan ada sebuah helikopter yang siap mendarat dari atas mereka.

Aldi yang sudah menutup matanya memberanikan diri membuka matanya karena penasaran mengapa Ia belum diapa-apakan dan karena penasaran dengan sumber angin kencang yang datang tiba-tiba ini. Saat Ia melihat Malik dan anak buahnya, mereka sedang mangap lebar sekali melihat langit.

Saat Aldi melihat ke atas, terlintas sesosok besar bayangan hitam besar sepanjang satu setengah kali mobil sedan. Hanya saja benda ini bersayap. Setelah benda itu memutar sekali, Ia mendarat setidaknya 4 meter dari mereka berempat. Saat dilihat dengan seksama, ternyata Ia bukan sebuah benda mati ataupun kendaraan bermotor semacam helikopter. Tetapi mirip dengan seekor binatang yang ada di buku-buku dongeng. Seekor naga. Dengan badannya yang sepanjang satu setengah kali mobil sedan dan sebesar truk kontainer. Terdapat sepasang lengan yang kecil dan berjari 3 dengan kuku panjang dan tajam. Terdapat 4 sayap pada punggunnya. Ekornya yang hampir sepanjang 3,5 meter mengayun ke sana kemari mengibaskan tanah di sekitarnya. Dua buah taring pada mulutnya menyeringai lebar. Di atasnya terdapat dua buah lubang hidungnya yang besar. Matanya bersinar seperti mata kucing dalam kegelapan.

“Lepaskan Dia!” Naga tersebut mengeluarkan suara yang ngebass dan menggelegar pada mereka.

Tetapi mereka berempat diam saja. Terkesima dengan apa yang mereka lihat dan karena saking tidak percayanya ada makhluk seperti ini.

“Kubilang lepaskan dia!!!” Kata naga itu sekali lagi dengan suara yang menggelegar karena merasa tidak digubris.

Anak buah Malik yang seakan baru sadar itu langsung saja melepaskan pegangannya dari tangan dan kaki Aldi. Nyaris melemparnya mungkin karena saking kagetnya. Malik yang sepertinya kaget sekali sekarang mengeluarkan suara isakan kecil yang mirip cicitan tikus. Ia langsung berlari ke belakang anak buahnya.

“Jangan ada yang bergerak!!!” Perintah naga itu. Malik langsung loncat kaget karena merasa dialah yang ditunjuk oleh naga itu. Dan Aldi berani bertaruh, sekarang Malik pasti sudah ngompol di celananya.

“Kau yang baju putih.” Kata naga itu.

Aldi merasa agak kaget. Hanya Ia yang memakai seragam sekolah yang berbaju putih. Aldi menunjuk dirinya sendiri dengan maksud bertanya kepada naga tersebut bahwa dialah yang dipanggil. Tapi Ia takut naga itu tidak mengerti.

“Iya, kau nak.” Kata naga tersebut dengan nada yang lebih halus dibandingkan saat Ia baru datang tadi.

Aldi berjalan menuju sang naga itu dengan langkah yang agak berat sambil memegangi rusuknya yang tampaknya terluka agak parah. Dan juga diiringi sedikit rasa takut. Siapa tahu naga itu tiba-tiba akan menerkamnya.

“Tenanglah. Aku di sini untukmu… Kenapa rusukmu?” Kata naga itu terkaget melihat Aldi memegangi rusuknya. Anak buah Malik dan Malik langsung kaget takut naga itu marah. Dan benar saja naga itu langsung melihat ke arah mereka. “Pasti ini ulah merekakan, Nak?” Naga itu menaruh ekornya tepat di hadapan Aldi dan Ia kemudian sedikit membungkuk. Naga itu langsung mengibaskan kempat sayapnya yang membuat angin yang sangat kuat. Aldi berpegangan pada ekor naga itu yang sepertinya juga dimaksudkan oleh naga itu untuk menjaga Aldi agar tidak terbang. Tidak seperti Malik dan kawan-kawannya. Mereka terhempas ke bawah bukit. Dan dalam sekejap sosok mereka bertiga hilang disertai teriakan mereka yang makin lama makin tidak terdengar.

“Ke mana mereka?” Tanya Aldi melihat mereka terhempas begitu saja. Dengan sedikit perasaan senang sih…

“Tenanglah. Hanya terhempas ke bawah. Paling 2 atau 3 patah tulang. Cukup untuk mereka.” Kata naga itu. “Mereka tak akan mati.”

“Padahal bunuh saja mereka. Aku tak keberatan.” Kata Aldi.

Naga itu tertawa. “Tidak… Aku tidak diijinkan membunuh. Baik di sini, ataupun di Bettalakron.”

Aldi mendelik. Ia baru saja mendengar nama tempat atau nama apalah yang asing dan belum pernah Ia dengar. “Maaf, apa yang kau sebut tadi?”

“Bettalakron. Dunia di mana fantasi yang kau inginkan bisa kau dapatkan. Dunia yang disanggah oleh empat ilmu utama manusia. Dunia yang mana akan kau akan kuajak ke sana.”

Aldi terkaget. Ia diajak oleh makhluk asing menuju tempat asing yang belum bahkan belum pernah Ia dengar sebelumnya. “Dunia? Bukan di Bumi?”

“Bumi? Tidak. Dunia ini berada jauh di sana. Dan dunia ini nyaris belum diketahui oleh orang-orang Bumi. Dan kalau tidak salah hitung, kau adalah orang keempat dari Bumi yang akan tahu dunia kami. Itupun kalau kau setuju ikut denganku.”

Pikiran Aldi bekerja keras. Ia tidak percaya dengan apa yang Ia dengar barusan. Dunia yang berada jauh dari Bumi? Apa naga ini gila? Tapi sepertinya Ia bisa buktikan kalau Ia serius. Tapi bila aku pergi, bagaimana dengan Ami? Apakah Ia akan pergi begitu saja ke tempat yang Ia tidak tahu seperti apa dan meninggalkan Ami begitu saja. “Sebenarnya aku ingin pergi. Tapi bagaimana dengan adikku? Aku takut Ia disakiti oleh Ayahku.”

“Lalu jika kau di sini terus, apakah tidak akan menyakiti hati adikmu juga? Kau akan terus jadi buronan dan jika tertangkap oleh… Lopisi?”

“Polisi…” Aldi membenarkan.

“Yah.. apalah itu. Dasar nama yang aneh. Dengan kau ditangkap oleh… Polisi. Benar? Apakah tidak akan menyakiti adikmu? Apakah adikmu tidak akan malu melihat kakaknya dimasukkan ke dalam penjara? Ia pasti akan jadi bahan cemoohan. Apa kau tega melihat adikmu menerima penderitaan seperti itu? Apapun yang kau lakukan, kau tak bisa lari untuk selamanya.”

Hati Aldi dipenuhi keragu-raguan. Di antara dua pilihan, yaitu tetap di sini untuk tetap lari dan menjadi buronan dan menjaga adiknya kalau bisa, atau mempercayai kata-kata naga ini untuk pergi ke dunia di mana Ia tak tahu dunia macam apa itu. “Maaf, aku… aku tak bisa memilih.”

“Cepatlah pilih. Aku tak bisa lama-lama di sini. Pasti kehadiranku cukup mencolok. Dan aku tak boleh sembarangan terlihat di sini. Bisa gempar nanti.”

Aldi tahu Ia harus cepat memilih. Bisa Ia bayangkan jika ada orang yang melihat naga ada di tempat seperti ini. Ia harus berpikir cepat dan memilih. Ia ingin ikut naga ini ke dunia di mana baru ada 4 orang Bumi yang ke sana. Tapi Ia juga tidak bisa meninggalkan adiknya di sini bersama ayahnya.

“Bagaimana?” Tanya naga itu tidak sadar.

Aldi terdiam sebentar dan kemudian Ia melihat kepada naga tersebut. “Baiklah. Aku ikut kau.”

No comments: