2
Adik Tersayang
Jam 10 malam datang tanpa terasa. Ami akhirnya selesai menangis dan tanpa Ia sadari Ia tertidur. Aldi tak tega membangunkannya. Ia menyelimuti adiknya dan mencium keningnya.
Aldi menatap adiknya yang tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Sorot wajah sayang terpancar di wajahnya. Tapi jantungnya berdegup kencang. Sebuah rencana gila terbesit di hatinya.
***
Jarum jam terus bergerak. Dan jam tanpa terasa menunjukkan pukul 3 pagi. Seorang pria dengan pakaian berantakan dan brewok di mukanya yang berantakan membuka pintu dengan sempoyongan. Sebuah botol bir yang masih berisi sedikit berada di tangannya. Ia berusaha menguasai tubuhnya yang mabuk itu untuk berusaha sampai di sofa berdebu yang berada di dekat pintu masuk.
Ia melemparkan diri ke sofa saat mengira jarak antara sofa dan dirinya sudah cukup dekat. Namun perkiraan orang mabuk tak lebih baik daripada perkiraan cuaca pada berita malam hari. Ia meleset dan jatuh ke lantai. Menimbulkan sedikit suara berisik. Namun ia tak selesai dengan usahanya. Ia meraih bantalan tangan sofa dengan tangannya yang gemetaran dan mengangkat tubuhnya ke atas sofa panjang tersebut.
Dalam hitungan detik, suara dengkuran terdengar darinya. Dengan kualitas suara yang mengalahkan tarikan suara Pavaroti dari Itali.
Tanpa disadari, ada seseorang yang memperhatikan orang mabuk yang telah berhasil mencapai puncak sofa tersebut dengan susah payah. Sebilah pisau dapur yang besar berada di tangannya. Merasa sebuah kesempatan terbaring di hadapannya, ia pun tak ragu untuk mengambilnya. Ia melangkah pelan menuju pemabuk yang tertidur itu. Pisau tersebut terus tergenggam erat di tangannya.
Langkah demi langkah dilakukannya. Merasa jarak dari dapur menuju ruang depan tempat pemabuk berada itu sangat jauh yang padahal dekat. Dan akhirnya ia tiba di sebelah pemabuk yang sedang tertidur itu. Ia menatap mukanya yang penuh dosa sambil memegang botol bir yang masih sedikit berisi tersebut.
Ia sempat ragu untuk melakukan ini. Namun keputusannya sudah bulat. Ia mencengkeram pisau tersebut dengan kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Nafsu membunuh terpancar dari pisau tersebut.
TEP
“Kakak mau apa?”
Aldi meronta berusaha melepaskan pegangan tangan Ami. Tentu dengan tenaganya, itu bisa dilakukan. Namun Ami melanjutkan usahanya dengan memeluk perut Aldi dengan kuat. “apa yang kau lakukan, Ami? Lepaskan!”
“Harusnya Ami yang tanya. Kakak mau bunuh ayah?” Kata Ami.
“Ya. Dengan tidak adanya dia, hidupmu akan lebih baik. Hidup kita akan lebih baik.” Kata Aldi sambil terus berusaha.
“Kakak!!! Jangan!!”
“Dia sudah membuat kita sengsara!!”
“Dia masih ayah kita. Kita tidak akan ada kalau tidak ada dia.”
“Minggir atau kau bisa terkena pisau ini!!! Ini demi kebahagiaan kita!”
“Bahagia?” Kata Ami sambil terus melakukan penghadangannya, “Jika kakak melakukan ini dan tertangkap polisi, kemudian dipenjara, apa itu akan membahagiakan Ami?”
Efek suara Ami cukup mengena pada diri Aldi. Aldi melepaskan pisaunya. Pisau tersebut meluncur dan terjatuh di lantai. Dan Aldi nyaris tidak percaya. Dalam keributan seperti itu, ayahnya yang mabuk masih tertidur dengan dengkuran seakan tidak ada yang terjadi. Dan keheningan tiba-tiba terjadi di ruangan tersebut. (Kecuali dengkuran ayah Aldi yang masih terdengar jelas.)
“Kak…” Ami berusaha memecahkan keheningan yang tidak mengenakkan ini.
Aldi melihat ke arah Ami. Kemudian perhatiannya tertuju pada pisau yang dijatuhkannya. Ia mengambilnya dan berjalan pelan meninggalkan Ami di ruang tamu menuju dapur. Menaruh pisau tersebut dan pergi ke kamarnya.
Ami hanya bisa melihat kakaknya itu pergi. Sesuatu yang mengerikan nyaris terjadi di depan matanya. Jika saja ia tak terbangun untuk buang air, besok pastinya ia sudah melihat bangkai ayahnya di atas sofa rumahnya.
***
Besoknya, setelah pulang sekolah, Aldi langsung pergi ke distro yang diceritakan Ami semalam. Di
Sebuah jaket berwarna putih yang memang sepertinya modelnya memang banyak disukai oleh cewek jaman sekarang. Tanpa pikir panjang Aldi langsung membelinya.
***
“Makasih Kakak!!! Kok Kakak tahu jaket ini yang Ami inginkan sih?” Ujar Ami saat diberikannya jaket yang sudah dibelikan oleh Aldi tadi. Ami pun lega. Kakaknya sudah kembali seperti semula sejak kejadian semalam. Ia sempat takut kakaknya marah padanya gara-gara mencegahnya membunuh ayahnya.
Aldi hanya tersenyum.
“Boleh Ami pakai?”
“Tentu”
“Gimana Kak? Pantes nggak?” Kata Ami sambil memamerkannya jaketnya yang sudah Ia pakai itu pada Kakaknya.
“Pas sekali.” Kata Aldi sambil mengacungkan jempol.
Makasih banget ya Kakak!!!” Ami memeluk Aldi dan mencium pipi Aldi.
“Eh… Mi… Ini di pinggir jalan. Inget…”
“Cuek!! Yang lihatin kita berarti sirik.”
***
Aldi dan Ami sampai di rumah mereka. Ami yang lagi senang dari tadi selalu bersenandung sendirian. Aldi yang melihat adiknya gembira itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya.
Ami langsung masuk ke rumah mendahului Aldi. Di ruang sofa, terduduk sesosok pria yang sudah dikenali mereka. Ayah Aldi sedang duduk di sofa sambil memegang sebotol minuman keras. Bau alkohol tercium amat menusuk darinya.
“Malam…” Sapa Ami.
Ayah Aldi hanya melihat mereka berdua tanpa membalas sapaan Ami. Matanya melotot kepada Ami. “Jaket baru rupanya?” Katanya tiba-tiba.
“Iya Yah. Kakak yang membelikannya.” Kata Ami bangga.
“Dasar anak bodoh!!! Buat apa Kau membeli barang nggak berguna kayak gini?!!!” Bentak Ayah Aldi kepada mereka berdua.
“Ini kubeli dari uang gajiku sendiri. Keberatan?” Jawab Aldi dingin.
“Kalian boros!!! Tak ada gunanya kubesarkan anak seperti kalian.”
“Tak ada gunanya juga membesarkan Ayah sepertimu. Makannya mahal. Bir sama kartu remi.”
“Apa katamu? Kau ini…”
“Sejak dulu juga hanya Ibu yang bekerja mencari uangkan? Sedangkan kau? Hanya santai-santai di rumah.” Potong Aldi. “Entah kenapa Ibu yang baik hati seperti itu mau seperti laki-laki seperti kau.”
“Dasar anak durhaka!!!” Ayah Aldi hendak menampar Aldi.
PAK!!!
Ami terjatuh.
“Ami!!!” Aldi terkaget.
“Dasar anak bodoh. Untuk apa kau melindunginya?” Ujar ayah Aldi. “Dan asal kalian tahu, aku lebih bertanggung jawab daripada ibu kalian yang memiliki tingkah aneh itu. Kalau aku tidak merasa memiliki anak, aku sudah meninggalkan kalian dari dulu.”
Muka Ami merah sembab. Ia langsung berdiri dan berlari ke atas tanpa bicara lagi.
“Beraninya kau sama cewek!!!” Aldi berang. Aldi langsung memukul perut Ayahnya. Ayah Aldi jatuh tersujud di lantai sambil memegangi perutnya. Aldi kemudian menendang kepalanya. Atau lebih tepat di hidung bengkoknya.
“Ami!!!” Aldi langsung berlari ke atas mengejar Ami.
Aldi mengetuk kamar Ami. Tetapi karena tidak ada jawaban Aldi langsung membuka pintunya. Aldi menemukan Ami sedang menangis terisak di kasurnya sambil memegangi pipinya yang tadi kena tampar Ayahnya.
Aldi langsung mendatanginya. “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Aldi sambil mengelus tangan Ami yang sedang memegangi pipinya.
“Hiks…Hiks.” Terdengar isakan tangis Ami. “Kakak…” ujar Ami pelan.
“Kenapa tadi kamu ngelindungin Kakak?”
“Ami…” Suaranya terputus-putus isakan tangisnya. “Ami nggak mau… Kakak disakiti lagi.”
Aldi tertegun mendengar perkataan Adiknya itu. “Terimakasih…” Kata Aldi sambil memeluk Adiknya. “Kakak nggak apa-apa kok. Kalau hal-hal kayak gitu sih Kakak udah biasa di sekolah.”
“Ngggg???” Ami heran. Aldi keceplosan ngomong. “Memangnya Kakak kenapa?”
“Nggak…” Aldi berusaha menutupinya. Aldi teringat bahwa ia tak ingin memberitahukan masalah di sekolahnya pada Ami.
“Kenapa?!” Tanya Ami memaksa.
“Nggak.”
“Kalau nggak di jawab, Ami kabur dari rumah besok.
Akhirnya hal yang ingin Aldi tutupi dari adiknya terbongkar oleh kata-katanya sendiri. Aldi menghela nafas. “Di sekolahku Aku dimusuhi oleh banyak orang.” Ujarnya berat.
Ami mendengar kata-kata ini dengan ekspresi tidak percaya. “Kenapa?”
“Ini semua karena Malik. Cewek yang dia taksir suka padaku. Karena itu Dia menyebarkan gosip-gosip dan Dia mulai memfitnahku. Akhirnya nyaris semua orang di sekolah benci padaku. Aku jadi bulan-bulanan disekolah Mi…”
Ami langsung memeluk Kakaknya. “Kak… kenapa nggak cerita dari dulu?”
“Maaf. Aku nggak mau menambah pikiranmu.”
Aldipun membalas pelukan Adiknya itu. Aldi berhasil membuat hatinya lega sedikit karena Ia sudah menceritakan penderitaan yang selama ini mengganjal dihatinya. Dan tanpa disadari Aldipun meneteskan air matanya ke bahu Ami.
***
Esoknya Aldi berjalan hendak pulang sekolah. Saat di gerbang pintu keluar, Aldi bertemu dengan Malik dan tiga anak buahnya. Mereka sepertinya sedang asik ngobrol. Tetapi saat mereka melihat Aldi, ekspresi wajah mereka langsung berubah. Aldi berusaha mengacuhkan mereka dan terus berjalan. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka menjegal kaki Aldi sehingga Aldi pun jatuh terjerembab. Aldi langsung melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam.
“Kalau jalan lihat-lihat dong!” Kata Malik sengak.
“Maklum Lik, biasa, playboy tukang maling kita ini belum makan dari kemarin.” Kata salah seorang anak buahnya.
“Kasihan ya Adiknya… Cantik-cantik tapi punya Kakak kayak gini.” Kata salah seorang lagi.
“Jangan-jangan Dia nanti kepaksa jual Adiknya gara-gara udah nggak punya duit lagi buat makan.” Celetuk Malik. Anak buahnya tertawa.
Aldi yang mendengar perkataan itu langsung meledak kemarahannya. Ia tak terima dikatai begitu. Aldi langsung melompat dan menerjang Malik. Malik terjatuh. Aldi langsung memukuli wajah Malik tanpa pikir panjang lagi. “Dengar ya Brengsek!!! Aku sangat mencintai Adikku. Dan Aku sama sekali nggak terima dengan apa yang baru aja lo katakan!!!”
Sebelum sempat melancarkan pukulan keempat pada hidung Malik, ketiga anak buah Malik menarik Aldi dan memegangi kedua tangannya. Salah satu dari mereka langsung memukul perut Aldi.
“Jangan seenaknya Kamu, orang miskin!!!” Teriak salah satu yang baru saja memukul Aldi.
Malik kemudian berdiri dan memegangi hidungnya yang sudah 2 atau 3 kali ditonjok oleh Aldi. “Agh… Hidungku… Hidungku berdarah…” Raungnya seperti anak kecil.
“Rasakan gendut!!!” Teriak Aldi. Anak buah Malik langsung memukul perut Aldi kembali. Kali ini lebih kencang. Aldi yang berusaha berontak so pasti kalah dengan tenaga 2 orang yang memegangi lengannya.
“Pukul dia, Lik! Balas apa yang Dia lakuin ke Kamu!”
Malik yang mukanya sudah nyaris seperti mau nangispun segera mengambil kuda-kuda untuk memukul.
SYUUUUTT
Malik melancarkan pukulannya yang dibebankan bersama seluruh berat tubuhnya itu. Aldi berhasil mengendorkan salah satu lengannya. Ia langsung menghindar.
BUG!!!
Malik memukul salah satu anak buahnya yang tadi memegangi tangan Aldi. Sekarang Malik terkapar menjatuhi anak buahnya yang terkena bogem mentahnya itu. (Pasti sakit sekali).
Aldi kemudian mencoba lari. Salah seorang anak buah Malik menendang perut Aldi kembali. Aldi merangkak kesakitan. Perutnya terasa perih sekali. Kemudian yang satunya lagi memukulkan tasnya ke kepala Aldi. Aldi yang sudah tidak berdaya itu kemudian dijadikan bulan-bulanan oleh anak buah Malik. Aldi sempat mendengar Malik berteriak-teriak, “Hajar! Bunuh saja!” Dengan nada seperti anak kecil yang baru saja direbut mainannya. Di sekitar mereka berkerumun orang-orang yang menonton. Hanya menonton. Tak ada seorangpun yang hendak atau berniat menolong Aldi.
***
Aldi terbangun di dekat gerbang sekolahnya yang sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Kepalanya terasa sakit sekali. Baju seragamnya berantakan sekali dan amat kotor. Aldi menyeka darah yang ada di dekat mulutnya. Saat melihat ke atas, langit sudah menandakan sore akan malam. Ia pingsan selama kurang lebih 3 jam dan tidak ada seorangpun yang menolongnya.
Aldi berusaha bangun. Tak lama Ia berdiri, Ia kemudian sempoyongan dan kemudian hampir terjatuh.
Setelah beristirahat sebentar kemudian Ia mencoba berjalan menuju tempat bekerjanya. Walaupun sempoyongan Ia tetap memaksakan dirinya. Hatinya sekarang dipenuhi rasa dendam dan kepedihan yang amat dalam.
“Sebegitu dibencinya kah Aku?!”
***
Setelah berjalan agak lama, akhirnya Aldi sampai juga di tempat dia biasanya bekerja. Dan sakit kepala dan rasa sakit pada tubuhnya sudah hampir hilang semua. Walaupun masih agak pusing dan jalannya masih sempoyongan. Aldi tidak bisa membayangkan Ami akan berkata apa saja nanti tentang lukanya.
Di depan restoran tempat Aldi bekerja, Aldi melihat sebuah mobil patroli polisi yang terparkir di
Di dalam restoran, duduk 2 orang polisi di bangku restoran paling depan. Aldi semakin takut kalau ditanyakan tentang sebab musabab penampilannya yang berantakan dan lukanya yang diderita. Ia takut dituduh sehabis ikut tawuran atau sebagainya. Kedua polisi itu mendekati Aldi. Hati Aldi semakin deg-degan.
“Anda yang bernama Aldi Rian Alfaris?” Tanya salah seorang polisi tersebut.
“Ya, betul.”
“Bisa ikut kami ke kantor?”
“Memang ada apa, Pak?” Jawab Aldi heran.
“Anda dituduh melakukan penganiayaan terhadap ayah anda. Ini termasuk salah satu contoh kekerasan dalam rumah tangga.”
“Hah?!” Aldi kaget. “Yang benar saja?! Apa buktinya?”
“Akulah korbannya.” Muncul sebuah suara dari belakang mereka. Sesosok laki-laki kurus yang wajahnya sudah tak asing lagi bagi Aldi. Ayah Aldi berdiri bagaikan pahlawan di film-film yang sudah berhasil memojokkan sang pelaku pembunuhan. Hidungnya sekarang bengkok ke arah yang lain dari biasanya. Aldi sedikit puas melihat itu.
“Kau…” Geram Aldi. “Pak… Dia yang sebenarnya sering…”
“Dia menonjok perutku, Pak. Lalu setelah aku jatuh, dia mulai memukuliku. Nyaris membunuhku malah.” Potong ayah Aldi. “Padahal aku selalu mencintainya Pak. Tapi ini yang Ia lakukan untuk membalas kebaikanku.” Kata ayah Aldi dengan nada yang dibuat-buat.
“Bohong!!!” Teriak Aldi. “Kau sendiri yang sering…”
“Ceritakan saja di kantor! Kau anak durhaka.” Kata polisi yang sekarang memegangi tangan kiri Aldi. Seringai senyum licik tersirat dari wajah ayah Aldi.
Aldi melihat polisi itu mulai merogoh sakunya. Aldi takut itu adalah sebuah borgol. Secara reflek, Aldi melemparkan tangan polisi itu dari tangan kirinya seperti pada waktu Ia membela diri dari anak buah Malik. Polisi itu melotot kepada Aldi. Aldi balas melotot. “Aku bilang dia yang sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga, Pak!!!” Teriak Aldi sambil menunjuk Ayahnya yang sedang tersenyum bangga. Saat kedua polisi melihat ke arahnya, Ia cepat-cepat memasang tampang prihatin lagi.
“Mengakulah Anakku, walaupun itu berat. Jangan membohongi dirimu sendiri.” Kata Ayah Aldi yang perilaku dibuat-buatnya semakin terlihat. “Aku tahu aku miskin dan kau kecewa padaku.”
Hati Aldi semakin panas. Ia ingin menonjok muka Ayahnya sampai lebam dan mematahkan hidungnya. Tangan kiri Aldi kembali dipegang oleh polisi tadi.
“Cepat masuk ke mobil!!” Kata polisi tersebut sambil menarik Aldi. Aldi kembali melemparkan genggaman polisi tersebut dan mengambil jarak dari mereka.
“Ingat!!! Akan kubalas kau nanti!” Teriak Aldi pada Ayahnya yang wajahnya seperti sudah ingin menunjukkan tawa kemenangan. Aldi langsung kabur dari restoran tersebut.
“Hei, Tunggu!!!” Teriak Polisi itu sambil mengejar.
Aldi berlari menyusuri jalanan
BRUG!!!
Seorang gadis cantik berambut panjang memakai seragam SMP yang tak lain adalah adik Aldi tertabrak oleh Aldi.
“Ugh…” Aldi memegangi rusuknya yang tadi tertabrak oleh Ami. Padahal tadi sudah dipukul oleh anak buah Malik.
“Kakak? Kakak kenapa?” Tanya Ami yang terkaget setelah ditabrak Aldi ketika melihat penampilan Aldi yang amat berantakan dan terluka di sana-sini.
“Ami…” Panggil Aldi saat Ami hendak merapikan baju seragam Aldi yang berantakan sekali. Aldi kemudian mencium kening Ami dan kemudian berbisik pada Ami. “Jaga dirimu.”
“Kemari Kau!!!” Teriak Polisi dari belakang mereka.
Aldi langsung saja lari lagi meninggalkan Ami. Tak terpikirkan ke mana Ia harus pergi lagi. Yang terpikirkan oleh Aldi hanya kepedihan harus pergi meninggalkan Ami. Terpikir olehnya bagaimana kehidupan Adiknya setelah Ia tinggalkan dan Adiknya harus tinggal bersama Ayahnya itu. Tetapi walaupun ingin menjaga Adiknya, berarti Aldi harus lolos dari kejaran para Polisi ini.
No comments:
Post a Comment