AdCoba

Sunday, 31 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 8

8

Kota Dagang Hagleit

Sepajang pinggiran jalan, yang ada hanyalah toko-toko yang menjual barang yang Aldi tahu maupun yang Aldi tidak tahu. Ada toko hewan yang menjual hewan seperti monyet yang memiliki ekor 3. ada juga toko yang di etalasenya memajang berbagai macam baju zirah dan peralatan perang. Tapi ada juga toko yang seperti kafe. Memiliki halaman yang luas dan menyediakan tempat duduk yang mengitari meja bulat yang terdapat di bawah sebuah payung jerami.

Jalanan yang cukup riuh seperti ini membuat langkah Aldi agak terlambat. Ia nyaris kehilangan Asgard. Untung saja Asgard menariknya dan kembali menuntunnya. Ia membayangkan bagaimana jika harus setiap hari berbelanja kemari. Pasti akan capek sekali.

Mereka berdua akhirnya tiba di jalan yang tidak begitu penuh. Asgard berhenti sebentar dan mengambil nafas. Tampaknya ia sama capeknya dengan Aldi.

“Wew. Ketahuilah Aldi, daerah tadi adalah daerah yang paling ramai di sini. Tapi kalau mau belanja, aku tahu tempat yang murah dan gak penuh kayak gitu.” Kata Asgard sembari menarik nafasnya dalam-dalam.

“Kita mau beli apa saja sih?” Tanya Aldi yang penasaran dengan peralatan apa saja yang akan dan harus ia miliki.

“Yah... cukup banyak sih. Mantel Petualang, pisau latihan, sepatu gunung, seragam kelas Bayangan Fairren, yang untuk latihan dan yang formal. Dan juga beberapa buku pelajaran.” Asgard mendiktekannya satu-persatu daftar barang yang dibutuhkan Aldi. “Yuk ah... kita jalan lagi.”

“Ke mana?”

“Akan kuberitahu tempat langgananku. Di sana harga jauh lebih murah dan bagus. Juga kenalan-kenalanku yang lain.”

***

Mereka berdua sampai pada sebuah toko yang kesannya gelap dan kuno. Terdapat papan nama bertuliskan “Labu Romawi” di atas toko tersebut yang sudah miring dan kusam. Di etalasenya terdapat beberapa pajangan pakaian perang yang sudah berdebu. Kaca etalasenya pun tampak sudah lama tidak dibersihkan.

“Ayo masuk.” Ajak Asgard.

Mereka sampai pada sebuah ruangan gelap panjang dan sebuah meja kasir berdiri di depan mereka. Seorang orang tua berambut putih dan berkumis lebat berdiri di belakang meja kasir. Di belakangnya terdapat banyak sekai lemari-lemari yang terdiri dari berbagai macam ukuran. Dari yang seukuran gelas sampai yang berukuran telivisi 27 inci.

“Halo sobat.” Sapa Asgard.

Orang tua tersebut melirik Asgard. “Sopanlah sedikit pada orang tua. Dan siapa yang kau maksud sobat? Aku rasa aku belum mengenalmu?”

Aldi tertawa kecil. Inilah yang Asgard sebut sebagai “Kenalan.”

“Haha... kau belum berubah. Pura-pura lupa pada diriku. Aku ingin memesankan anak ini sebuah pisau untuk kelas Bayangan.”

Orang tua tersebut langsung diam dan menatap Aldi. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya yang berada di belakang meja dan segera menuju ke arah Aldi berdiri. Ia mengitari Aldi sambil terus menatap Aldi. Walaupun merasa aneh tapi Aldi sekarang hanya bisa diam.

“Bagaimana?” Tanya Asgard.

Tetapi orang tua itu tak menggubris Asgard. Ia masih terus menatap Aldi. Sesekali pada wajahnya dan sesekali pada tubuhnya.

“Apa sudah selesai?” Tanya Asgard lagi.

Orang tua itu tetap tak menggubrisnya dan terus melanjutkan pekerjaan anehnya.

“Sudah belum? Gak sabar nih...” Tanya Asgard yang tampaknya tak kuat menunggu lama-lama.

“BERISIK!!! Kau tak lihat aku sedang konsentraasi?!!!” Kata orang tua itu.

“Maaf... kupikir... ya sudah. Tolong lanjutkan.” Kata Asgard.

“Huh, sudah selesai dari tadi.” Kata orang tua itu. Asgard mengernyit. “Kau pikir kau akan menjadi apa, anak muda?”

Dahi Aldi mengernyit. Tak mengerti pertanyaan yang orang tua itu lemparkan. “Maaf?”

“Kelas. Kelas... Kau pikir kau akan menjadi orang di kelas apa?” Orang tua itu mengulang pertanyaan pada Aldi.

“Kupikir kelas Penyihir.”

Orang tua itu diam sejenak. “Penyihir ya? Cocok juga. Tapi si “Suara Gaib” memilihmu untuk masuk kelas Bayangan?”

“Dari mana kau tahu?” Tanya Asgard.

“Kan tadi kau bilang memesan pisau untuk kelas Bayangan?” Muka Asgard memerah. “Payah kau Asgard. Latihlah pikiranmu lagi.” Tiba-tiba orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh. Aldi merinding. “Kau memiliki perawakan yang amat cocok untuk Bayangan. Aku jamin kau bisa menjadi Bayangan yang baik.”

Orang tua itu kembali menuju belakang meja kasir dan membuka beberapa lemari. Isi lemari yang ia buka adalah kardus-kardus berwarna coklat dan bungkusan dari kulit binatang. Kemudian ia mengeluarkan beberapa pisau. Kemudian ia membawanya ke depan meja kasir dan menaruhnya di situ.

“Coalah satu-satu.” Perintahnya.

Aldi memulai dari pisau yang paling kanan. Sebilah pisau dua mata yang mengkilat dan pagangannya berwarna kuning keemasan berukiran naga pada pembatasnya. Lalu mencoba yang di sebelahnya. Yaitu pisau berwarna merah bermata satu yang terdapat pelindung pegangannya. Walaupun mencoba-coba, Aldi tidak tahu pisau bagaimana yang bagus. Ia merasa seperti seorang tukang sayur yang diberi pertanyaan Mana pistol yang paling bagus menurutmu?

“Bagaimana Asgard?” Tanya Aldi yang kebingungan.

“Pilihlah salasatu. Yang paling enak tentu. Aku gak bisa membantumu dalam hal ini.” Kata Asgard sambil mengangkat bahu. “Semua pedang dan pisau yang ia buat memiliki nyawa. Pedang dan pisau itu pasti memberi respon pada orang

Aldi terus mencoba mengangkat dan mengayunkan pisau-pisau yang ia coba. Sudah sekitar 5 menit waktu ia habiskan untuk melakukan hal ini. Orang tua itu sudah bolak-balik 3 kali untuk mengambilkan jenis-jenis pisau yang lain tetapi tetap tidak ada hasilnya. Tadinya Aldi berpikir orang tua itu akan marah. Ternyata tidak. Malah ia semakin bersemangat.

Aldi sendiri heran. Pisau dan pedang yang dari tadi ia coba nyaris tidak seperti yang dikatakan Asgard. Bernyawa. Bagi Aldi, pisau tersebut sama dengan pisau yang biasa ia gunakan untuk masak di restoran Bu Latifah. Dingin dan tajam. Aldi tidak merasakan hal-hal spesial dalam pisau itu. Apalagi tahu bahwa pisau dan pedang itu bernyawa.

Kemudian Aldi melihat sebilah pisau bermata satu yang matanya begitu mengkilap dan halus. Peganganya berwarna biru muda dan pembatasnya berukirkan

Muka serigala. Aldi mencoba mengangkatnya. Perasaan Aldi terus tertuju pada pedang tersebut walaupun Aldi mencoba untuk memikirkan yang lain. Entah kenapa, pisau itu amat menarik perhatiannya.

“Ho... Tertarik dengan yang satu itu?” Tanya orang tua itu.

“Eh... Iya... mungkin.” Aldi kaget. Orang tua itu tahu Aldi merasa paling tertarik dengan pisau ini daripada pisau yang lainnya.

“Kau yakin mau yang itu?” Tanya Asgard.

Aldi mengangguk.

“Kuambil yang ini. Berapa?” Tanya Asgard pada orang tua itu.

“Pedang kecil Limbervaust, 1500 Flik. Tidak bisa kurang.”

“Apa? Mahal tuh. Kurangin ya.”

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. “Kau tahukan, kalau harga denganmu sudah paling murah.”

Asgard tersenyum dan mengalah. Ia mengeluarkan dua keping uang logam berwarna kuning keemasan dan 5 keping uang logam berwarna putih dan sebuah uang tabung berwarna kuning.

“Terimakasih banyak.” Kata orang tua itu. Aldi dan Asgard langsung pergi meninggalkan toko tersebut. Aldi menenteng pisau itu dengan perasaan sedikit bangga. Ia sebentar lagi akan bersekolah tidak dengan pensil ataupun bolpoin. Tetapi pisau.

“Boleh kulihat pisaunya?” Tanya Asgard.

“Tentu.” Aldi memberikan pisau tersebut pada Asgard.

“Berat gini. Kau gak salah milih?” Tanya Asgard lagi sambil mencoba mengayunkan pisau tersebut.

“Bagiku ringan. Masa yang seperti itu berat?” Aldi terheran. Ia sedikit kecewa. Mungkinkah ia salah memilih pisau.

“Hehe...” Asgard tertawa kecil. “Jangan begitu, Aldi. Kau tahu, pisau dan seluruh senjata yang beada di toko tadi, semuanya memiliki nyawa. Senjata yang kakek itu buat adalah spesial. Malahan terkadang ada beberapa senjata yang masih ada di toko tersebut selama 100 tahun karena pemilik yang seharusnya belum juga datang.”

Aldi sedikit terhibur. Ia menerima kembali pisau dari Asgard. Ia kembali mencoba mengayunkannya. Perasaannya masih tetap sama. Pisau tersebut masih sama ringan dan membuat ia kembali bersemangat.

“Hehehe kau tahu berapa harga pisau itu kalau di toko lain?” Tanya Asgard.

“Tidak”

“Paling murah 5000 Flik. Di toko itu adalah kenalanku. Ia paling handal dalam mengenali seluk-beluk orang yang memesan senjata padanya. Orang yang pintar sekali.”

“Lalu kenapa tokonya kosong?”

“Ya... tak begitu kelihatan. Lagipula banyak yang menganggapnya orang gila.” Benar sekali. Orang tua tersebut jika tidak bersama Asgardpun Aldi pasti akan beranggapan seperti itu. Tapi ia rela bolak-balik untuk seorang pelanggan. Apakah itu adalah tingkah laku yang biasa orang gila tunjukkan?

Aldi dan Asgard berjalan menyelusupi gang-gang kecil yang terdapat di kota itu. Tampaknya Asgard hafal betul di mana saja letak-letak toko-toko tersembunyi yang murah. Saat berada di belokan kecil di gang tersebut...

BRAK...

Aldi bertabrakan dengan seseorang. Saat Aldi melihat mukanya, ternyata seorang laki-laki muda berambut pirang yang memiliki paras muka dingin dan kelihatannya cukup tampan. Saat Aldi ingin berdiri dan minta maaf, remaja itu berdiri lebih dulu dan langsung memakai kerudung dari mantelnya dan menutupi kembali mukanya. Kemudian Ia langsung bergegas berlari lagi.

“Wow... hebat betul dia. Habis nabrak langsung pergi. Dia pikir ini jalannya?” Kata Asgard menggeram.

Aldi melihat ke arah ke mana remaja itu pergi. Dalam sekejap ia sudah menghilang di balik gang tersebut. Aldi hanya mengangkat bahunya dan kembali mengikuti Asgard berjalan.

Setelah 4 menit berjalan menyusuri gang, mereka berdua sudah melupakan kejadian di gang tadi dan mulai bercerita-cerita lagi. 10 menitpun berlalu dan mereka sudah sampai di toko kedua untuk membeli buku-buku pelajaran Aldi. Nama toko tersebut adalah “Cahaya Sublim”.

Aldi dan Asgard membeli 3 buah buku. Yang satu amat tebal. Judulnya “Kelas Bayangan bersama Nasilia Poff”. Dua buku yang lainnya tidak begitu tebal. Yaitu “Bayangan sebagai Hidup Manusia oleh Natya Uja” dan “1001 Tanaman Bettalakron oleh Flamker Poltrei”.

Aldi mencoba membuka-buka buku yang baru saja ia beli. Pertama ia membuka 1001 Tanaman Bettalakron oleh Flamker Poltrei. Isinya tak begitu rumit. Buku ini menjelaskan berbagai macam tanaman yang ada di Bettalakron. Ada tanaman penghasil madu, tanaman bersayap dan bahkan tanaman yang mirip manusia dan suka berjalan ke sana kemari. Saat Aldi mau membuka buku keduanya, Asgard sudah memberitahukannya bahwa mereka sudah sampai di toko ke 3, yaitu toko sepatu.

***

Kurang lebih hampir 3 jam Aldi dan Asgard berputar-putar di kota Hagleit mencari-cari perlengkapan untuk Aldi. Asgard sempat merasa dompetnya akan dicopet. Tanpa melihat ke belakang dulu, ia langsung menononjok orang di belakangnya yang ternyata adalah seekor naga bersayap 2 yang tangannya menempel-nempel di kantong Asgard. Naga itu langsung menggigit tangan Asgard dan membuat luka yang tak kalah parah saat Aldi digigit Flappy.

Setelah mengobati lengan Asgard sambil duduk di kafe terdekat, mereka berdua menunggu kereta naga yang kembali menuju Wimblam di halte pemberhentian kereta naga di pinggir kota Hagleit. Sambil menunggu, mereka berdua asik mengobrol tentang naga. Asgard sedang membangga-banggakan naga-naganya yang keturunan naga Emdoria bersayap dua yang terkenal memiliki racun ditaring yang tak kalah kuat dengan jenis naga Timma Merah bersayap dua. Sedangkan Aldi terus bertanya-tanya jenis-jenis naga apa saja yang cocok dipakai untuk balapan.

Dalam perjalanan pulang, Aldi sekarang yang tertidur. Ia sudah tak mampu lagi menikmati pemandangan di sekitarnya. Matanya sudah sangat berat untuk tetap di buka. Asgard sekarang yang ganti jaga. Asgard yang tak kalah ngantuk dari Aldi berusaha terjaga dengan menampari pipinya. Beberapa orang di sekitarnya memilih untuk mengambil jarak aman sebelum Asgard berpikir hal yang lebih aneh dan membahayakan lagi untuk tetap terjaga selain menampari pipinya sendiri sampai semerah mantel pasukan Fleim.

Akhirnya kereta naga itu meluncur turun di pinggiran hutan Pinus Hijau di pinggir sungai dekat rumah Asgard. Aldi dan Asgard bergegas turu. Aldi agak kesusahan untuk turun. Barang bawaan hasil belanjanya terhitung cukup banyak. Ia membawanya dengan di bungkus karung semacam karung goni. Asgard menawarinya untuk membawakan karung tersebut tetapi Aldi tolak.

Sesampainya di dalam rumah Asgard, Asgard langsung menyiapkan makan untuk Flappy, Ferty, Flarty dan mereka berdua. Aldi langsung ambruk di kursi panjang milik Asgard yang di letakkan di sudut ruangan. Kakinya serasa pegal sekali walaupun ia tadi sudah tidur di kereta naga.

“Payah kau. Nanti latihan kelas Bayangan lebih berat lagi.” Kata Asgard.

Aldi menelan ludahnya. “Seperti apa contohnya?”

“Memanjat tebing, memanjat pohon, menyebrangi sungai berarus deras... yah... segitu yang aku dengar sih. Beberapa ada yang lebih parah. Cuma gak akan aku kasih tahu sekarang. Nanti kamu takut duluan.”

Wow. Memangnya gampang melakukan semua itu. Bagaimana jika para murid yang sudah bersekolah di sana lebih dulu dari Aldi jauh lebih kuat darinya. Mungkin ia akan menjadi murid paling bodoh dan menjadi bulan-bulanan seperti dulu lagi. Pikiran yang buruk mulai menghantui dirinya lagi.

“Oh ya... tadi saat kau kutinggal di kafe aku sudah membelikan seragam kelas Bayanganmu. Kau bisa mencobanya. Aku membelikan 2 pasang.” Kata Asgard.

Aldi mengeluarkan bungkusan kulit binatang dari karung belanjaannya tersebut. Saat dibuka ternyata ada empat helai baju di situ. 2 helai baju berupa baju ketat berwarna hitam dan yang 2 lagi seperti t-shirt berwarna biru. Di bagian dada kanannya tersemat lambang sekolah Fairren berupa lambang yang menyerupai huruf Y.

“Kok ada 2 macam?” Tanya Aldi.

“Ya. Kalau tidak salah yang hitam duluan lalu yang biru.”

Aldi menuruti instruksi Asgard dan memakai baju itu sesuai urutannya. Baju yang hitam cukup ketat dan membentuk badannya. Kemudian baju biru indisnya ia kenakan. Kemudian ada dua potong celana panjang berwarna hitam yang merupakan bawahan dari seragamnya.

Setelah semuanya dikenakan, Aldi merasa dirinya lumayan keren. Baju hitam yang panjangnya sesiku dan ditutupi sebagian dengan baju biru indis. Disertai celana panjang hitam. Dan juga sepatu entah apa macamnya ini. Karena berleher di atas mata kaki sedikit. Walaupun sepertinya tipis dan ringan, tetapi tidak mudah rusak dan selip. Warnanya hitam putih. Terakhir ia mengikatkan tali mantelnya di daerah bahunya dan membiarkan mantel coklat itu menutupi seluruh tubuhnya. Yah mungkin penilaian Aldi tentang model pakaian dunia ini yang aneh sedikit salah.

Cool.” Kata Asgard.

Aldi tak menggubris pujian Asgard. Ia masih terpesona dengan seragamnya. Ia merasa seakan menjadi seorang super hero dalam sebuah acara TV.

“Ya... mungkin sekarang kita harus menyiapkan pakaian-pakaian untukmu.”

Dahi Aldi mengernyit. ”Untuk apa?”

“Oh ya, aku lupa memberitahumu. Sekolah Fairren tentunya memiliki asrama sendiri pada lantai atasnya. Dan para muridnya diwajibkan tinggal di sana. Meskipun rumahnya dekat sekalipun.”

Aldi cemberut. Ini artinya ia tidak bisa bertemu dengan Asgard saat sekolah nanti.

“Oh ya, satu lagi nih. Kamu tenang saja. Ada jam-jam untuk keluar dan berjalan-jalan. Tidak sepenuhnya harus di sana terus. Pasti jenuh dong.”

Pikiran Aldi terang lagi. Tampaknya bukan separah yang Aldi pikirkan.

“Sekarang pilihlah beberapa pakaianku. Kau pasti membutuhkannya. Di sana kau harus punya baju ganti. Masa mau pakai baju seragam terus?”

Aldi mengangguk lalu tersenyum. Asgard begitu baik padanya. Apalagi yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikannya.

Setelah semuanya siap, barang-barang Aldi dimasukkan ke dalam tas besar yang sudah agak kumal milik Asgard. Dan setelah itu mereka makan. Kali ini masakan Asgard tidak kalah parah dengan hari pertama kedatangan Aldi kemari. Hanya menunya saja yang berbeda. Kali ini ayam bakar dengan sosis. Tetapi gosongnya tetap sama. Yang berbeda hanya alasan Aldi untuk menolak masakan Asgard.

***

Pagi hari datang lebih cepat daripada Aldi harapkan. Sekitar jam 5 pagi ia dibangunkan oleh Asgard dan menyuruhnya untuk mandi dan bersiap-siap. 10 menit kemudian Aldi sudah selesai mandi dan memakai baju seragamnya. Tas besarnya sudah siap di dekat pintu keluar. Sekarang ia tinggal menunggu Moti karena kemarin ia berjanji akan menjemput Aldi di hari sekolahnya yang pertama. Sambil menunggu waktu, Aldi terus mengobrol dengan Asgard sambil menghabiskan sarapannya. (sosis panggang dengan telur rebus yang ia masak sendiri). Asgard menceritakan beberapa pengalamannya selama bersekolah di Fairren. Katanya ia pernah salah masuk kelas. Saat itu kelas bayangan sedang belajar pelajaran sejarah dan Asgard masuk begitu saja. Parahnya lagi, ia tidak langsung menyadari ia salah masuk kelas. Ia malah dengan tenangnya duduk dan mendengarkan pelajaran. Ledakan tawa tak terelakkan dari kelas tersebut karena Asgard adalah kelas Prajurit. Dan juga beberapa cerita menarik lainnya yang Asgard sajikan dengan aksen khas Asgard yang menggunakan bahasa yang kerapihannya cukup gawat.

Tak lama setelah sarapan Aldi habis, pintu rumah Asgard terbuka dengan tiba-tiba.

“Gimana Aldi?! Sudah siap?” Seorang gadis dengan pakaian khas kelas tabib masuk ke rumah Asgard.

“Moti?!” Kata Aldi kaget.

“Bisa ketuk dulu gak sebelum masuk? Kaget nih.” Kata Asgard.

Moti menaikkan alisnya yang artinya ia mengerti. Kemudian saat melihat Aldi dengan seragam kelas Bayangannya, ia sempat diam sejenak yang tampaknya cukup terpesona. “Kau keren Aldi.”

“Terima kasih.”

“Tunggu sampai anak-anak Fairren melihatmu. Bisa kujamin tak kurang dari 50 cewek akan mengajakmu jalan-jalan.” Moti tersenyum. “Sekarang ayo kita berangkat! Bisa telat kalau lama-lama nih. Setengah jam lagi pelajaran sudah dimulai.”

Inilah saat yang paling ditunggu Aldi. Sekaligus saat untuk berpisah dengan Asgard. Aldi mengucapkan selamat tinggal pada Asgard dan Asgardpun memeluk Aldi dengan erat. Asgard mengantar mereka berdua sampai jembatan sungai dekat rumahnya.

Aldi dan Asgard kembali melewati danau dekat perbatasan kota Wimblam. Di kiri jalan Aldi melihat sebuah bangunan yang cukup besar juga. Tapi baru kali ini ia melihatnya karena saat melewati jalan ini, jalannya selalu berkabut.

“Gedung apa itu, Moti?” Tanya Aldi.

“Itu tempat pelatihan fisik kelas Prajurit. Wew... anak-anak kelas Prajurit tuh sangar-sangar lho. Tapi untungnya tak banyak dari mereka yang sombong. Kebanyakan sih baik-baik.”

Karena merasa dingin, Aldi memakai mantelnya yang sejak tadi ia selempangkan di tangan kirinya. Pandangan Moti tak lepas dari Aldi. Sempat kepergok beberapa kali oleh Aldi bahwa Moti mencuri-curi pandang pada Aldi. Beberapa kali pandangan mereka bertemu. Dan Moti yang tampak ke ge-er an mencoba menutupi malunya dengan pura-pura bersiul.

Setelah melewati arca Wimblam, Aldi bisa melihat bangunan sekolah Fairren yang hampir mirip gedung abad pertengahan dengan menara tinggi di tiap sudutnya. Halaman di sekitarnya masih dipenuhi dengan kabut. Moti menggandeng Aldi masuk ke dalam bangunan sekolah Fairren.

Aldi kembali menjumpai ruangan depan sekolah Fairren yang luas bertingkat dengan pintu-pintunya yang besar dan juga lukisan-lukisan yang mengisahkan pertempuran dengan Deef. Lampu besar yang digantungkan di tengah ruanganpun masih tetap ada dan menyala dengan amat terang. Moti menarik Aldi terus ke arah pintu sebelah kanan di lantai 1. Moti membukanya dan terlihat 5 meja panjang yang di pinggirnya terdapat banyak tempat duduk kosong. Beberapa di antaranya ada yang ditempati orang-orang bermantel putih bergaris-garis segitiga bolak-balik berwarna merah dan di dadanya tersemat lambang berbentuk huruf Y khas lambang sekolah Fairren.

Seseorang dari mereka mendatangi Moti dan Aldi.

“Pagi Moti. Siapa yang bersamamu ini?” Sapa orang pemuda berambut putih itu. Mukanya seperti menandakan bahwa orang itu selalu tersenyum. Senyum terus merekah dari bibirnya. Matanya yang amat sipit membuatnya terlihat seperti ia menutup matanya. Mantel putih merahnya menutupi seluruh bagian tubuhnya.

“Aku mengantarkan murid baru, Pak.” Jawab Moti. “Aldi, kenalkan. Ini adalah Pak Ingrith. Beliau akan mengajar pelajaran Mental.”

“Kenalkan... Klunia Ingrith.” Kata Pak Ingrith sambil menawarkan jabatan tangannya.

Aldi membalas jabatan tangannya. “Aldi... Aldi Rian Alfaris.”

“Nama yang unik. Selamat datang di Fairren.” Kata Pak Klunia sambil terus memasang muka tersenyum dan berjalan keluar ruangan meninggalkan Aldi dan Moti.

“Orang yang selalu tersenyum.” Kata Moti sambil memandangi Pak Klunia yang berjalan membelakangi mereka. “Kenapa kau diam saja, Aldi?”

“Siapa mereka semua?”

“Ya ampun. Mereka adalah guru-guru yang mengajar di sekolah ini. Ini adalah ruang gurunya.”

Aldi sedikit kaget. Dari dulu di sekolahnya, Aldi paling anti dengan yang namanya ruang guru. “Lalu untuk apa ke sini?”

“Aku mau membawamu menemui Ayah dulu. Ia pasti senang melihatmu sudah siap untuk bersekolah di sini.”

Mereka melangkah melewati beberapa meja guru. Selama beberapa saat, Aldi menjadi pusat tontonan para guru di ruangan tersebut. Beberapa sempat berbisik pada guru di sebelahnya. Mungkin menanyakan identitas sosok yang baru mereka lihat hari ini.

Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua. Seorang orang tua berkumis mendatangi mereka berdua.

“Halo, Nak Aldi. Bagaimana kabarmu?” Sapa Pak Waltraf sambil merangkul Aldi.

“Baik, Pak.”

“Hari ini adalah hari sekolahmu yang pertama di sini. Apa kau siap?”

Aldi menjawabnya dengan anggukan. Ia berusaha menutupi kegugupannya dengan tidak mengeluarkan suara.

“Bagus. Kalau begitu Moti akan mengantarkanmu menuju ruang... Moti, pelajaran pertama kelas Bayangan hari ini apa?”

“Pelajaran Tanaman Bettalakron di taman.” Jawab Moti.

“Ya... antarkanlah Aldi ke sana. Ayah akan berkata pada Narvias bahwa kau akan telat masuk hari ini.”

Moti menangguk. Sepertinya ia senang diberi tugas mengantarkan Aldi. Aldi hanya bisa menurut. 5 menit kemudian Aldi dan moti mengucapkan selamat tinggal pada Pak Waltraf dan berjalan meninggalkan ruang guru.

“Di bangunan ini...” Kata Moti tiba-tiba. “hati-hatilah memilih jalan karena banyak sekali jalan yang menyesatkan. Kalau orang baru seperti kamu, sebaiknya jangan berjalan-jalan sendirian. Pasti nyasar deh...”

Dahi Aldi mengernyit. Mereka memasuki pintu tengah dari ruang depan sekolah Fairren dan sampai di sebuah lorong panjang yang luas. Di kanan kiri terdapat jendela tinggi seperti jendela-jendela kastil jaman dulu. “apa yang harus kulakukan bila aku tersesat?”

“Jalan yang paling mudah adalah berteriak minta tolong.” Kata Moti.

Aldi menatap Moti tidak percaya.

“Selalu serius.” Moti tertawa kecil. “Tapi Moti pernah seperti itu kok. Waktu pertama kali masuk sekolah, Moti nyasar. Dan cara itu terbukti ampuh.”

Moti tertawa lagi. Aldi hanya bisa menonton Moti tertawa.

“Di sebelah sana terdapat ruang meditasi. Di sana biasa digunakan untuk pelajaran Mental. Gurunya yang tadi itu lho... yang banyak senyum. Semua kelas pasti mendapatkan pelajaran mental paling tidak 2 kali seminggu.” Mereka berdua belok kiri di perempatan lorong. “Nah yang di situ adalah ruang laboratorium. Di sana biasa dilakukan pelajaran Ramuan. Walaupun ini spesialis kelas Tabib, tapi semua kelas juga mendapatkan pelajaran ini. Yah paling tidak 2 kali seminggu. Tidak seperti kelas Tabib yang mendapat pelajaran ini 4 kali seminggu. Dan bahkan sebelum ujian bisa sampai setiap hari.” Kata Moti sambil menunjukkan sebuah ruangan berpintu kayu berwarna coklat kelam.

“Kalau kelas Bayangan belajar pelajaran apa saja?” Tanya Aldi.

“Waduh... Moti nggak hafal. Nanti deh pasti Ayah memberikan jadwal pelajarannya padamu. Kau tenang saja.”

Mereka berdua masuk sebuah ruangan dan ternyata di situ adalah ruangan terbuka seperti taman yang dikelilingi tembok-tembok batu. Walaupun dalam ruangan, taman ini bisa dibilang sangat luas. Tidak memiliki atap dan di sana-sini tumbuh berbagai macam pepohonan dari yang bentuknya normal sampai yang belum pernah Aldi lihat. Ada tanaman yang memiliki daun yang berwarna hitam. Ada juga semak-semak yang memiliki daun seperti daun pohon pinus.

Aldi hampir melompat kaget melihat sesuatu yang asalnya ia sangka seorang laki-laki pendek berambut keribo besar berjalan pelan. Ternyata laki-laki itu memiliki akar di kakinya dan dedaunan lebat di kepalanya. Bukan rambut keribo.

“Itu tumbuhan Dedalion.” Kata Moti sambil tertawa kecil melihat wajah pucat Aldi. “Akarnya sangat bagus untuk dibuat potion penyembuh.”

Moti membawa Aldi menuju tanah kosong yang ada di bagian dalam taman melalui jalan setapak berupa batu-batu yang sudah disiapkan. Aldi tidak bisa membayangkan pelajaran macam apa yang akan ia pelajari di tempat semacam ini.

“Kenapa? Tegang ya? Santai saja.” Kata Moti sok tahu.

“Kata siapa aku tegang?” Kata Aldi tak mau kalah. Walaupun begitu, Aldi harus mengakui bahwa dirinya merasakan ketegangan yang sama seperti saat ia pertama kali masuk SMP.

“Moti cuma bercanda kok.” Kata Moti sambil duduk di padang rumput di taman tersebut. Aldipun duduk di sebelahnya.

“Tak keberatan aku duduk di sebelahmu?” Tanya Aldi.

“Ya nggak apa-apalah... Kok perasaan kamu jaga jarak sekali sih sama cewek? Kamu nggak suka ya sama aku?”

“Nggak... soalnya gini nih... di duniaku dulu...” Aldi kebingungan memilih kata-kata yang cocok untuk diutarakan.

“Kalau begitu kenapa? Di dunia ini cewek sama cowok nggak boleh jaga jarak! Mereka harus bisa hidup saling berdampingan.”

“Di Bumi juga begitu, Mot. Cuma... dulu... di Bumi aku pernah... dibenci oleh nyaris semua orang di satu sekolah. Karena itu sekarang aku suka ragu untuk dekat dengan orang lain yang sebaya denganku.”

Moti terdiam. Aldi menjadi penasaran apa yang sedang dipikirkan Moti sambil terus melihat Aldi. Tiba-tiba Moti memegang tangan Aldi. “Nggak kukira nasib kamu kasihan sekali, Di.

Aldi melihat ke atas. Memandang langit dari celah-celah dedaunan . ia merasa sedikit tidak pantas untuk diceritakan di sini sekarang.

“Tapi tenang saja kok. Di sini pasti banyak orang yang mau menjadi temanmu. Seperti aku salah satunya.”

Aldi mengangguk. Tangan Moti yang lembut terasa sangat nyaman memegangi tangan Aldi. Baru kali ini tangannya dipegang cewek. Tentunya selain adiknya.

“Tapi Moti masih curiga, kamu nggak suka ya sama Moti?”

“Nggak kok. Sumpah.”

“Nggak butuh kata sumpah. Katakan yang benar.”

“Itu nggak benar.”

“Apanya?”

“Aku.”

“Kamu kenapa?” Moti terus mendesak Aldi.

“Aku nggak benci sama kamu.”

“Kalau nggak benci terus apa?”

Aldi yakin wajahnya memerah. “Aku suk...” Bertepatan dengan kata-kata Aldi yang nyaris keluar, terdengar sorakan-sorakan anak-anak sebaya dengan Aldi dari depan mereka berdua. Padahal Aldi nyaris saja terpancing oleh Moti untuk mengatakan Aku suka kamu. Wajah Moti tiba-tiba cemberut melihat belasan murid sekolah Fairren menyoraki mereka berdua.

Anak-anak yang berseragam sama dengan Aldi mendatangi mereka. Jumlah mereka ada belasan. Entah 14 atau 15 orang. Tetapi yang perempuan sedikit berbeda seragamnya. Baju hitam pendek ketat dan rompi biru muda. Bukan t-shirt seperti yang Aldi kenakan. Begitu melihat muka Aldi, mereka langsung diam. Ada yang dahinya mengernyit. Seperti mereka telah melihat sesuatu yang aneh.

“Mot, siapa tuh?” Tanya seorang anak laki-laki yang berambut panjang dengan mukanya yang penasaran.

Moti berdeham untuk membuat anak-anak kelas Bayangan itu diam. Tetapi sebetulnya tidak perlu karena mereka sudah terdiam dari tadi. “Kenalkanlah, ia akan mulai ikut belajar bersama kalian. Ia adalah seorang murid baru yang kemarin baru daftar. Namanya adalah Aldi...” Moti menggaruk kepala. Seperti mencoba mengingat sesuatu. ”...Aldi siapa?”

“Aldi Rian Alfaris.” Jawab Aldi.

“Aldi... namanya aneh.” Kata cowok berambut panjang itu. “Tapi tidak apa-apa. Namaku Rippu Miks” Ia menawarkan sebuah jabat tangan. Aldi menjabat tangannya.

Namaku aneh? Menurut Aldi nama Rippu adalah 2 kali lebih aneh dari namanya. Mungkin standar nama di sini berbeda. Pikir Aldi. Kemudian anak-anak yang lainpun ikut memperkenalkan diri pada Aldi. Aldi merasa senang karena bisa menjadi pusat perhatian walau sebentar. Dan berdoa semoga kejadian yang sama seperti di Bumi tidak terjadi lagi di sini.

“Hei... ceritakanlah darimana asalmu, teman.” Kata Rippu sambil merangkul Aldi. Aldi menelan ludahnya. Ia tak boleh berkata bahwa sebenarnya ia dari bumi. Ia tidak mau melihat teman-temannya kaget seperti melihat Moti kaget saat Aldi beritahu bahwa ia adalah orang Bumi sewaktu di daerah hutan Pinus Hijau.

“Ng... Aku...” Aldi memutar otaknya.

“Ia dari kota Timma. Ia adalah anak dari teman Ayahku. Jadi kuajak saja ia bersekolah di sini daripada menjadi nelayan.” Moti menyelamatkan Aldi dari kebingungan. Aldi mengucapkan terima kasih banyak dalam hati. “Kupikir daripada jadi nelayan. Betul nggak?”

Rippu hendak melemparkan pertanyaan lagi. Tetapi terpotong karena melihat seorang bapak-bapak berjalan menuju ke arah mereka. Ia memakai mantel yang sama seperti yang dipakai oleh Pak Klunia tadi. Tetapi orang ini membuka mantelnya di bagian tengahnya. Sehingga terlihat baju hijau di balik mantel yang ia pakai

“Baiklah, semuanya ayo berkumpul.” Katanya sambil menepukkan kedua telapak tangannya. Para anak-anak kelas Bayanganpun beranjak menuju ke arahnya. “Kau bisa kembali ke kelasmu, Avelia.”

“Semoga sukses, Aldi.” Bisik Moti kepada Aldi. Moti pergi meninggalkan Aldi. Aldi segera menyusul anak-anak kelas Bayangan lainnya.

Sang guru berdiri di depan anak-anak kelas Bayangan yang sudah berdiri membuat barisan. Aldi berdiri di belakang seorang gadis berambut hitam panjang. “Ada seorang murid baru rupanya. Bisa kutahu namamu?”

Tanpa ada perintah, perhatian anak-anak kelas Bayangan langsung tertuju pada Aldi. “Aldi... Aldi Rian Alfaris.” Jawab Aldi yang merasa dirinya ditanyai.

“Hmmm...” Bapak itu tersenyum kecil. “Nama yang aneh...” Aldi mungkin sudah mendengar lebih dari tiga lusin kata yang sama hari ini.

“Baiklah... kali ini kita akan memulai pelajaran kita. Dan bagi murid baru, silakan mengikuti yang lainnya.”

No comments: