AdCoba

Sunday, 31 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 4

4

Portal Cahaya

Setelah memilih untuk ikut, Aldi bersiap-siap dan menaiki punggung naga tersebut. Ternyata sisiknya tidak setajam yang Ia duga. Walaupun ada beberapa sisiknya yang sempat menyangkut di celana seragam SMAnya.

“Kau siap?” Kata naga itu sambil melihat Aldi yang sedang mencari tempat duduk yang enak dipunggung naga itu.

“Ya… Siap.” Kata Aldi.

Naga itu mengibaskan keempat sayapnya. Membuat hembusan debu-debu disekitar mereka. Kemudian naga itu mulai mengapung dan langsung meluncur terbang ke atas. Angin kencang menerpa muka Aldi. Aldi berpegangan kencang-kencang pada leher naga tersebut. Naga tersebut meluncur sangat cepat sekali menuju langit malam yang gelap.

WUSHHH…

Naga itu memelankan kecepatannya. Saat Aldi memberanikan diri untuk membuka matanya dan melihat ke sekitar, tak ada yang terlihat. Hanya gelap dan saat melihat ke atas, terlihat bulan sabit. Hanya saja terlihat sangat jelas dan terlihat sedikit lebih besar. Di sekitarnya terdapat bintang-bintang bersinar terang.

“Di mana ini?” Tanya Aldi.

“Kita masih ada di Bumi. Ini di langitnya.” Jawab naga itu. Jelas saja bulan terlihat lebih jelas. Karena kita berada di atas awan. “Pemandangan yang bagus… Apa di Bumi, benda itu disebut bulan juga” Tanya naga itu sambil memandangi bulan.

“Ya.”

“Di Bettalakron bulannya juga indah. Sempatkanlah lihat nanti kalau sudah sampai sana.” Kata naga itu. “Sekarang, bersiaplah. Ucapkan selamat tinggal pada Bumi.”

Aldi berpegangan erat pada leher naga itu sekali lagi. Tiba-tiba terlintas dibenaknya. Bagaimana nanti jika adiknya Ia tinggal begitu saja. Adiknya pasti khawatir dan menjadi sedih. “Tunggu… Bisakah aku mengajak adikku?”

“Dewa Goslaish… Bukakanlah aku Portal Cahaya.. Biarkan aku masuk dan membaktikan diri pada Bettalakron!!!” Teriak naga itu tiba-tiba tanpa menggubris Aldi. Sebuah cahaya putih muncul di depan mereka. Aldi menutup matanya karena saking silaunya. Naga itu terbang menuju cahaya itu. Rasa silaunya semakin terasa dan cahayanya seakan menembus tangan Aldi yang menutupi matanya. Setelah itu Aldi tidak tahu lagi apa yang terjadi. Sesekali Aldi mencoba membuka matanya, tetapi amat silau sekali. Aldi kemudian cepat-cepat menutup matanya kembali. Ia hanya bisa berharap naga itu tidak salah membawanya dan menjatuhkannya. Naga itu terbang meliuk-liuk ke sana kemari.

“Lamakah ini?” Tanya Aldi. Namun naga itu tidak menjawabnya.

Setelah kurang lebih satu menit berada dalam cahaya yang menyilaukan itu, sekarang terasa intensitas cahaya di luar mulai berkurang. Tetapi digantikan dengan angin kencang dan terpaan air yang menerpa muka Aldi.

“Celaka!!! Kita datang pada waktu yang tidak tepat.” Kata naga itu.

Aldi membuka matanya dan melihat sekitar. Tetapi tetap tidak ada yang terlihat. Tangannya kembali menutupi matanya dari air dan angin yang menerpa. “Ada apa ini?!”

“Badai… Jarang-jarang sih terjadi di Bettalakron. Hanya saja kok bisa pas sih dengan waktu kita datang?” Kata naga itu masih dengan nada yang tenang seakan ia sedang menghadapi sebuah gerimis kecil.

“Mana aku tahu.” Aldi mencoba melihat sekitar lagi… Dan alhasil yang berhasil Ia lihat adalah air yang terus menerjang mereka. Sempat terlihat sebuah gunung dengan puncak yang tajam saat ada kilat. Tetapi tetap tak terbayangkan dunia macam apa yang ia datangi sekarang.

“Berpeganganlah… Anginnya semakin kencang. Aku akan mencari tempat perlindungan.” Kata naga itu sambil melaju. Tetapi Aldi belum siap. Aldi terkaget dan terlempar ke bagian ekor naga tersebut. Tangannya yang tadinya dipakai menutupi matanya sekarang Ia gunakan untuk berpegangan pada ekor naga tersebut. Sisik naga yang tajam melukai telapak tangan kanannya. Tetapi Aldi berusaha menghiraukannya dan terus berpegangan. Tiba-tiba naga itu bergoyang. Pegangan Aldi terlepas. Sekarang Ia tidak adalagi tempat berpegangan. Ia terhempas ke bawah.

“AAAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHHHHH!!!!!!”

***

Terdengar kicauan burung di langit. Angin berhembus sepoi-sepoi. Tercium bau rumput basah sehabis hujan dan pepohonan di mana-mana. Sinar matahari hangat menyinari permukaan hutan. Di antara burung-burung yang sedang mendarat di tanah, ada yang mematuk-matuk muka seorang remaja memakai pakaian seragam SMA. Ia terbaring di atas rerumputan yang cukup tebal. Beberapa batang rumputpun menggelitik wajahnya.

“Ughh…” Aldi terbangun karena patukan burung-burung tersebut. Tetap dalam posisi terlentang, Aldi mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Dan akhirnya Ia dapatkan kembali ingatannya. Ia baru saja jatuh dari ketinggian kurang lebih 100 meter dan sepertinya Ia selamat tanpa luka yang berarti. Lalu Ia menyadarkan dirinya dari lamunannya. “Bagaimana aku bias selamat?” Pikirnya dalam hati. Kemudian melihat ke sekitar. Terdapat beberapa ekor burung dengan jambul panjang berwarna merah dan sebagian kuning. Paruhnya kecil dan imut-imut. Warna bulu di tubuhnya berwarna putih. Dan besarnya sedikit lebih besar dari burung parkit. Dan anehnya burung ini tidak takut oleh Aldi.

Aldi sempat mengira yang barusan ia lihat adalah sebuah mimpi. Ia membuka telapak tangannya yang terasa perih. Terdapat beberapa luka lecet pada telapak tangannya. Dan luka tersebut membuat pernyataan bahwa apa yang dialaminya adalah nyata.

Aldi kemudian duduk dan mengelus-elus burung yang berada di pundaknya. Burung ini belum pernah Ia lihat sebelumnya. Aldi melihat keadaan di sekitarnya. Rumput-rumput liar berada di mana-mana. Pohon-pohon pinus berdiri menjulang tinggi di mana-mana bak menara pencakar langit. Tercium aroma yang baru kali ini Aldi cium yang sepertinya berasal dari tumbuhan di sekitar Aldi. Sepertinya Ia ada di hutan pinus. Hutan pinus yang tidak biasa. Pepohonan pinus tersebut berukuran besar-besar dan berdaun cukup lebat. Di mana aku? Tanya Aldi dalam hati.

Tiba-tiba burung-burung yang tadinya ada dekat Aldi sekarang beterbangan ke sana kemari. Aldi agak terkaget. Terdengar suara gesekan kaki pada rumput. Aldi langsung bersembunyi di balik pohon karena takut ada sesuatu yang berbahaya. Aldi nyaris tidak percaya dengan apa yang diintipnya dari balik pohon pada sumber bunyi tersebut. 3 buah makhluk seperti manusia berjalan dengan gembira seperti orang bodoh. Makhluk itu berkuping panjang, berkulit hijau dan berekor seperti kadal. Memakai pakaian seperti pakaian perang pada abad pertengahan dan memakai topi besi bulat. Aldi nyaris ingin tertawa dengan fashion yang dipakai oleh ketiga makhluk itu. Sama sekali nggak ada yang cocok dari kepala sampai ujung kaki.

Tiba-tiba ada yang menabrak Aldi dari belakang. Aldi jatuh terjerembab. Saat Aldi melihat apa yang menabraknya, ternyata seorang gadis berambut sebahu dan bermuka imut. Badannya seimut wajahnya amat. Kira-kira setinggi bahu Aldi lebih pendek sedikit. Ia memakai pakaian seperti jas laboratorium berwarna putih dan ada corak segitiga terbalik berwarna merah di sepanjang bagian bawah jasnya. Dibalik jasnya Ia memakai baju merah dan rok putih pendek.

“Kacamataku… Mana kacamataku?” Kata gadis itu agak ripuh sambil meraba-raba rerumputan.

“Ini..” Aldi mengambilkan kacamata gadis itu yang kebetulan jatuh di dekatnya.

Gadis itu mengambil kacamata dari Aldi dan langsung memakainya. “Tolong aku… Aku dikejar-kejar Deef.” Kata gadis itu sambil memohon pada Aldi.

Aldi melihat makhluk berkulit hijau tadi berdiri di belakang gadis itu sambil mengangkat sebuah benda yang di Bumi disebut… Pedang. “Awas!!!” Aldi mendorong gadis itu tepat ketika pedang makhluk itu nyaris menghujam kepala gadis itu. Aldi langsung melihat muka makhluk itu. Ternyata muka makhluk itu terlihat jauh lebih menyeramkan jika dilihat dari dekat. Kedua taringnya sedikit keluar dari mulutnya. Matanya melotot dan amat tajam.

“Mati kalian manusia!!!!” Teriak makhluk itu. Gadis itu teriak ketakutan. Darah Aldi seakan turun dari kepala menuju kaki. Tangannya gemetaran tetapi Ia tak ingin mati di sini.

Aldi langsung melompat berdiri dan menarik lengan gadis itu. Namun sepertinya gadis itu terlalu takut untuk lari. Aldi yang malah tertarik oleh gadis itu. “Cepat lari!” Kata Aldi. Namun gadis itu tetap duduk gemetaran melihat 3 makhluk hijau itu. Para makhluk itu tertawa. Sepertinya mereka senang melihat mereka begitu ketakutan. Ini membuat Aldi sedikit marah. Ia jadi ingat Malik dan kedua anak buahnya.

Salah satu dari makhluk itu maju menyerang gadis itu. Aldi langsung maju dan menjegal makhluk itu. DUG!!! Kakinya keras sekali. Aldi kesakitan. Tetapi makhluk itu terjatuh dan pedangnya terlempar kedekat Aldi. Aldi langsung mengambilnya. Pedang itu cukup berat. Mungkin ada 10 kiloan. Para makhluk hijau itu langsung kehilangan senyuman di wajahnya. Wajah mereka sekarang menjadi serius melihat temannya dijegal dan diambil pedangnya.

“Serang!!!” Kata salah satunya. Makhluk itu maju menyerang Aldi. Aldi bersiap walaupun Ia sangat yakin kalau tangannya pasti gemetaran. Ia belum pernah berkelahi memakai pedang seperti ini. Salah satu makhluk itu mengayunkan pedangnya dan Aldi menangkisnya. Tenaga makhluk itu membuat Aldi nyaris melepaskan pedangnya. Tetapi Aldi kembali memeganginya dan melawan tenaga makhluk itu.

Makhluk hijau yang salah satunya bersiap menebas Aldi dari samping. Aldi sekarang tak bisa menghindar karena sedang beradu pedang dengan makhluk hijau yang satu lagi. Tiba-tiba sebuah ledakan mengenai makhluk hijau yang hendak menyerang Aldi. Makhluk hijau itu seketika langsung terjatuh dan tak sadarkan lagi. Saat Aldi melihat ke belakang makhluk itu, Aldi tahu darimana asalnya ledakan itu. Sepertinya gadis itu melemparkan sesuatu yang bisa meledak. Entah apa itu.

Makhluk hijau yang sedang mengadu pedang dengan Aldi menendang perut Aldi. Luka yang dari tadi Aldi derita menjadi amat sakit lagi. Aldi menjatuhkan pedangnya dan mundur sambil memegangi perutnya. “Tenaga macam apa ini?” Tanya Aldi dalam hati.

“Awas!!!” Teriak gadis itu. Makhluk itu mengayunkan pedang kepada Aldi lagi. Aldi melemparkan diri ke samping. Pedang makhluk itu menancap pada pohon yang tadinya ada di belakang Aldi. Makhluk itu sepertinya kesulitan menarik pedangnya kembali. Aldi langsung mengambil batu yang ada di dekat kakinya dan langsung memukulkannya pada kepala makhluk itu tepat pada helmnya.

TUNGGGG…

Helm makhluk itu penyok dan makhluk itu jatuh ke belakang. Aldi nyaris tertimpa makhluk itu. Nafas Aldi memburu. Ia sama sekali tidak percaya akan mengalami hal seperti ini.dibawa oleh seekor naga yang tak ia kenali, menuju dunia yang tak ia kenali, dan diserang oleh makhluk yang tidak ia kenali

Tiba-tiba gadis yang tadi menabrak Aldi tiba-tiba memeluk Aldi dari belakang. “Terima kasih… Aku gak tahu gimana kalau tadi gak ada kamu.” Katanya sembari agak riang.

Aldi hanya diam saja. Baru kali ini dia dipeluk oleh cewek selain adiknya. Tiba-tiba Aldi dibayangi sebuah bayangan hitam tinggi besar. Makhluk hijau yang tadi dijegal Aldi rupanya bangun lagi. Dan sekarang Ia dalam posisi siap untuk menebas mereka berdua. Aldi langsung mendorong gadis itu dan langsung ikut menghindar. Makhluk itu mengayunkan pedangnya secara horizontal dan menyerempet lengan Aldi.

“Mati kalian manusia!!!” Teriak makhluk itu sambil bersiap menyerang Aldi lagi. Aldi yang sudah terjatuh sulit untuk bangun lagi. Perutnya amat sakit dan luka di lengannya membuat lengannya melemah. Adrenalinnya sudah tidak begitu berguna sekarang. Aldi hanya bisa menutup matanya dan pasrah.

CRAK!!!

Sebuah suara seperti peluru yang menancap dan sebuah geraman terdengar. Saat Aldi melihat, makhluk hijau itu sudah tertusuk sebuah anak panah pada bahu kanannya. Satu anak panah lagi meluncur dan menancap di perut makhluk itu. Makhluk hijau itu akhirnya jatuh terkapar.

“Untunglah tidak terlambat…” Seorang dewasa berbadan agak kerempeng tetapi terlihat segar berjalan menuju Aldi dan menawarkan lengannya untuk membantu Aldi berdiri. Saat Aldi mau menerima tangannya untuk berdiri, gadis itu lebih dulu menangkap lengan Aldi dan mengangkatnya.

“Kamu nggak apa-apakan? Tanganmu gimana? Duh… darahnya banyak sekali.” Tanya gadis itu khawatir.

Aldi mengangguk. “Terima kasih sudah menolong.” Kata Aldi kepada orang yang tadi memanah makhluk hijau itu.

“Sepertinya gak ada luka. Bagaimana kalau kalian ikut aku? Daerah sini… Yah kalian tahukan? Bahaya.” Kata pria itu sambil membetulkan bandananya.

Mereka berdua berjalan mengikuti pria itu menuju jalan setapak. Rumput-rumput liar menusuk kaki dari sana-sini. Pohon-pohon pinus yang rapat membuat sinar matahari hanya masuk sedikit ke dalam hutan. Tetapi udaranya jauh lebih enak dibandingkan dengan di Bumi.

“Oh, ya, aku belum tahu namamu? Namaku Moti Avelia.” Kata gadis itu yang tampaknya dari tadi ingin mengajak ngobrol Aldi.

“Aldi. Aldi Rian Alfaris.” Jawab Aldi. Ia nyaris terjegal akar pohon yang menonjol.

“Aku Asgard Demonia Laguin. Panggil saja Asgard.” Pria itu nyeletuk tiba-tiba. “Hehehe aku tahu gak diajak ngobrol. Hanya sekedar perkenalan diri.”

Moti mengernyit. “Oh ya, aku bawa obat. Lumayan buat nutup luka kamu yang di lengan.” Kata Moti sambil mengeluarkan sebuah botol mungil dari tasnya. Lalu Ia menarik lengan Aldi. Aldi meringis kesakitan.

“Pelan dong…” Kata Aldi.

“Eh, maaf…” Kata Moti. “Bisa kita berhenti sebentar? Moti nggak bisa ngobatin sambil jalan.”

Pria itu mengangguk dan langsung menuju pinggir jalan setapak dan duduk di batu. “Apa kalian gak salah pilih tempat buat pacaran? Yah… Maksudku di sekolah kalian jugakan ada halaman. Di sana aman. Gak kayak di hutan pinus hijau ini.”

Moti kelihatan malu dibilang pacaran. “Kita nggak pacaran di sini kok. Moti Cuma lagi nyari tumbuhan obat. Moti denger di sini banyak tumbuh tanaman-tanaman yang jarang ditemukan. Jadi Moti pergi sendiri. Eh tahunya nyasar.” Moti menumpahkan cairan pada botolnya itu pada lengan Aldi yang tadi kena sabet pedang. Aldi menutup matanya. Rasanya tangannya seperti disengat 1000 ekor lebah.

“Oh, kau pasti murid Fairren. Potion putih ya? Apa itu buatanmu sendiri?” Tanya Asgard pada Moti saat melihat cairan yang Moti tuangkan.

“Ya, ini Moti buat sendiri.”

“Pintar juga kau. Kelas berapa kau sekarang?”

“Kelas Tabib tingkat satu.”

Rasa perih mulai hilang dari lengan Aldi. Lukanya menutup dengan sangat cepat. Aldi takjub melihatnya. “Terima kasih.”

“Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa, panggil saja Moti.” Kata Moti semangat melihat Aldi tersenyum. “Kau sekolah di mana dan tingkat berapa, Di?”

Hati Aldi mencelos. Mungkin bila Ia berkata Ia bukan berasal dari sini melainkan dari Bumi, pasti akan dikira gila. Ia tahu ia tak mungkin menjawab ‘SMA 5 Bandung Kelas 1.’ Ia harus berpikir cepat untuk sebuah alasan yang bagus. “Aku baru saja mau daftar sekolah. Apa ada sekolah di sekitar sini?” Hanya itu alasan yang terpikir oleh Aldi.

“Hah? Daftar sekolah pada bulan ini? Apa nggak tanggung? Tapi nggak apa-apa. Moti akan tunjukkan sekolah dekat sini. Sekolah Moti tuh. Bagus lo. 4 kelas yang memenuhi standar Wimblamerti. “Tabib”, “Bayangan”, “Prajurit”, dan “Penyihir”. Gimana?”

Tabib, bayangan, prajurit dan penyihir? Sekolah macam apaan tuh? Yang pasti nggak kalah aneh dari makhluk-makhluk yang bermunculan silih berganti dari tadi. “Oh, ya, makhluk yang tadi… Apa namanya?” Tanya Aldi.

“Hah? Kamu nggak tahu Deef?” Moti terkaget. Aldi baru saja tahu bahwa Ia menanyakan sesuatu yang menurut orang sini itu sangatlah bodoh.

“Bisa kutahu mengapa tadi kamu diserang mereka?” Tanya Aldi samibl berusaha mengabaikan ketidakpercayaan Moti.

“Gila kamu! Bangsa manusia dengan Deef kan sedang berperang. Mereka selalu ingin menjadikan manusia sebagai budak mereka. Kamu bagaimana sih kok sampai nggak tahu?” Moti tambah nggak percaya.

Aldi diam saja tetapi Moti selalu memaksanya untuk memberitahukan darimana Aldi berasal. Aldi otomatis tetap saja tidak bisa memberitahukan darimana Ia berasal. Tapi makin ke sana Moti semakin memaksa. “Baiklah. Tapi ini rahasia. Kumohon kalian percaya dan tidak kaget mendengarnya.” Aldi menyerah. “Aku berasal dari dunia lain. Namanya Bumi. Seekor naga yang membawaku kemari.”

“Hah?! Bumi? Ini… sulit untuk dipercaya.” Sesuai perkiraan Aldi, mereka berdua kaget dan tidak percaya.

“Gak bisa dipercaya. Naga katamu? Bagaimana cirri-cirinya?” Tanya Asgard.

“Sayapnya empat dan panjangnya kira-kira 3,5 meter. Warnanya agak biru tua.” Jawab Aldi.

“Jangan-jangan Hafalaf. Hafalaflah yang membawamu kemari. Naga legenda itu.” Asgard lebih kaget dari yang tadi.

“Hafalaf? Oh itu namanya ya? Ya aku juga hampir nggak percaya. Kukira naga hanya khayalan.” Kata Aldi.

“Khayalan? Di Bettalakron naga sudah umum. Ada di mana-mana. Tiap orang ingin memilikinya untuk piaraan.” Kata Moti yang hampir tertawa mendengar ketidak tahuan Aldi.

“Saat sampai di rumahku, akan lihat kalian nagaku. Umurnya sudah 14 tahun. Naga jenis Emdoria bersayap dua. Juga di kota Wimblam. Yah kota yang kita tuju sekarang. Di sana naganya banyak.” Kata Asgard sambil membanggakan diri.

“Kalian percaya dengan kata-kataku?” Tanya Aldi.

“Yah, apa mau dikata. Dari penampilanmu yang agak aneh ini, mungkin kita harus percaya.” Kata Moti. Tapi bagi Aldi, seharusnya Ia yang berkata begitu. “Tapi orang Bumi cakep ya.”

Aldi terkaget. Baru kali ini ada cewek yang berani mengatakan seperti itu di depannya. Kalau di Bumi sih, cewek-cewek sudah dilarang mendekati Aldi oleh Malik. Maklum, Malik bisa dikatakan seorang pentolan di sekolahnya yang sekaligus sekolahan Aldi.

“Dasar kau. Ngegodain aja.” Kata Asgard.

“Biarin aja. Sirik ya?” Kata Moti.” Nah, lukamu udah sembuh sekarang.” Moti membersihkan potion putih dari lengan Aldi.

“Terima kasih. Oh ya, tadi ada seperti ledakan, apa itu buatanmu juga?” Kata Aldi.

“Oh, saat bertarung dengan Deef? Iya. Aku tadi melemparkan potion merah pada makhluk itu.” Kata Moti.

“Potion merah? Wah… apa nggak salah? Orang dewasa lulusan tabib saja jarang ada yang bisa membuat potion merah. Kamu kelas berapa sih? Apa benar kelas 1?” Asgard nggak percaya.

“Benar. Yah, tapi ledakannya belum sempurna. Mungkin bila kutambahkan sedikit merica mandragora dan sari akar kemuning ledakannya akan lebih besar.” Kata Moti. Aldi sama sekali nggak ngerti.

“Wew. Baiklah murid pintar, bagaimana jika kita jalan lagi? Langit akan segera gelap.” Ajak Asgard. “Akan lebih berbahaya jika berjalan di hutan malam-malam.

No comments: