AdCoba

Sunday, 31 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 6

6

Kereta Naga

Sore dihari Aldi mengambil keputusan akan masuk sekolah Fairren dilalui Aldi dengan penuh gelisah. Aldi besok sudah harus menjalani seleksi kelas untuk mengetahui akan masuk kelas mana ia untuk memulai sekolahnya. Dan juga bagaimana dengan temna-teman barunya yang tak ia tahu bagaimana cara pergaulannya? Ia takut akan menjadi bulan-bulanan seperti saat masih di Bumi. Atau ini semua adalah sebuah lelucon terencana yang dibuat oleh orang-orang dunia ini untuk mempermainkannya karena dirinya adalah orang Bumi. Pikiran dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar dalam pikiran Aldi.

“Ngapain kau di luar? Uring-uringan?” Sebuah suara berat mengagetkan Aldi. Asgard mendatangi Aldi. “Udah mau malam. Masuklah. Aku tahu gimana perasaanmu. Tapi nggak ada gunanya dipikirin.”

Aldi mengangguk.

“Oh, ya, bagaimana kalau kau masuk dan mencoba daging asapku. Resep baru nih...”

Aldi nyengir. Ia masih ingat rasa daging asap Asgard yang terakhir ia makan saat baru saja sampai di dunia ini. tampaknya kata ‘resep baru’ masih kurang untuk mengembalikan rasa percaya Aldi pada kualitas rasa daging asap Asgard.

“Tapi jika kau mau sendiri dulu... ya... terserah...” Asgard membuka pintu rumahnya.

“Asgard...” Panggil Aldi.

“Apa?”

“Maaf ya. Lagi nggak tenang nih.”

“Tenang. Aku juga mogok makan waktu hari pertama masuk sekolah.”

***

Malam harinyapun tak jauh berbeda. Malahan perasaan Aldi tambah parah. Moti bermain ke rumah Asgard dan memberikan berbagai macam nasihat. Baik yang berhubungan dengan sekolah maupun yang tidak. Selama kurang lebih 2 jam Moti tidak berhenti berbicara. Hal ini jelas tidak disukai Aldi yang sedang ingin kedamaian. Dan Moti datang merusaknya dengan rentetan nasihat yang super gawat panjangnya.

“Kamu tenang saja kalau sekolah. Teman-temannya baik-baik kok. Tapi asal kamu hati-hati saja dengan kelas penyihir. Mereka anak-anaknya nakal-nakal. Pokoknya kalau ketemu mereka... jangan dikasih hati deh...”

Aldi hanya bisa mengangguk-ngangguk saja. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki suatu kemampuan khusus saja yang bisa menghentikan omongan-omongan Moti. dan Aldi tahu, ia bukan salah satu dari mereka.

“Oh, ya, jika nanti liburan sekolah, kita pergi ke desa Hagenheilm yuk. Desa itu terkenal dengan Afrapnya. Sejenis minuman hangat yang terbuat dari bubuk kedelai Wimblam dan Merica Yodikari.”

Aldi melirik pada Asgard. Asgard pura-pura membuang muka sambil menurunkan bibirnya. Pertanda ia tak mau ikut campur dalam siraman rohani ini.

“Kalau Moti bilang sih pada pelajaran nanti, jangan lupa untuk berlatih giat dan tetap hormat. Maka kau akan disenangi di sekolah ini... Dan jangan lupa bahwa bangunan sekolah Fairren amat luas dan membingungkan. Bla...bla...bla...”

***

Pagi hari datang lebih cepat dari yang Aldi harapkan. Sakit perut Aldi kambuh jika ingat hari ini ia akan mulai masuk sekolah yang bahkan ia tidak tahu bagaimana pelajaran di sana. Aldi cepat-cepat makan daging asap Asgard yang gosong. Jika dalam keadaan seperti ini, daging asap buatan Asgardpun terasa enak.

Setelah selesai makan, Aldi diantar Asgard menuju sekolah Fairren. Sesampainya di sana, kepala sekolah Fairren, Pak Waltraf datang menyambut mereka. Beliau menyuruh Aldi datang lebih pagi daripada murid-murid yang lain supaya ia sempat masuk ruangan “Suara Gaib” untuk mengetahui ia akan masuk kelas mana.

“Pagi, Pak.” Asgard memberi salam kepada Pak Waltraf.

“Pagi, Asgard. Sehat?” Jawab Pak Waltraf.

“Sehat, Pak. Kutitipkan ia pada anda, ya?”

Pak Waltraf mengangguk sambil tersenyum kalem. Setelah Asgard pergi, Pak Waltraf mendekati Aldi dan merangkulnya.

“Siap untuk mendengarkan “Suara Gaib”?” Tanya Pak Waltraf.

Aldi mengangguk. Ia penasaran, seperti apa itu “Suara Gaib”. Apakah rasanya akan sakit saat mendengarnya? Ataukah saat masuk ruangan “Suara Gaib” tersebut, ia akan melihat sesuatu yang tidak ia harapkan.

Pak Waltraf membawa Aldi masuk bangunan sekolah Fairren. Dari ruang tengah, ia masuk ke pintu kiri lantai satu. Saat masuk, sebuah ruangan yang amat luas terlihat. Beberapa meja panjang membentang dari kiri ke kanan disertai bangku panjang juga. Dindingnya terbuat dari marmer berwarna putih. Membuat ruangan tersebut terasa segar dipandang. Atapnya berupa kubah yang ditutupi menggunakan kaca bening dan langsung tembus dengan pemandangan langit Bettalakron. Di ujung ruangan terdapat altar panjang yang diletakkan meja panjang dan beberapa kursi tinggi di baliknya. Beberapa pintu ada di kanan kiri tembok ruangan ini. Yang pasti, Aldi tidak tahu ke mana saja pintu ini akan membawanya jika ia masuk ke salah satu pintu ini. Aldi merasa berada dalam sebuah labirin raksasa.

Aldi berpapasan dengan makhluk seperti manusia dengan pakaian longgar dan mirip jubah panjang. Ia memakai caping yang membuat wajahnya tak bisa terlihat. Saat bertemu muka dengan Aldi, ia hanya diam saja. Perasaan dingin menekan hati Aldi dari tatapan mata makhluk tersebut yang terlihat dari sela-sela caping itu.

“Jangan tatap ia seperti itu, Nak.” Kata Pak Waltraf cepat-cepat menarik Aldi. “Ia dalah Gion. Pelayan sekolah ini. Bukan manusia. Tetapi cukup setia untuk dijadikan orang kepercayaan.”

Gion tersebut kembali berjalan menuju pintu ruang tengah. Aldi melihat cara ia berjalan. Ia melankgah seperti tak melangkah. Nyaris seperti melayang beberapa mili dari tanah.

“Kemari, nak Aldi.” Pak Waltraf membawa Aldi menuju sebuah pintu di dekat altar. Terdapat hiasan bergambarkan serigala, naga, rajawali dan merak pada pintu tersebut.

“Kamar apa ini, Pak?” Tanya Aldi setelah memperhatikan gambar tersebut.

“Di sinilah awal mula para prajurit tangguh Bettalakron dilahirkan. Tempat di mana kita bisa mengetahui di mana bakat kita dan tujuan kita. Ruangan “Suara Gaib”.” Pak Waltraf tersenyum. “Serigala melambangkan kelincahan, kecepatan, kecerdikan dan kebersamaan. Kau tahukan tak ada serigala yang hidup sendirian. Mereka selalu hidup bersama. Ini menjadi lambang kelas Bayangan. Naga, melambangkan kekuatan, keteguhan dan kedahsyatan. Mereka dijadikan lambang kelas Prajurit. Rajawali, menandakan pengetahuan dan naturalis. Selalu bisa beradaptasi dan memakai tenaga elemen di mana ia berada. Rajawali melambangkan kelas Penyihir. Merak, melambangkan keanggunan, penemuan, kerajinan dan ketelitian. Ia dijadikan lambang kelas Tabib.”

Aldi mengangguk. Pak Waltraf berhenti berbicara agak lama. Ini artinya ia sebentar lagi akan mendengarkan apa yang namanya Suara Gaib itu. Dan juga menentukan apa tujuan ia berada di sini.

“Kau siap, Aldi?”

Aldi mengangguk. Semakin cepat semakin baik.

“Masuklah ruangan ini dan pusatkan mata batinmu.” Pak Waltraf membuka ruangan tersebut. Alhasil, ruangan tersebut gelap gulita. Tidak kelihatan apa-apa.

Mata batin? Apa itu? Bagaimana jika ia tak bisa memusatkan mata batinnya dan akhirnya tidak bisa mendengarkan Suara Gaib? Sehingga Pak Waltraf mengira ini adalah suatu kebodohan untuk memasukkan orang sepertinya ke dalam sekolah Fairren ini. Tetapi Aldi mengukuhkan hatinya dan melangkah masuk. Pak Waltraf menutup pintunya. Sekarang Aldi sendirian di dalam sebuah ruangan gelap gulita tersebut. Tak tahu ada apa saja di dalam sini. Perasaan Aldi semakin tertekan. Ia membayangkan bagaimana jika seekor Deef berhasil menyusup masuk kemari dan bersembunyi. Dan saat Aldi lengah ia menyerang. Aldi menjadi merinding. Ia menutup matanya dan memasrahkan dirinya.

“HALO...” Terdengar sebuah suara berat dan cukup keras. Jantung Aldi mencelat. Seakan ada sebuah es meluncur dari pundaknya menuju kaki. “APA KAU MURID BARU?”

“I... Iya...” Jawab Aldi.

“MURID BARU SAAT PERTENGAHAN SEMESTER SEPERTI INI... RUPANYA ADA LAGI SATU MURID ISTIMEWA. KAU PASTI DARI BUMI?”

“Ya.”

“KAULAH ORANG KEEMPAT DARI BUMI YANG KUTANYAI. 3 ORANG PENDAHULUMUPUN MASUK SAAT PERTENGAHAN SEMESTER SEPERTI INI. SEKARANG, AKAN KULIHAT MASA LALUMU DAN KUPELAJARI KEMAMPUANMU.”

Suara tesebut tak terdengar barang semenit dua menit. Aldi hanya bisa berdiri diam dan menunggu.

“SUNGGUH MASA LALU YANG MENYEDIHKAN. TAPI KAU PASTI AKAN BAHAGIA DI SINI. BOLEH KUTAHU KAU INGIN MASUK KELAS APA?”

Aldi diam saja. Ia sama sekali belum menyiapkan diri untuk pertanyaan seperti ini.

“BISA KAU JAWAB? KITA TAK MUNGKIN BISA SEHARIAN DI SINI!”

Penyihir.”

“PENYIHIR YA? KULIHAT MEMANG ADA SEDIKIT BAKAT PENYIHIR DALAM DIRIMU. TAPI KURASA KAU KURANG COCOK MENJADI PENYIHIR.”

“Kenapa?”

“KAU HANYA MENGEJAR KEMAUANMU. BUKAN KEMAMPUANMU. SEBUAH KEMAMPUAN YANG LEBIH DOMINAN ADA PADA DIRIMU. BUKAN PADA PENYIHIR. TAPI PADA KELAS LAIN. APA KAU SUDAH TAHU APA TUJUANMU KEMARI?”

“Belum. Apa kau tahu untuk apa aku ada di sini?”

“TAKDIR... DAN JUGA MISI. KAU MEMILIKI SEBUAH MISI DI SINI.”

“Misi? Misi seperti apa?”

“KAU AKAN TAHU JIKA SAATNYA TIBA. SEBUAH MISI YANG AMAT PENTING DI DUNIA INI. SEBUAH MISI YANG AKAN MENGULANG SEJARAH BESAR DI BETTALAKRON.”

“Sejarah besar? Apakah sehebat itu diriku? “

“BAIKLAH... SAATNYA MENENTUKAN KELAS MANA YANG COCOK UNTUKMU.” Kata suara itu tanpa menggubris pertanyaan Aldi. suara itu kemudian terdiam selama beberapa detik. Kemudian berkata dengan lantangnya. “BAYANGAN!!!”

***

Hari sekolah pertama Aldi tidak seperti hari sekolah. Setelah Ia keluar ruangan Suara Gaib, Pak Waltraf langsung saja menyuruhnya pulang dan menyiapkan apa-apa saja yang Ia perlukan untuk sekolahnya. tidak masuk kelas sama sekali. Aldi tidak tahu apakah ini lebih baik atau buruk. Walaupun ia merasa lega tidak terjadi sesuatu lagi yang bisa membuatnya malu di depan umum karena ia orang Bumi yang belum tahu aturan di sini, tetapi tetap saja ribuan pertanyaan tentang bagaimana sekolah di sini belum terjawab.

“Apa? Kau masuk kelas Bayangan?” Kata Asgard yang langsung menginterogasi Aldi yang baru saja pulang dari sekolah Fairren. (Aldi sempat nyasar dua kali karena pulang sendirian.)

“Ya. Katakanlah bahwa ini tidak buruk, Asgard.” Kata Aldi yang mengharapkan jawaban ya dari Asgard walaupun ia berbohong.

“Gak. Sama sekali gak. Bagus tuh kelas Bayangan.” Kata Asgard semangat. “Orang-orangnya hebat. Keren gayanya. Oh, ya, kebanyakan para pahlawan Bettalakron adalah kelas ‘Bayangan’.”

Yah... lumayanlah kalau penduduk sini bilang kelas Bayangan itu keren. Pikir Aldi.

“Kau pasti butuh beberapa peralatan yang harus dibelikan?” Kata Asgard. Hati Aldi mencelos. Asalnya ia tak mau mengatakannya pada Asgard. Ia tahu Asgard baik hati dan Aldi tidak mau memakai uangnya untuk memenuhi kebutuhannya. “Ayo kita belanja dulu. Besokkan kau harus sekolah. Gak malu apa kalau sekolah belum punya peralatan?”

“Tapi aku nggak punya uang, Asgard. Apalagi uang dunia ini.” Aldi membela diri.

“Tenang. Masalah uang, biar aku yang urus. Jangan dipikirin deh...”

“Tapi Asgard...” Saat Aldi hendak menolak kebaikan Asgard, Asgard memotong perkataannya dengan merangkulnya.

“Jangan dipikirin. Aku tahu duitku gak banyak. Kau juga tahukan? Tapi aku ingin membantu orang. Apalagi orang yang bukan dari dunia ini sepertimu yang gak tahu apa-apa tentang dunia ini. Aku ingin membantumu. Percayalah padaku...”

Aldi terdiam melihat Asgard berkata seperti itu. Kemudian tersenyum. Perasaannya sangant tersentuh melihat orang yang berpenampilan luar keras dan seperti tidak peduli, tetapi memiliki hati yang begitu baik yang mana ia mau memberikan uangnya untuk orang yang baru 2 hari Ia kenali. Tanpa Ia sadari, air matanya menetes. Ia berjanji dalam hati akan menjalani sekolah ini dengan baik demi Asgard.

“Kata-kataku menyentuh ya?” Kata Asgard. “Buktinya bikin kamu nangis.” Asagard meringis.

“Nggak kok. Kata siapa?” Aldi cemberut. Asgard mengakak tertawa. “Oh, ya, di mana kita belanjanya?”

“Kota dagang yang terkenal di Bettalakron. Kota dagang Hagleit.”

***

Setelah bersiap-siap, Aldi dan Asgard pergi menuju jalan setapak di pinggir hutan Pinus Hijau dekat rumah Asgard. Kata Asgard, mereka akan menunggu kereta naga.

“Sabar ya. Paling sebentar lagi juga lewat.” Kata Asgard sambil menunggu. Aldi menunggu dengan tenang sambil berteduh di bawah pohon pinus yang agak rindang di pinggir hutan. Bau khas hutan pinus ini yang tercium oleh Aldi saat ia pertama kali datang ke hutan ini tercium kembali. Tak tahu kenapa, bau ini membangkitkan semangat Aldi.

10 menit sudah berlalu. Mereka berdua masih menunggu di sana.

“Sabar ya... paling sebentar lagi datang...” Kata Asgard menyuruh Aldi tenang. Tapi sepertinya yang tidak tenang malah Asgard. Ia dari tadi uring-uringan sambil mulutnya berkomat-kamit nggak karuan.

Suara lonceng terdengar dari atas. Aldi penasaran dengan asalnya suara itu. Aldi melihat ke atas, ternyata seekor naga hijau bersayap 4 sebesar mobil menarik sebuah kereta kayu besar berbentuk kotak dengan beberapa jendela di dindingnya terbang di atasnya. Sebuah lonceng diikatkan pada leher naga tersebut dan membuat setiap ayunan sayap naga tersebut diiringi bunyi lonceng. Di belakang naga tesebut, duduk seseorang memakai seragam hijau panjang seperti kulit naga tersebut dan memakai topi baret yang terdapat sebuah lencana berbentuk segi 5 dengan tulisan “HAGLEIT EXPRESS” sambil memegangi tali kekang naga yang menarik kereta tersebut. Kesan yang didapat dari kusir Kereta Naga tersebut adalah dingin. Tak bersahabat sama sekali. Dan Aldi sempat menyamakan kusir tersebut dengan Gion, pelayan sekolah Fairren yang melepas capingnya dan memakai topi baret.

“Akhirnya datang juga.” Kata Asgard.

Kereta naga tersebut mendarat di jalan tepat di depan Asgard dan Aldi. Pintu kereta tersebut terbuka secara otomatis. Aldi dan Asgard menaiki tangga masuk kereta tersebut. Di luar dugaan, di dalam kereta tersebut lumayan luas. Terdapat dua buah kursi panjang di kanan dan kiri ruangan secara berhadapan seperti tempat duduk angkutan kota kalau di Bandung. Hanya saja ini lebih luas dan panjang. Lantainya seperti dari kayu dan mengkilat. Di sana baru ada 3 orang penumpang saja. Yang 2 sedang mengobrol dan yang satu duduk sendirian di pojok dekat jendela yang menghubungkan kereta dengan tempat duduk si kusir naga.

Aldi dan Asgard memilih untuk duduk di tempat duduk yang paling pojok belakang kereta.

“Bagaimana? Hebatkan?” Kata Asgard membanggakan diri.

“Keren!!!” Aldi terlihat amat antusias dengan kereta naga ini.

“Inilah Bettalakron. Dunia di mana Dunia di mana fantasi yang kau inginkan bisa kau dapatkan.”

Kata-kata yang barusan diucapkan Asgard sama persis dengan apa yang dikatakan si naga legendaris Hafalaf saat mengantarkan Aldi ke dunia Bettalakron. Aldi jadi penasaran sekarang di mana keberadaan naga tersebut.

“Asgard…” Kata Aldi pelan.

“Ya?” Jawab Asgard semangat.

“Boleh kutahu, apa maksud kata-katamu barusan?”

“Yang mana?”

“Yang barusan… yang ada fantasi-fantasinya.”

“Oh… entahlah. Beberapa orang pintar dunia ini berkata begitu. Akupun tak tahu apa maksud kata-kata ini. Tapi kata-kata ini keren.” Asgard tertawa sendiri. “Jika kau mau, kau boleh membuka jendelanya untuk melihat pemandangan. Pas di atas nanti tentunya.”

“Benarkah?” Aldi sepertinya keasikan. Ia yang belum pernah naik pesawat ini malahan sekarang bisa menaikin kereta terbang yang ditarik oleh seekor naga. Namun rasa penasarannya belum juga terbayar. Dan ia tahu, memaksa Asgard menjelaskan kata-kata tersebut adalah sama dengan memaksa Deef untuk menari balet.

Naga tersebut mengayunkan keempat sayapnya dan mengibaskan debu-debu dan rumput di sekitarnya. Naga tersebut mulai mengangkat badannya dan dalam sekejap naga dan kereta ini melesat ke langit dengan kecepatan tinggi. Aldi berpegangan sangat erat sekali pada kursi yang ia duduki.

“Jangan tegang. Memang pertamanya menegangkan sih. Tapi lama-lama enak kok.” Kata Asgard melihat gelagat Aldi.

Aldi mulai memberanikan diri melepaskan pegangannya dan segera membuka jendela. Angin segar khas Bettalakron menerpa wajahnya. Membuat semangat Aldi tumbuh kembali. Sekarang ia melihat hamparan hutan pinus di bawahnya. Beberapa menara terlihat di kejauhan. Ada juga gunung batu dan danau. Entah ada berapa kejutan lagi untuk dirinya. Tapi yang pasti Aldi amat menyukai ini semua. Ia hampir melupakan semua nestapa yang Ia alami di Bumi. Ingin rasanya Aldi berteriak sekeras-kerasnya menikmati suasana ini.

Aldi melihat ada sebuah etalase dalam kereta tersebut di pojok dekat jendela kusir. Sebuah etalase dengan kaca yang dikotak-kotakkan. Masing-masing kotak berisikan sebuah bungkusan yang sepertinya berisikan makanan kecil. Aldipun penasaran dan mendekatinya untuk melihat.

“Oh... Kau ingin?” Tanya Asgard melihat Aldi yang sedang menatap etalase itu.

“Apa ini Asgard?” Tanya Aldi polos. 3 orang dalam bis tiba-tiba langsung melihat Aldi dengan pandangan aneh.

Asgard langsung cepat-cepat menutup mulut Aldi dan berbisik kepada Aldi. “Bodoh. Kau bisa dikira orang tolol kalau bicara begitu. Bertingkahlah biasa. Nanti aku jelaskan mengapa.”

Aldi mengangguk. Pandangannya kembali menatap sebuah bungkusan berwarna coklat bertuliskan Coklat Plo.

“Oh, kau ingin? Akan kubelikan. Tenang saja.” Asgard mengeluarkan sebuah uang logam berwarna kuning keemasan. “Kau mau yang mana?”

Aldi menggelengkan kepala.

“Jangan begitu. Biar kau tahu rasanya. Tapi jangan banyak-banyak. Bangkrut.”

Aldi kemudian menunjukkan bungkusan Coklat Plo tersebut.

Asgard mengetukkan uang logamnya pada kotak etalase yang menutupi bungkusan Coklat Plo tersebut sambil berkata “Satu”. Kaca etalase tersebut terangkat dan membuka ruang untuk mengambil bungkusan tersebut. Beberapa koin berdencingan dari belakang bungkusan Coklat Plo tersebut. Asgard mengambil Coklat Plo dan beberapa logam yang keluar dari dalam kotak itu. Setelah Asgard mengeluarkan tangannya dari kotak, kaca etalase kotak tersebut kembali menutup. Dan tiba-tiba muncul lagi sebuah bungkusan Coklat Plo menggantikan yang diambil Asgard secara tiba-tiba di kotak tersebut.

“Ambillah. Rasanya enak sekali.”

Aldi mengambil bungkusan tersebut dari tangan Asgard dan membukanya sambil berjalan kembali ke tempat duduk mereka. Isi bungkusan tersebut ternyata seperti snack di Bumi. Bentuknya bintang, ukurannya kecil dan warnanya seperti coklat biasa. Aldi mengambil satu dan menatap coklat tersebut dan mengendusnya. Baunya seperti kentang goreng tetapi amat menusuk. Saat dimakan, rasanya pahit coklat mulai terasa di lidahnya. Amat pahit sekali. Kemudian rasa manis mulai muncul.

“Kenapa tadi, Asgard?” Tanya Aldi sambil mengunyah coklat Plo di dalam mulutnya. “Kau menyuruhku bertingkah biasa?”

“Dengar, orang Bumi di dunia ini adalah legenda. Banyak orang yang menyukai mereka, tapi banyak juga yang tidak.” Kata Asgard. “tetap jaga kerahasiaan identitasmu sebagai orang Bumi. Aku harap kau mengerti.”

Aldi menganggukkan kepalanya. “Asgard, bisakah kau beritahu aku ada berapa jenis uang di dunia ini?”

“Hanya satu. Yaitu Flik. Ini berlaku bagi seluruh bangsa manusia yang berada di Bettalakron ini.” Kata Asgard sambil mengeluarkan dompetnya. “Yang ini nilainya 10 Flik.” Kata Asgard sambil memperlihatkan sebuah uang logam berwarna merah pudar. “Yang warnanya keemasan nilainya 50 Flik dan yang putih warnanya 100 Flik.” Kata Asgard sambil terus memperlihatkan uang logam dari dompetnya. “yang satu lagi uang jenis tabung. Ada dua buah.” Kata Asgard sambil mengeluarkan uang tabung. Memiliki diameter seperti uang logam. Namun memiliki tinggi kurang lebih 3 senti. “Yang kuning nilainya 1000 Flik dan yang putih nilainya 5000 Flik. Aku gak punya yang 5000. maaf ya.”

“Tak apa. Terima kasih, Asgard.” Kata Aldi.

Hampir sejam perjalanan mereka. Aldi telah menghabiskan Coklat Plonya dalam waktu setengah jam. Sekarang mereka terbang di daerah sabana. Sempat terlihat beberapa orang yang menggembala kambing di sana oleh Aldi. Asgard mulai tertidur. Aldi menjadi tidak tahu harus turun di mana. Ia takutkan kota Hagleit sudah terlewat.

Kereta naga tersebut menukik turun menuju sebuah desa yang di sana-sininya terdapat banyak ladang dan kandang ternak. Aldi membangunkan Asgard.

“Bego. Ini bukan kota Hagleit. Ini desa Midaf. Hagleit 2 kota lagi. Jangan bangunkan aku!” Asgard kembali tidur lagi.

Aldi kembali duduk dan menunggu. Rasa ngantuk mulai menyerangnya. Tapi Ia tahu sekarang adalah bagiannya untuk terjaga.

Setelah 5 menit terbang, naga tersebut kembali menukik turun. Kali ini sebuah kota yang memiliki bangunan-bangunan yang agak besar. Walaupun ada beberapa yang kecil. Di sana-sini terdapat banyak rumah yang seperti toko. Memajang etalase dan memasang papan nama. Orang banyak yang berseliweran seperti di pasar. Tapi berhubung kata-kata Asgard tadi, “dua kota lagi.” Aldi tidak jadi membangunkan Asgard dan kembali duduk tenang. Para penumpang yang dari tadi duduk di dalam kereta hampir semuanya turun di sini.

Kereta naga kembali mengudara. Sekarang tinggal 3 orang penumpang yang ada di kereta itu. Aldi, Asgard dan seorang laki-laki yang tertidur dekat pintu masuk. Kepalanya mengayun-ayun dan nyaris kena pintu. Kemudian...

DAK...

Kepala laki-laki tersebut terantuk pintu kereta. Ia melihat ke sekitar dan kemudian sorot wajah kepanikan mulai muncul di wajahnya.

“Celaka!!! Hagleit sudah terlewat.” Katanya.

Hati Aldi mencelos. Berarti kota tadi itu benar adalah Hagleit. Tapi Aldi yakin pria itu ngelindur. Tapi perasaan Aldi tetap saja tidak yakin. Asgard terbangun karena teriakan pria tersebut. Setelah kesadarannya kembali, Asgardpun memasang muka panik yang tak kalah dengan pria itu.

“Kenapa kau tidak bangunkan?! Hagleit sudah kelewat!!!” Teriak Asgard pada Aldi.

“Apa kau yakin dengan kemampuan berhitungmu?” Tanya Aldi.

No comments: