AdCoba

Sunday, 31 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 5

5

Wimblam

Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, akhirnya mereka sampai pada pinggiran hutan pinus hijau. Sebuah sungai yang agak besar mengalir tenang di julangan rumput-rumput hijau yang tak jauh dari hutan. Sejauh Aldi melihat, ini seperti padang rumput yang tersebar beberapa pohon-pohon rindang di sana-sini. Suasana yang amat asri sekali. Di Bumi mana ada tempat seperti ini lagi. Di seberang sungai berjarak kira-kira 500 meter terdapat sebuah danau besar yang di pinggir-pinggirnya terdapat beberapa kursi taman. Tak begitu jauh dari danau tersebut, terdapat sebuah tembok batu yang panjang. Menjulang beberapa atap rumah dan dua buah menara yang menjulang tinggi seperti dua buah gading gajah raksasa yang diberdirikan berlawanan arah sehingga ujung menara itu nyaris menyentuh dari balik tembok batu tersebut.

“Wah, wah, Demonia, darimana saja kau?” Terdengar sebuah suara dari belakang mereka.

“Berburu. Kegiatan biasa.” Jawab Asgard.

Saat Aldi melihat lawan bicara Asgard, ternyata seorang tua yang menaiki sebuah gerobak berisi sayuran. Gerobak tersebut diikatkan pada seekor naga berwarna ungu dan bersayap dua. Tapi ukurannya jauh lebih kecil dari Hafalaf. Yang ini paling ukurannya hanya sekitar 1,5 meter panjangnya.

“Kalau begitu aku duluan.” Kata orang tua tersebut.

“Baiklah. Hati-hati.” Jawab Asgard. “Hehe... aku cukup terkenal di daerah sini.”

“Yang barusan naga?” Tanya Aldi kepada Asgard.

“Yap. Naga ada di mana-mana. Yah paling tidak di Bettalakron. Bukan di Bumi. Bagaimana jika ke rumahku dulu? Akan kuperlihatkan nagaku.”

Aldi tertarik oleh ajakan Asgard. Ia ingin melihat naganya. Tampaknya naga memiliki daya tarik yang khusus bagi Aldi. Tapi tidak dengan Moti. Ia memilih untuk pulang ke rumahnya dan berjanji akan membantu Aldi untuk daftar di sekolahnya.

“Dipikir-pikir cewek itu manis juga ya. Sepertinya dia naksir kamu, nak.” Kata Asgard saat Moti sudah agak jauh.

Aldi hanya tersenyum. Yah... paling tidak di sini Aldi ada yang menyukai. Mereka berdua berjalan menyusuri pinggiran sungai menuju ke beberapa rumah yang tidak terlalu besar dan beratap jerami dan sebuah cerobong asap. Di depan rumah itu terdapat kapak pemotong kayu dan beberapa tumpuk kayu bakar.

“Aku berani bertaruh, hei, nak. Gadis itu pasti sekarang sedang memikirkanmu.” Kata Asgard sambil tertawa terkikih. Aldi jadi agak malu. “Hei, Flappy. Aku pulang.”

Tiga ekor naga terlihat oleh Aldi sedang duduk berdampingan di depan pintu sebuah rumah. Ketiga naga tersebut bersayap dua dan berwarna putih agak kotor. Matanya berwarna kuning dan terdapat dua buah tanduk di kepalanya. Dan untuk membedakan satu dengan yang lainnya amat sulit.

“Jenis Emdoria. Jenis yang paling cocok untuk berburu. Cepat, sigap dan patuh pada perintah.” Kata Asgard. “Kau boleh mengelusnya jika kau mau.”

Aldi mengelus naga yang berada di paling kanan. Naga tersebut amat penurut dan menikmati belaian Aldi. Sisiknya cukup lembut untuk dibelai. Tidak sekasar sisik Hafalaf.

“Yang itu namanya Ferty. Dia penurut sekali.” Kata Asgard. “Yang di sampingnya Flarty. Dia amat pemalu.”

Aldi melihat naga yang sedang berbaring di paling tengah. Aldi hendak mengelusnya, tetapi ia cepat-cepat mengelak dan berlari ke belakang rumah. “Lucu juga.” Aldi merasa ingin memiliki ketiga naga tersebut sebagai peliharaannya. “Dan yang ini siapa namanya?”

“Ah!!!! Hati-hati... yang itu...”

“AUCHHHHH.” Aldi berteriak. Saat Aldi hendak mengelus naga itu, naga itu menggigit jari Aldi. Jari Aldi merah lebam dan mengeluarkan darah.

“Celaka. Cepat kuobati. Masuklah... masuklah. Anggap rumah sendiri. Nakal kau, Flappy!!! Yang tadi Flappy. Galaknya super gawat.”

Rumah Asgard tidak terlalu besar rupanya. Hanya terdapat sebuah ruang tengah yang disatukan dengan dapur dan meja makan, di pojok kanan kamar mandi dan di tengah adalah sebuah ruangan yang sepertinya kamar tidur. Dindingnya terbuat dari batu. Terdapat dua buah jendela berseberangan yang masing-masing letaknya berseberangan. Ruangan tengah itupun berbentuk bundar. Makanya jika dilihat dari luar, rumah Asgard terlihat seperti rumah eskimo. Hanya saja lebih tinggi dan atapnya terbuat dari jerami. Di dekat meja makan terdapat sebuah perapian. Di atas perapian tersebut terdapat sebuah teko yang digantung. Di dekat pintu terdapat sebuah kursi busa reyot dan usang. Namun masih cukup empuk.

“Duduk, duduk. Akan kuobati.” Asgard membuka lemari reyot di dekat meja dapur dan mengeluarkan sebotol besar berisi cairan berwarna hijau. “Potion hijau. Penghilang racun. Mujarab. Yah, maklum. Taring naga ada yang beracun dan ada yang tidak. Yang Flappy agak beracun. Bila gak diberi ini, dalam 5 menit seluruh lenganmu sudah tidak bisa digerakkan lagi.”

Agak?! Itu sih namanya racun yang parah. Sekarang jari Aldi yang digigit Flappy bengkak dan berwarna hijau. Rasanya amat nyeri sekali. Asgard meneteskan dua tetes potion hijau pada jari Aldi dan langsung membalutnya. Keinginan Aldi untuk memiliki ketiga naga tersebut hilang. Paling tidak sekarang ia ingin memiliki dua naga pertama. Tidak dengan yang terakhir.

“Bukan seorang Tabib. Tapi aku yakin juga dengan kemampuanku. Gak semua tabib yang jago bikin potion... yah, bisa menggunakan potionnya dengan benar.” Kata Asgard. Lalu Ia berjalan menuju perapian dan menyalakan perapian tersebut. “Supaya hangat.” Dalam sekejap, ruangan yang asalnya hanya remang-remang menjadi lumayan terang.

“Apa aku harus ikut sekolah juga, Asgard?” Tanya Aldi tiba-tiba. Ia seperti tertarik akan sekolah di sini. Tapi Ia pusing juga memikirkan bagaimana dengan pembayaran sekolahnya.

“Yah... wajib sih. Biar bisa jaga diri. Maklum Bettalakron sedang perang. Kadang bisa parah malahan. Korban bisa jatuh setiap saat. Tapi kalau kota Wimblam sih... aku yakin aman. Ia dikelilingi oleh menara dan tembok yang kokoh.”

“Tapi kalau begitu, darimana biaya sekolah itu aku dapat?”

“Sekolah di Wimblam, nama sekolahnya Fairren. Di sana sekolahnya murah. Mungkin aku ada uang untuk membayarkanmu barang 2 atau 3 bulanan.” Kata Asgard.

“Aku tak mau merepotkanmu, Asgard.” Balas Aldi cepat. Ia tak mau merepotkan orang lain.

“Tenanglah. Uang sih mudah didapat. Gak seperti ilmu. Ini penting untukmu. Lagipula... yah umurmu sepertinya pas untuk kelas satu.”

“Tapi aku tak bisa memakai uangmu. Lagipula nanti aku tinggal di mana?”

“Masalah uang, gak usah dipikirkan. Kalau tempat tinggal, di sana ada asramanya. Lagipula kau bisa tinggal bersamaku. Aku sudah lama mencari teman ngobrol. Dan sepertinya kau cocok juga. Enak diajak ngobrol...” Asgard tersenyum. Rupanya Asgard sangat baik. Mau mengeluarkan uang untuk orang yang baru saja Ia kenal.

“Tapi...”

“Kalau kau menolak, maka kita bukan teman lagi.” Potong Asgard. Aldi akhirnya menyerah. Asgard mengeluarkan sebuah senyum kemenangan. Toh ia juga untung bisa mengenal dunia Bettalakron. Lagipula ia juga tidak tahu harus sampai kapan harus berada di dunia ini. “Pakaianmu sudah lusuh. Badanmu juga kotor. Mandilah dulu. Dan setelah itu gantilah. Maksudku, pakaianmu. Aku punya banyak. Ambillah di lemari yang kau suka. Anggap milik sendiri.”

Aldi beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu kamar mandi Asgard. Tidak besar. Hanya kurang lebih 2X2 meter. Tapi Aldi merasa ini sudah cukup. Daripada kamar mandi di rumahnya. Sudah kotor, banyak kecoak matinya lagi. Ami yang rajin membersihkannyapun sampai mual. Ami paling benci sama kecoak. Di pojok kamar mandi terdapat sebuah bak mandi dan sebuah kloset. Di atas bak tersebut ada sebuah alat yang sepertinya untuk memompa air untuk mengisi bak. Aldi penasaran dengan pompa tersebut. Ia mengayuhkan tuas pompa tersebut. Tuas tersebut tiba-tiba bergerak cepat dan mengayuh sendiri. Mengisi air dalam bak dengan cepat. Dan saat bak mandi tersebut penuh, pompa itu berhenti dengan sendirinya. Aldi kaget melihat benda yang tampak kuno ini bisa memiliki kemampuan benda berteknologi tinggi.

Setelah selesai mandi Aldi membuka lemari reyot di dekat pintu kamar mandi. Pintu lemari itu berderit agak kencang.

“Maklum, sudah tua. Yang penting masih bisa masuk baju...” Asgard tertawa.

Aldi memilih baju berwarna hijau dan memakainya. Celananya tidak ia ganti karena merasa tidak enak dengan Asgard. Setelah Asgard melihat penampilan Aldi, alisnya berkerut.

“Seleramu aneh. Mode di Bumi?” Katanya.

“Begitulah.” Aldi berbohong. Jelas tidak ada yang namanya mode dengan pakaian atas hijau dan bawahnya celana panjang seragam SMA yang berwarna abu-abu. Tapi setelannya sih lumayan santai. Bagi Aldi, setelan Asgard lebih aneh lagi. Asgard memakai kaos orange polos dan terdapat sebuah lencana seperti bentuk anak panah dan perisai dengan bertulisan “Kelompok Pemburu Alis Merah”. Asgard juga memakai seperti rok orang Skotlandia berwarna biru tua dan celana sontok berwarna hitam.

“Apa kau lapar? Akan kubuatkan makanan segera.” Kata Asgard. Dan sekali lagi Asgard berhasil menebak keadaan Aldi. Ia belum makan sejak bertemu ibu-ibu di daerah Dago. Perutnya keroncongan sekali.

Oh, ya, bagaimana dengan ibu itu sekarang ya? Apa ia pernah kemari juga sehingga tahu bagaimana cara kemari? Apa dunia ini yang ia maksudkan? Apa ia salah seorang dari empa orang yang pernah kemari? Dan apa tujuan ia mengirim Aldi kemari? Pikiran itu terus membayangi Aldi. Yang pasti sebuah tebakan Aldi yang ia terka di angkutan kota saat menuju Goa Belanda ada yang benar. Tentang seekor peri akan menjemputku dan membawaku ke negeri lain yang penuh dengan kedamaian. Namun bukan peri yang membawanya kemari. Melainkan seekor naga.

Asgard menaruh sepiring penuh dengan daging asap berwarna agak kehitam-hitaman. Bau gosong tercium darinya. “Maaf, sepertinya agak gosong. Aku tinggal ke kamar kecil sebentar dan hasilnya seperti ini. Tapi rasanya pasti enak.” Asgard nyengir kuda.”aku berani jamin. Selamat makan, Teman.”

***

Esoknya, Aldi bangun pagi sekali. Jam kukuk Asgard menunjukkan pukul 5 pagi. Aldi tidur di tempat duduk panjang yang ada di ruang tengah dan Asgard tidur di kamar tidur. Asgard asalnya sudah memaksa Aldi tidur di sana, tetapi Aldi terus menolak karena merasa tidak enak. Aldi membuka selimutnya dan berdiri. Menguap dan mengucek matanya. Aldi menuju kamar mandi dan memompa air dari keran di atas bak mandi. Aldi menyiramkan air pada wajahnya.airnya dingin sekali seperti es. Aldi langsung menggosokkan tangannya supaya terasa sedikit hangat.

Aldi keluar rumah dan menemukan Flappy (atau Flarty, atau Ferty) sedang tidur di pinggir dekat pintu. Aldi mengendap-endap supaya tidak membangunkannya. Ia tidak mau jarinya bengkak lagi bila naga itu adalah benar Flappy. Aldi tidak tahu ke mana perginya sisa naga Asgard yang lainnya.

Langit di luar masih agak gelap. Suhunya sepertinya rendah karena terasa amat dingin. Udara dingin membuat hidung Aldi sedikit sakit untuk menghirup udara tersebut. Embun pagi yang dikeluarkan oleh tumbuhan hasil respirasi terdapat di mana-mana. Danau yang biasanya terlihat di siang hari sekarang tertutup oleh embun. Begitu juga dengan kaki Aldi, nyaris tak terlihat karena embun. Suara burung-burung yang asing terdengar ber-uhu-uhu dari tengah hutan. Suaranya nyaris seperti burung hantu. Hanya saja lebih merdu. Tembok kota Wimblam tidak terlihat. Hanya puncak dari kedua menara dari kota Wimblam yang terlihat.

Aldi menggosok-gosokkan dirinya dan masuk lagi ke rumah Asgard. Aldi duduk di tempat duduk yang tadi ia jadikan tempat tidurnya. Setelah duduk sebentar, Aldi melihat sapu. Berhubung rumah Asgard seperti yang sudah tidak terawat lagi karena debu ada di mana-mana, Aldi mengambil sapu itu dan mulai membersihkan rumah Asgard. Aldi membuka pintu dan mengeluarkan keset. Saat keset itu dipukul Aldi untuk menghilangkan debunya, ternyata debunya lebih luarbiasa banyaknya daripada yang dibayangkan oleh Aldi. Aldi bersin-bersin nggak berhenti-berhenti. Ia yakin pasti sudah membangunkan Flappy yang sedang tidur di dekatnya. Benar saja saat Aldi melihat ke arah Flappy, Flappy sedang memandangi Aldi dengan matanya yang berwarna kuning. Tapi anehnya Flappy tidak mengaum atau apalah yang dilakukan naga jika ia marah. Tetapi malah mendekati Aldi dan mengelus-eluskan kepalanya pada betis Aldi. Kemudian ia pergi menuju dekat pagar depan dan tidur lagi. Aldi menghela nafas lega.

Setelah kira-kira 15 menit membersihkan rumah Asgard, Asgard terbangun. Asgard langsung melihat Aldi yang sedang membereskan peralatan dapurnya.

“Rajin kau. Padahal gak usah. Cuma bikin repot. Padahal santailah saja.” Kata Asgard agak terbata-bata sesuai dengan gaya bicaranya.

“Tak apa-apa. Kalau di Bumi, ini sudah biasa.” Kata Aldi.

Asgard tersenyum. “Terima kasih kawan. Kau pasti lapar. Mau kubikinkan daging asap lagi?”

Aldi langsung cepat menggelengkan kepalanya. Ia masih teringat rasa daging asap buatan Asgard yang ia makan semalam. Kerasnya nyaris menyaingi helm yang dipakai Deef.

“Oh, baiklah kalau begitu. Apa yang dilakukan orang bumi dengan bangun sepagi ini?” Tanya Asgard.

“Mereka biasanya ada yang berangkat bekerja, ada yang mulai dengan kegiatannya masing-masing, seperti memasak, sekolah, dan yang lainnya.”

“Sekolah? Di sana ada kelas apa saja?”

“SD, SMP, dan SMA. Di SMA ada yang namanya jurusan. Ada Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa. Mungkin ada juga yang lain.”

“Apa itu ilmu alam? Dan apapula ilmu sosial? Gak penting ya pelajarannya?”

“Yah... kalau di Bumi itu penting. Kalau sekolah di sini bagaimana sih?”

“Sekolah di sini dibagi ke dalam 6 tahun pengajaran. Dan tiap sekolah memiliki kelas-kelas yang berbeda-beda. Kalau di Wimblam, ada 4 kelas. Bayangan, prajurit, tabib dan penyihir. 4 kelas itu juga yang paling umum di Bettalakron.Yah... masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Gak ada yang sempurna. Tapi kita gak bisa milih kita masuk kelas mana. Suara Gaib lah yang memilihkannya untuk kita. Sesuai dengan bakat yang ada di kita. Kan susah tuh ya. Kebanyakan orang ingin jadi penyihir.”

“Dulu kau ingin jadi apa, Asgard?” Tanya Aldi ingin tahu. Dan ia baru menyadari bahwa ia baru saja menanyakan pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan. Sekarang Asgard terlihat agak diam. “Maaf deh. Nggak dijawab juga nggak apa-apa.” Kata Aldi cepat-cepat menarik perkataannya.

“Waktu itu aku ingin sekali menjadi penyihir. Soalnya asik. Dia bisa melakukan sihir dari jarak yang cukup jauh. Serba bisa, dan sihirnya banyak fungsinya. Orang tuaku juga mengharapkan aku menjadi penyihir. Namun...” Suara Asgard memelan. “Saat penyeleksian, Suara Gaib memasukkan aku ke dalam kelas prajurit. Yah mungkin itu sudah takdir. Tapi heran juga. Aku nggak ada bakat di kelas prajurit. Tapi suara gaib menyuruhku masuk ke sana.” Asgard agak terkekeh. “Setelah orang tuaku tahu aku masuk kelas prajurit, ayahku langsung shock. Ia memiliki penyakit seperti tekanan darah tinggi dan jantung. Kemudian ia sakit dan meninggal. Gak bagus banget ya nasibku.”

“Dan kau tetap melanjutkan sekolah?”

“Aku berhenti saat tahun ke 4.”

“Mengapa?”

“Maaf, aku gak bisa memberitahukannya. Masalah pribadi.”

“Oh, maaf kalau begitu.”

Terdengar suara pintu diketok. Asgard berdiri dan membukakannya. Seorang gadis berambut sebahu dan bermuka imut tersenyum terlihat dari balik pintu. Ia memakai pakaian seperti kemarin. Jas laboratorium berwarna putih dan ada corak segitiga terbalik berwarna merah di sepanjang bagian bawah jasnya. Dibalik jasnya Ia memakai baju merah dan rok putih sedengkul naik sedikit.

“Kau gadis yang kemarinkan?” Kata Asgard.

“Moti... Moti Avelia.” Ujar gadis itu mengingatkan namanya. “Mana Aldi?”

“Aldi, dia nyari kamu tuh.” Asgard memanggil Aldi yang sedang duduk. Aldi segera berdiri dan melihat siapa yang mencarinya.

“Oh... kau.” Kata Aldi.

“Jangan bilang kau juga lupa namaku!” Moti cemberut.

“Moti. Moti Avelia. Benar?” Tebak Aldi.

“Syukurlah kau masih hafal.” Kata Moti tersenyum. “Ayo... kuantarkan kau ke sekolah Fairren. Nanti keburu mulai masuk sekolah. Ini juga aku dapat izin secara susah payah. Ayolah...” Moti menggandeng lengan Aldi dan menariknya.

“Tapi aku masih berpakaian seperti ini. Dan juga...” Kata Aldi. Aldi menarik Moti keluar dan memastikan Asgard tidak mendengarkan mereka. “Bagaimana aku bisa membayar sekolah itu? Kau tahukan aku tidak mempunyai uang dunia ini speserpun. Dan lagipula aku tak mau meminta uang Asgard.” Aldi agak berbisik kepada Moti.

“Kau tenang saja. Masalah biaya, biar aku yang urus. Ok?” Kata Moti.

“Tapi aku juga tak ingin memakai uangmu.” Kata Aldi.

“Kata siapa aku akan membayarkanmu? Akan kuberitahukan ya... Kepala sekolah Fairren adalah ayahku. Jadi aku bisa merekomendasikanmu. Ok? Lagipula aku sudah menceritakan kejadian saat kau menolongku di hutan Pinus Hijau kok. Ayahku sekarang jadi ingin melihatmu.” Kata Moti dengan cepat. Ia mengatakan semuanya dengan amat lancar. Sehingga Aldi harus memasang kupingnya baik-baik untuk menangkap setiap kata yang diucap oleh Moti.

Aldi terdiam kemudian tersenyum. Ia ingin berterimakasih sebesar-besarnya kepada Moti. Ia rela melakukan semua ini hanya untuk orang yang baru saja ia kenal. Kalau bisa ia ingin mencium pipi Moti karena rasa terima kasih ini. “Terima kasih Moti...”

“Tak apa. Wajar wajar kalau Moti baik.” Moti terkekeh.

***

Aldi dan Moti berjalan menuju tembok perbatasan kota Wimblam berdua. Asgard tidak ikut karena ia harus melakukan kegiatan perburuan rutinnya. Aldi dan Moti melewati danau yang dilihat oleh Aldi kemarin dan tadi pagi. Bangku-bangku taman ada di sekitar pinggir-pinggir danau. Danau itu kelihatan jauh lebih bagus dibandingkan jika dilihat dari jauh. Beberapa pohon pinuspun menghiasi pinggir-pinggir danau tersebut. Dan juga udara di sana sangat sejuk. Di tengah danau tersebut, Aldi melihat dua buah perahu. Aldi bertanya-tanya apakah yang dilakukan orang-orang yang ada dalam perahu tersebut.

“Eh... Moti, apa di sini juga ada penyewaan perahu?” Tanya Aldi.

“Ada. Eh, nanti kalau libur, kita naik perahu berdua yuk di sini.” Ajak Moti. Tetapi Aldi diam saja. Moti mengembungkan pipinya.

“Oh, ya, boleh aku tahu apa saja bedanya kelas-kelas di Fairren?” Tanya Aldi yang penasaran tentang kelas-kelas di dunia ini.

“Boleh. Pertama aku mulai dari mana ya?” Kata Moti. “Pertama, kelas Penyihir. Kelas ini membutuhkan keahlian yang khusus dalam memainkan pikiran sendiri. Mereka yang sudah ahli, bisa memunculkan beberapa elemen yang ada di dunia ini. Seperti misalnya api. Kelas ini latihannya parah. Banyak semedinya. Orang-orangnya banyak yang sombong-sombong lagi. Moti sih nggak begitu suka sama-orang-orangnya.” Moti mengangkat bahunya. “Mereka rata-rata menganggap dirinya sebagai yang paling terpilih dan memiliki bakat khusus.”

Penyihir ya? Menarik juga.” Kata Aldi dalam hati.

“Kedua, Tabib. Kelas ini membutuhkan orang-orang yang amat pintar, teliti, dan kreatif. Bukan maksudnya menyombong lho ya.” Kata Moti. Ia berasal dari kelas Tabib. “Ia bisa membuat berbagai macam potion. Kelas yang bagus untuk berada di barisan belakang. Mensuport barisan depan pada saat berperang.”

Tabib? Kepintaran, ketelitian dan kreatif? Semua itu nggak masuk buat Aldi. Ia masih ingat hasil ulangan kimianya yang mendapat nilai 42 saat kelas 3 SMP.

“Kelas ketiga... Bayangan. Kelas yang melahirkan petarung-petarung yang memiliki kemampuan dan ketangguhan. Juga kelincahan. Mereka diliatih untuk bergerak cepat dan menyelinap. Kelas yang cukup keren. Mereka dianggap kelas yang dapat menyaingi kelas Penyihir.”

Bayangan? Sepertinya boleh juga. Tapi Aldi masih tetap lebih tertarik dengan kelas Penyihir. Ia membayangkan dirinya menjadi Penyihir dan mengubah Malik menjadi seekor babi berambut keribo.

“Dan kelas keempat adalah kelas Prajurit. Mereka yang ada di sana amatlah kuat-kuat dalam hal fisik. Tipe petarung yang mementingkan kekuatan daripada yang lain. Seremkan?” Kata Moti menggidikkan kepalanya. “Mereka biasanya menjaga garis depan dan menahan serangan dengan fisik mereka yang dilatih sedemikian rupa.”

Wah... Yang ini nggak deh. Kayaknya latihannya parah banget. Aldi bergumam dalam hati. Namun terbesit dalam pikiran Aldi. Sekolah macam apa ini? Juga latihan macam apa yang akan mereka jalani?

“Gimana? Moti menerangkan dengan jelas apa perlu diulang?”

“Jelas. Terima kasih Moti.”

Mereka berdua hampir sampai di gerbang kota Wimblam. Terlihat sebuah menara pengawas di balik tembok kota Wimblam. Dari tadi sudah banyak yang melihat Aldi dan Moti berjalan berdua. Ada yang membawa naga dan ada juga yang tidak. Saat sampai di gerbang kota itu, Aldi tercengang. Aldi tidak menyangka, isi kota Wimblam begitu luas dan lengang. Di kanan kiri terdapat rumah-rumah yang tingginya 1, 2 dan ada juga yang 3 lantai. Di dekat menara pengawas berdiri dua orang yang memakai pakaian seperti penjaga berwarna hijau dan memakai topi seperti topi penyihir yang memiliki tutup di bagian belakangnya.

Keren.” Kata Aldi.

“Yup. Penduduk dunia sini juga pasti terkejut juga jika melihat kota ini. Mau kujelaskan bagaimana struktur kota ini?”

Aldi mengangguk. Sepertinya boleh juga mengetahui seluk-beluk kota ini. Siapa tahu ia akan lama di sini.

“Ok. Pertama yang kau harus ketahui adalah kota Wimblam ini. Kota ini adalah salah satu kota penting bagi manusia di Bettalakron. Beberapa pemerintahan pusat berada di kota ini. gerbang yang kita lewati ini. Namanya gerbang utara. Gerbang utara adalah sebuah gerbang utama yang biasa digunakan untuk orang keluar masuk. Hampir setengah dari kota ini dari bagian timur melewati gerbang utara dan sampai ke bagian barat adalah perumahan. So pasti penduduknya lebih banyak berkumpul di sektor ini.

Lalu di bagian barat, terdapat sebuah kastil. Namanya kastil Acaera. Di sana tinggal raja Grovarian yang mengatur kota ini dan para pejabat-pejabat. Beliau sangat arif dan ramah. Beliau memegang sebagian besar kota di Bettalakron. Tidak hanya di kota Wimblam ini saja.”

Aldi melihat ke arah istana. Di sana terlihat menara yang sepertinya menara istana yang dikelilingi oleh tembok tembok yang sebagian temboknya tertutup oleh rumah-rumah penduduk. Terlihat cukup indah seperti istana di negeri dongeng.

“Di sana jugalah para pasukan Fleim. Fleim adalah pasukan khusus di dunia Bettalakron ini. Jumlah mereka banyak dan mereka berada di hampir seluruh penjuru Bettalakron.” Moti menghela nafas. Ia ngomong nyaris tidak ada jeda. Aldi curiga itu semua dikatakan dalam satu tarikan nafas. “Mereka semua kuat-kuat. Keren-keren. Pokoknya wah deh. Mereka disiapkan untuk keadaan darurat. Menjaga tempat-tempat penting bagi manusia di Bettalakron.

Di bagian timur Wimblam setelah perumahan terdapat taman. Di sana tempatnya sangat indah. Amat tepat untuk berekreasi. Di kelilingi juga oleh pusat-pusat jajanan yang menarik-menarik.”

Aldi dari tadi hanya mengangguk-ngangguk saja. Mendengarkan kata-kata Moti. Ia tahu bukan saatnya ia untuk ikut berbicara.

“Di bagian selatan, dan juga bagian belakang kota Wimblam terdapat kandang naga. Di sana kau bisa menitipkan naga-nagamu dengan bayaran tertentu pastinya. Tergantung jenis naga yang kau bawa. Makin galak makin mahal. Dan di sana jugalah sekolah yang kita tuju. Yaitu sekolah Fairren. Sekolah yang memiliki kualitas yang terbaik di Bettalakron. Lulusannya banyak yang jadi Fleim. Banyak juga yang menjadi Penjaga Khusus dan pekerjaan lain yang keren-keren.”

Penjaga Khusus?”

“Ya. Mereka adalah penjaga yang dibayar khusus untuk menjaga sesuatu atau mengawal seseorang. Bayaran mereka sangat mahal.” Kata Moti. “Oh, ya, kita lewat tengah kota saja ya. Kau lihatkan dua menara yang menjulang tinggi seperti gading gajah itu? Kita akan lewat situ. Kau mau?”

Aldi mengangguk.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan paving yang lebarnya tidak kurang dari 30 meter. Amat lengang sekali. Walaupun penduduk kota ini banyak, tidak begitu terasa sesak. Dalam hati Aldi masih menyimpan rasa kagum atas kota ini. Ataupun mungkin dunia yang indah ini. Di kanan kiri terus saja ada rumah-rumah penduduk yang di halamannya terdapat paling tidak 2 pohon yang rindang. Sehingga cuaca menjadi sejuk. Jenis-jenis rumahnya pun unik-unik. Ada rumah yang seperi rumah Asgard. Adapula yang seperti rumah bumi pada umumnya. Ada juga yang dindingnya terbuat dari batu berwarna biru bersinar dan beratap abu-abu seperti genteng berbentuk ketupat dengan sebuah kincir angin yang terbuat dari kayu di depannya..

Mereka sampai di akhir perumahan. Sebuah hamparan paving menjulang di hadapan mereka. Tak jauh dari pandangan, berdiri menjulang dua buah menara tinggi yang berdiri dengan gagahnya. Pinggir-pinggir daerah menara itu di kelilingi oleh taman dan air mancur berbentuk anak kecil yang memegangi kendi yang airnya mengucur dari kendi tersebut. Taman tersebut di belah di bagian depan dan belakangnya untuk ditempatkan tangga marmer putih. Tangga marmer yang tidak begitu tinggi itu membawa ke atas menuju sebuah patung berbentuk dua orang manusia. Yang satu seperti berlutut dengan memegangi perisai di depannya dan memegangi pedang ksatria yang ditancapkan ke dalam tanah di tangan satunya lagi. Dengan memakai pelindung seperti baju zirah yang kepalanya tertutupi oleh helm ksatria abad pertengahan. Yang satunya lagi berdiri tegak. Syalnya menutupi sebagian mulut dan wajahnya. Rambutnya panjang sebahu dan bermuka cukup keren seperti layaknya laki-laki walaupun ia berwujud patung. Ia berpakaian seperti pengelana dengan memakai baju lekbong dan kedua lengannya dari sikut ke bawah dibalut dengan perban untuk petinju. Kedua tangannya memegangi pedang secara terbalik. Kedua patung tersebut terbuat dari marmer putih juga. Hanya saja sepertinya marmer yang untuk patung tersebut lebih berkilau daripada lantai yang mengelilinginya.

“Patung pejuang Wimblam. Talus dan Flaus. Toh ada cerita mereka pernah membebaskan kota ini saat zaman Deef masih memegang kendali seluruh Bettalakron. Mereka berdua yang merupakan pasukan Fleim berjuang dengan keras mengusir Deef dari kota Wimblam ini. Dan toh katanya mereka memakai sebuah kekuatan rahasia dan akibatnya mereka dikutuk menjadi patung marmer itu.” Moti menjelaskan. “Tapi itu juga belum tentu benar. Ada juga yang bilang bahwa kota Wimblam ini belum pernah dijajah oleh para Deef itu. Tahukan... para Deef itu bodoh-bodoh. Jadi mana mungkin bisa mengalahkan penduduk kota ini. Teehee.” Moti terkekeh.

Mereka berdua melewati bawah kedua menara raksasa itu dan melewati patung Wimblam yang berada di bawahnya. Menara raksasa yang berwarna putih itu tampak jauh lebih tinggi lagi saat Aldi melihatnya dari bawah. Setelah menuruni tangga marmer yang satu lagi, mereka sampai disebuah bangunan megah seperti benteng. Di tiap sudutnya memiliki sebuah menara yang cukup tinggi. Tembok-temboknya terdiri dari seperti batuan berbentuk persegi panjang berwarna abu-abu yang ditata rapih selang-seling. Terdapat jendela tinggi berbentuk segilima di tiap sisinya. Dan bangunannya dikelilingi oleh taman yang rumputnya terawat dan terdapat pohon beringin di sekitar jalan setapaknya. Pagar besi setinggi 3 meter berwarna hitam memagari sekitar halaman yang mengitari bangunan itu.

“Selamat datang di sekolah Fairren.” Kata Moti sambil membungkuk seperti menyambut seorang raja.

Terlihat sebuah bangunan megah dengan pagar besi yang mengelilingi bangunan tersebut. Memiliki menara pada masing-masing sudutnya. Dan bangunan itu lebih mirip dengan gedung abad pertengahan. Tidak cukup pantas untuk disebut kastil. Namun beberapa suasana kastil ditemukan pada bangunan tersebut. Kesan yang diberikan oleh bangunan tersebut adalah hening, sunyi, namun terawat. Dan terlihat sepertinya tidak kurang dari 6 lantai bangunan ini berdiri. Terutama di beberapa bagian bangunan yang mungkin bisa mencapai lebih dari 8 lantai.

Moti membawa Aldi menuju pintu gerbang pagar dan berjalan pada jalan setapak yang sudah disiapkan. Beberapa anak perempuan berpakaian hitam melewati mereka. Mereka sempat memandang Aldi dan Moti. Atau bahkan bisa dibilang memandang Aldi dengan seksama. Dan kemudian melewati mereka berdua.

“Mereka adalah anak-anak kelas bayangan. Dan baju hitam itu adalah seragam keseharian kelas bayangan.” Kata Moti sambil menunjukkan baju hitam pendek yang dipakai perempuan yang baru saja melewati mereka.

Moti membuka pintu gerbang utama yang setinggi 3,5 meter yang terbuat dari kayu jati dan diplitur coklat kelam. Pintu tersebut berderik keras saat dibuka dan bunyi tersebut bergema dari dalam ruangan dari pintu tersebut.

“Mari masuk.” Moti mempersilakan Aldi masuk.

Mereka berdua sampai disebuah ruangan yang amat luas berdinding krem. Beberapa lukisan yang menceritakan perjuangan melawan Deef dipajang dinding tersebut. Langit-langit ruangan tersebut amat tinggi dan terdapat sebuah benda yang seperti lampu gantung. Namun bukan lampu yang digantungkan di sana, melainkan lilin dalam jumlah besar. Di pojok kiri dan kanan ruangan terdapat tangga menuju lantai 2. Sebuah pintu gerbang yang seperti gerbang utama berdiri di tengah antara kedua tangga tersebut di lantai 1. di lantai 2 antara kedua tangga tersebutpun terdapat pintu kayu juga. Terdapat juga pintu di lantai 2 di sebelah kanan dan kiri.

“Bagaimana? Baguskan?” Kata Moti.

Keren!!.” Aldi terkesima.

Terdengar langkah kaki dari arah depan mereka. Pintu di seberang mereka terbuka. Seseoraang laki-laki yang terlihat cukup tua keluar dari pintu tersebut. Ia berjenggot hitam agak panjang dan kumisnya menyatu dengan jenggotnya. Ia memakai jas berwarna biru dongker berhiaskan bintang-bintang di sana-sini dan baju berwarna putih di tengahnya. Orang itu mendatangi Aldi dan Moti.

“Jadi... kaulah orangnya?” Kata orang tua itu kepada Aldi. Aldi sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud oleh orang ini. “Orang yang sudah menyelamatkan nyawa anakku ini?”

“Betul, Yah. Dia orangnya. Bagaimana menurut...” Kata-kata Moti terpotong karena orang tua itu mengangkat lengannya untuk mencegah Moti ngepot bibir lagi. Ternyata orang ini adalah ayah Moti. Aldi menilai ia adalah orang hebat karena Aldi yakin tak sembarang orang bisa menghentikan rentetan senapan mesin kata-kata yang keluar dari mulut Moti.

“Aku, Waltraf Avelia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu. Boleh kutahu siapa namamu?”

“Aldi. Aldi Rian Alfaris.” Jawab Aldi.

“Nama yang unik. Jadi benar kau berasal dari Bumi?”

Aldi tersentak kaget.

“Tenanglah. Di sekolah inipun dulu pernah ada juga orang yang berasal dari Bumi dan bersekolah di sini. Apakah kau mau juga bersekolah di sini? Yah, hitung-hitung rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkan anakku.” Orang tua itu merangkul Aldi.

Aldi diam sejenak dan berpikir. Sebenarnya ia masih membingunkan untuk apa ia ada di sini. Di dunia ini. Di ruangan ini. “Tunggu. Aku sendiri tidak punya tujuan di sini. Waktu itu pikiranku sedang kacau dan keinginanku untuk kabur amat besar. Karena itu aku memutuskan ikut naga itu ke dunia ini. Tapi sekarang... aku...”

“Manusia hidup karena takdir. Ia yang sudah terlahir di dunia ini masing-masing memiliki takdir. Dan sekarang kau berada di sini. Itu berarti takdirmu. Pasti ada suatu alasan mengapa kau ada di sini sekarang. Taruhlah rasa pesimis itu dan hiduplah bersama kami.”

Mendengar kata-kata itu, hati Aldi sedikit bereaksi.

“Naga yang membawamu kemari, pasti Hafalaf. Naga itu adalah naga legendaris yang bisa menghubungkan dunia ini dengan bumi. Dan juga naga itu tak pernah membawa orang Bumi kemari tanpa ada tujuannya sama sekali.” Orang tua itu sekarang mengelus-elus pundak Aldi. Membuat perasaan Aldi semakin tenang. Kemudian orang tua itu melihat ke sekitar.

“Tenanglah, Yah. Masih pagi. Belum ada yang datang. Para guru masih di ruangannya masing-masing.” Kata Moti.

“Ini adalah sebuah rahasia. Ok? Semua orang Bumi yang dibawa kemari semuanya menjadi pahlawan di dunia ini.”

Perasaan Aldi yang nyaris tenang berubah menjadi perasaan heran. Mungkin semua orang Bumi yang dibawa kemari adalah orang hebat. Tidak seperti dirinya. Mungkin dirinya akan menjadi orang Bumi pertama yang tidak menjadi pahlawan di sini. “Oh, ya? Boleh kutahu siapa saja?”

Orang tua itu tertawa pelan. “Itu... adalah sebuah rahasia. Nanti juga kau pasti tahu. Karena itu masuklah sekolah ini dulu. Dan cepat atau lambat kau akan tahu siapa saja mereka.” Orang tua itu mengelus-elus jenggot panjangnya. “Sekalian untuk menjaga diri. Kau tahukan, keamanan di Bettalakron sedang kurang stabil. Perang dengan Deef bisa pecah kapan saja.”

Aldi diam sejenak. Moti dan orang tua itu sepertinya menunggu kabar baik keluar dari mulut Aldi. Aldi sekarang membanting otaknya untuk memilih keputusan yang cukup sulit. Tapi jika ia tidak masuk sekolah ini, ia juga tidak akan tahu apa tujuan ia berada di dunia ini sekarang.

Ia membayangkan dirinya bersama Moti dikepung puluhan Deef dan dirinya tak bisa melakukan apa-apa seperti waktu itu.

“Baiklah... aku mau.”

No comments: