7
Aruva, Luina dan Yusa
Aldi, Asgard dan pria itu segera turun di kota selanjutnya. Yaitu kota Timma. Sebuah kota yang mirip pelabuhan. Di langitnya beterbangan burung camar. Asgard cemberut saja dari tadi. Aldi kehabisan kata-kata untuk membela diri. Sebab tadi Asgard berkata dua kota lagi. Berarti kota ini adalah kota Hagleit yang ternyata salah. Tapi Asgard berdalih bahwa orang pasti membuat kesalahan. Apalagi orang ngantuk.asgard tak berhenti menggerutu sejak turun dari kereta.
Aldi dan Asgard mengambil keputusan untuk berjalan kaki dari kota itu menuju Hagleit.
“Daripada lama menunggu. Kereta selanjutnya masih 1 jam lagi. Kalau jalan sih paling setengah jam.” Kata Asgard dengan yakin. Aldi hanya bisa mengikuti apa kata yang tahu jalan saja.
Tak lebih dari 5 menit mereka berdua sudah berada di pinggir kota Timma yang berupa tembok-tembok batu dan sebuah gerbang. Mereka berdua berjalan mengikuti jalan setapak yang cukup luas di tengah hamparan sabana. Semula yang Aldi kira panas, ternyata tidak. Sejuk malah. Padahal ini adalah siang hari. Mungkin karena belum banyak polusi. Paling-paling hanya kotoran naga saja.
Di sepanjang jalan, mereka berdua terhanyut dalam diam. Hanya Asgard yang terus menjelaskan alam di sekitarnya. Beberapa kali mereka berdua melewati orang yang membawa naga yang diikatkan pada kereta sambil membawa barang-barang.
“Kenapa kau tidak membeli naga, Asgard?” Tanya Aldi.
“Gila kau. Mahal tahu!”
“Lalu Flappy? Ferty? Flarty?”
“Itu kutemukan. Kerjanya hanya makan dan tidur saja. Apalagi Flappy. Tapi lumayanlah buat jaga rumah. Mereka juga baik. Benarkan?”
Baik?! Aldi merinding saat mengingat tangannya digigit oleh gigi taring Flappy. Predikat baik masih mungkin diberikan pada Flarty dan Ferty. Tapi Flappy…
Asgard tiba-tiba berhenti. Aldi penasaran mengapa. Saat Aldi melihat paras muka Asgard, wajahnya pucat pasi.
“Kau kenapa?”
“Celaka... celaka... ini daerah teritori para Deef. Aku tidak sadar karena sibuk menjelaskan dari tadi.”
Bulu kuduk Aldi berdiri. Wilayah Deef? Bertemu 3 saja nyaris membuat Aldi jadi dendeng. Apalagi di daerah teritorinya. Pasti tidak kurang dari se RT. Aldi melihat ke sekitarnya. Namun yang terlihat hanyalah kawasan yang damai. Seakan tidak ada tanda-tanda bahwa Deef pernah berada di sana. “Lalu bagaimana?”
“Jangan membuat kegaduhan. Jangan sampai mereka tahu kita. Jalan pelan-pelan...”
mereka melanjutkan perjalanan. Hanya saja kali ini terasa lebih berat karena mereka dihantui rasa takut. Aldi berkali-kali melirik ke belakang karena takut disergap dari belakang lagi seperti saat di hutan Pinus Hijau. Asgard lebih terlihat seperti seorang buronan yang siap untuk disergap setiap saat. Ia meliak-liuk. Dan berjalan amat pelan. Sesekali bersembunyi di belakang pohon untuk melihat keadaan sekitarnya.
Apa yang mereka takutkan terjadi. 5 ekor Deef berjalan menuju ke arah mereka. 3 membawa pedang dan 2 membawa gada. Tetap seperti saat di hutan Pinus Hijau dulu. Memakai baju perang abad pertengahan dan memakai topi besi bulat. Hanya saja yang ini jauh lebih kekar dari yang dulu.
“Hitungan ketiga, kita balik dan kabur. Siap?... ti... tiga...” Kata Asgard. Mereka berdua membalikkan badan dan lari secepat mungkin. Tapi di belakang mereka juga sudah menunggu 4 ekor Deef. Seakan ada es yang meluncur dari kerah Aldi menuju punggungnya.
Asgard mengeluarkan panahnya dan mulai membidik.
CRAK
Anak panah Asgard meluncur cepat dan mengenai tangan seekor Deef yang membuatnya melemparkan pedang yang Ia pegang.
“Ambil pedangnya, Aldi!!!” Asgard berteriak. Aldi langsung melompat dan mengambil pedang itu. Tetapi saat ditarik, Aldi tidak kuat mengangkatnya dan terjatuh. Deef-Deef itu tertawa. Asgard menutupi wajahnya dengan tangannya. Menghiasi wajahnya dengan senyum lebar yang dipaksakan. “Gerakan bagus, Tuan Kuat.”
Seekor Deef nyaris menjangkau Aldi. Tapi Asgard menolongnya dengan memanah bahu Deef itu dan membuat Deef itu menggelepar kesakitan. Aldi mencoba sekali lagi mengangkat pedang itu. Tapi percuma saja. Aldi melihat sebuah pedang kecil di pinggang Deef itu. Aldi mencabut pedang itu dan meloncat ke belakang.
“Bagus. Kini kita berusaha sampai akhir. Percayalah para Deef itu bodoh. Kita pasti bisa.” Kata Asgard membangkitkan semangat.
Asgard meluncurkan panahnya lagi dan mengenai kaki seekor Deef yang berada di belakang mereka. Dua ekor Deef menyerang. Aldi menahan sabetan pedang salah satunya dengan pedangnya. Mementalkan pedang Deef itu dan menyabet perutnya.
“Wow. Apa orang Bumi semuanya selincah itu?” Tanya Asgard sambil menghindari serangan Deef yang satunya lagi.
Aldipun kaget bisa melakukan gerakan seperti itu. Asgard menyikut Deef yang menyerangnya dan membuat Deef itu tergelepar. Kemudian mengarahkan panahnya pada Deef itu. Dan...
CRAK
Panah Asgard mengenai kepala Deef itu. “Bagus. Tinggal 4 lagi. Gak mungkin kita kalah. Ayo, Di.”
Terdengar banyak langkah kaki dari arah samping mereka. Kira-kira 20 ekor Deef kembali mendatangi mereka.
“Kutarik ucapanku lagi. Kita tidak mungkin menang. Keempat Deef yang berada di dekat mereka menyerang dengan tiba-tiba. Aldi menahan serangan gada salah satunya dengan pedang kecilnya. Tetapi salah satu Deef yang lain ikut menyerang Aldi yang sedang sibuk menangkis serangan Deef itu. Aldi menutup matanya.
Sebuah angin panas meluncur dari samping Aldi dan mementalkan Deef yang hendak menyerangnya. Deef itu terpental 5 meter jauhnya. 4 buah anak panah menancap pada badan Deef yang sedang beradu pedang dengan Aldi. Deef itu jatuh terkapar seketika. Aldi melihat dari mana asalnya serangan tersebut. 3 orang yang memakai mantel berwarna merah hati berdiri 7 meter di belakang Aldi. Yang satu sedang meluruskan tangannya dan juga kelima jarinya. Asap keluar dari tangannya. Yang satunya adalah perempuan yang sedang mengarahkan busurnya. Sepertinya ia yang baru saja memanah Deef tersebut. Dan laki-laki yang satunya tetap bergaya cool sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan mantel merah hatinya.
Laki-laki yang menutupi tubuhnya dengan mantel tersebut meluncur maju dan menyerang Deef yang sedang menyerang Asgard. Ia mengeluarkan sebilah pedang dari balik mantelnya dan mengayunkannya pada salah satu Deef itu tanpa mengenainya. Tetapi Deef itu terpental cukup jauh. Deef yang sedang dipegangi tangannya oleh Asgard ditebasnya dengan tidak segan-segan.
“Fleim?” Kata Asgard. Fleim? Fleim adalah pasukan khusus penjaga Bettalakron. Aldi tidak menyangka akan bertemu dengan mereka di sini. Setidaknya ada tiga.
“Sisanya serahkan pada kami. Kalian mundur saja.” Kata lelaki berpedang itu. “Kalian siap, Yusa, Luina?!”
“”Ya!!!” Teriak dua sisanya lagi. Asgard menarik Aldi menyingkir.
“Biar mereka yang memebereskannya. Sudah lama aku gak melihat Fleim bertempur.” Kata Asgard.
Aldi menurut dan minggir. Ini kesempatannya untuk melihat sehebat apa pasukan khusus dunia ini.
Si pemegang pedang maju bersiap menghadapi para Deef yang berdatangan itu. Si pemanah siap dengan 4 anak panahnya sekaligus dalam satu busur. Para Deef itu semakin dekat. 3 di antaranya maju lebih cepat dan langsung menyerang pemegang pedang. Tiba-tiba sebuah ledakan muncul di depan Deef itu. Ketiga Deef itu terpental ke udara. Si pemegang pedang langsung menyabetkan pedangnya kepada para Deef yang sedang mengudara itu secara berurutan ke atas dan ke bawah dan yang terakhir menyamping. Saat sampai ke tanah para Deef itu sudah terkapar.
4 Deef yang lain menyerang dari belakang pemegang pedang. Si pemanah melancarkan panahnya dan masing-masing mengenai tepat di kening keempat Deef itu. Si pemegang pedang langsung menyabetkan pedangnya kepada keempat Deef itu dan membuat keempatnya terjatuh.
Aldi amat takjub melihat hal yang dirasa nyaris tidak mungkin dilakukan bisa dilakukan dengan mudah oleh ketiga orang itu. Langkah para Deef yang tersisa terhenti. Tampaknya mereka mulai ketakutan. Dan tiba-tiba mereka mengambil keputusan untuk lari. Saat hendak membalikkan badan, si penyihir berkomat-kamit. Muncul sinar putih yang membentuk lingkaran pada tanah yang mencakup seluruh Deef yang tersisa. Muncul sebuah cahaya merah menggantikan cahaya putih tersebut dan tak lama kemudian timbul sebuah ledakan yang amat besar. Para Deef itu terpental ke mana-mana. Ada yang terpental 10 meter tingginya. Angin panas dari ledakan tadi terasa sampai pada Aldi.
Asgardpun tak lepas dari rasa takjub. Ia dari tadi diam saja menonton. Tampaknya tidak banyak orang di dunia ini yang bsia melakukan hal seperti yang mereka bertiga lakukan.
“Kalian tidak apa-apa?” Tanya si pemegang pedang.
“Ya.” Jawab Asgard.
“Syukurlah. Jangan lewat sini. Di sini banyak Deef berkeliaran.” Kata si pemanah.”
“Akupun gak lewat sini jika tersadar. Tadi aku ngelamun.” Sanggah Asgard.
Si pemegang pedang melihat Aldi dan mengajaknya berjabat tangan.
“Aku Aruva Arvard. Senang berkenalan denganmu.” Kata seorang cowok berpenampilan keren ini. Rambutnya panjang sebahu dan hidungnya mancung.
Aldi membalas jabatan tangannya. “Aldi. Terima kasih atas bantuannya.”
“Wah... lucu juga anak ini.” Kata si pemanah yang berparas manis ini. Rambutnya panjang sepunggungnya dan memiliki paras muka yang tidak jauh dari Aruva versi perempuan. “Aku Luina Arvard. Adik Aruva.”
“Jangan menggoda dia.” Kata si penyihir dengan nada sopan. Cowok yang ini terlihat sudah agak tua. Paling tidak 30 tahunan. Ia memakai ikat kepala berwarna krem dan memakai kacamata kotak. “Yusa. Senang berkenalan denganmu.”
“Jika mau teruskan perjalanan, lanjutkanlah lewat jalan lurus ini. Maaf kami tidak bisa mengantar kalian. Kami masih punya tugas lain.” Kata Aruva sambil mengibaskan mantelnya dan membalikkan badannya. “Ayo.” Ajaknya pada kedua temannya. Aldi melihat Luina sempat mengedipkan mata kepadanya.
Setelah para Fleim itu pergi, Asgard mengajak Aldi untuk kembali melanjutkan perjalanan. Walaupun sempat deg-degan, tapi sekarang Aldi tahu bahwa betapa berbahayanya keadaan sekarang dan betapa pentingnya ikut sekolah di sini untuk membela dirinya jikalau Ia dalam keadaan seperti ini lagi.
***
Perkiraan Asgard ternyata meleset jauh. Mereka berdua sudah berjalan 2 jam lamanya dan belum jugamenemukan kota yang bernama Hagleit itu. “Aku pernah lewat sini. Pasti tidak jauh lagi.””Aku ingat saat aku berjalan menuju Hagleit. Aku melewati jalan ini juga.””Jalan kita sudah benar. Tinggal 10 menit lagi palingan” Dan banyak alasan lagi yang dikatakan Asgard. Aldi mulai curiga mereka berdua tersesat. Dan yang paling Aldi takutkan lagi adalah bertemu dengan Deef lagi.
Mereka sudah mulai melewati daerah sabana lagi setelah berjalan selama setengah jam melewati hutan.
“Pertanyaan terakhir, Asgard. Berapa lama lagi kita harus berjalan?” Tanya Aldi yang mulai keletihan.
Asgard tertawa. “Ternyata instingku masih berjalan dengan baik.” Dahi Aldi mengernyit. Ternyata dari tadi mereka berjalan menurut insting Asgard? Bukan berpegang pada sesuatu yang lebih spesifik? Tapi Aldi curiga dengan tawa Asgard. “Lihatlah ke sana. Kau melihat tembok perbatasan?”
Aldi melongok ke arah jauh di depan. Terlihat menjulan tembok batu tinggi yang di luarnya amat penuh dengan orang-orang. Aldi mengangguk.
“Itulah Hagleit. Jalan kita sudah benar. Mari!!!”
Aldi mulai merasa tenang kembali. Akhirnya mereka bisa sampai ke Halgeit. Walaupun dengan jalan yang panjang. Aldi sudah penasaran ingin cepat-cepat melihat apa saja yang diperjual-belikan di
Mereka berdua sampai di perbatasan
No comments:
Post a Comment