AdCoba

Sunday, 31 August 2008

Bettalakron (1) - Bab 9

9

Lelaki Yang Selalu Tersenyum

Ternyata pelajaran Tanaman Bettalakron sangat asyik. Pak Poltrey, guru Tanaman Bettalakron sangat bisa memberikan penjelasan tentang tanaman yang sedang dijelaskan. Pengetahuannya sangat luas dan orangnya sangat sabar. Tanaman yang tadi dipelajari adalah tanaman Hijaker. Tanaman yang warna daunnya bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaan sekitarnya. Macam bunglon versi tumbuhan. Pak Poltrey menjelaskan manfaatnya tanaman itu yang ternyata tanaman itu biasa digunakan untuk bahan dasar pembuatan ramuan Potion untuk anak-anak kelas Tabib. Dan para ahli yang sangat ahli pun bisa mencari tanaman ini seharian kalau mereka sudah menyamar.

Marfiar, salah seorang murid kelas Bayangan yang bertubuh kurus dan tinggi sempat keracunan daun Hijaker karena ia meremas-remas daunnya menjadi kecil-kecil dan secara tidak sengaja menghirupnya. Sekarang mukanya merah lebam seperti orang yang sedang mabuk. Aldi bersyukur ada yang melakukan hal tersebut lebih dulu. Aldi sempat hendak melakukan hal yang sama.

Di luar perkiraan, Aldi bisa menjalani pelajaran ini. Ia berdoa semoga pelajaran yang lain bisa ia jalani seperti pada pelajaran Tanaman Bettalakron ini. Namun perasaan kaku dalam dirinya belum juga hilang. Terkadang ia masih merasakan kesepian dalam keramaian. Untunglah teman-temannya cukup bisa mengajaknya bergaul.

Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Sejarah. Aldi mengikuti anak-anak kelas Bayangan lainnya dari belakang. Ia semakin dekat dengan seorang anak bernama Rippu yang tadi berkenalan dengannya. Ia bertanya macam-macam tentang hobi Aldi dan apa saja keahliannya. Aldi yang agak kebingungan menjawab dengan jawaban seadanya saja.

“Kau suka apa?” Tanya Rippu.

“Hah?”

“Makanan, makanan... sukanya apa?”

“Oh... pempek Pal...” Dahi Rippu mengernyit. Aldi menyadari bahwa ia sudah mengatakan hal yang aneh.

“Makanan apa tuh? Pempekpal?” Tanya Rippu.

“Eh... oh... makanan khas kota Kimma tuh. Masa nggak tahu?” Aldi nekat menjawab. Daripada tanggung aneh, ia lebih memilih membuat hal aneh tersebut menjadi lebih aneh dengan wajah pasti.

“Timma kali? Oh, aku sama sekali nggak tahu kalau makanan seperti itu ada di sana. Kalau ke sana traktir aku makan itu ya.”

Aldi mengangguk cepat sebelum Rippu merasakan hal yang ganjil: orang yang salah mengatakan nama kampung halamannya sendiri. Ia bisa salah mendengar huruf T di depan kata Timma dengan huruf K.

Para anak-anak kelas Bayangan tingkat satu sampai di ruang kelas di lantai dua setelah berputar-putar di bangunan sekolah Fairren yang luas dan mirip kastil itu. Fonkav, sang pemimpin kelas Bayangan tingkat satu membuka pintu ruang kelas itu yang berupa pintu kayu jati yang dihiasi ukiran-ukiran naga di sekitarnya.

KRITTT

Pintu itu menderit saat di buka. Tampaknya seperti yang sudah lama tidak di buka tutup. Ruang kelas di sana seperti ruang laboratorium di Bumi. Empat meja panjang berderet dikitari beberapa bangku kecil untuk duduk para murid. Sedangkan di depannya terdapat papan tulis besar dan meja guru serta tempat duduknya. Seperti layaknya laboratorium di Bumi. Di sekitar ruangan terdapat bermacam-macam benda-benda yang sepertinya keramat yang disimpan dalam lemari kaca. Ada beberapa prasasti, yupa, dan benda-benda lainnya yang Aldi tidak tahu namanya.

Seorang bapak-bapak tua berambut putih dan berkumis tebal yang juga putih datang dari ruang di belakang meja guru dan kemudian duduk di tempat duduk guru. Ia berdeham sedikit dan tanpa peringatan...

“Seperti yang kita tahu bahwa Umemagos, makhluk berkepala 3 dan bertubuh ikan ini pernah ada di muka Bumi ini. Namun kelak pada saat itu... bla... bla...” Guru itu langsung nerocos menjelaskan pelajaran yang sedang ia bahas tanpa memperhatikan muridnya yang sedang asyik ngobrol. Nada bicaranya luar biasa bikin ngantuk dengan irama nadanya yang naik turun secara teratur pada nada dasar C. Marfiar sudah ngorok di meja pojok belakang. Yang terlihat antusias belajar hanyalah Fonkav dan beberapa murid perempuan yang duduk di meja paling depan. Aldi dan Rippu terdiam sejenak.

“Gila... pelajaran apa nih?” Tanya Aldi.

“Sejarah. Yang di depan itu namanya Pak Maron. Memangnya kenapa?” Jawab Rippu.

“Aku yakin dia penyhir hebat.” Kata Aldi sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.

“Benar!!! Penyihir spesialis mata. Dijamin tak sampai 5 menit, matamu sudah tertutup.” Kata Rippu. Mereka berdua tertawa tertahan. “Ini adalah pelajaran yang paling bikin suntuk. Yah pegal-pegal paling tidak kalau mendengarkan terus. Aku yakin ditelingaku sudah tumbuh kapalan setelah mengkuti pelajaran ini selama 6 bulan.”

Selesai mengobrol dengan Rippu, Aldi berusaha mengumpulkan konsentrasi dan mencatat apa yang dikatakan oleh Pak Maron. Buku tulis di hadapannya ingin ia isi. Namun kekuatan Pak Maron yang disalurkan melalui suaranya membuat Aldi amat ingin tidur. Beberapa kali ia menggeliat. Rippu sedang asyik corat-coret bukunya tanpa mendengarkan ceramah Pak Maron. Aldi langsung ikut nimbrung dengan Rippu dan ikut mencorat-coret buku Rippu. Dan dalam sekejap mereka sudah menciptakan permainan baru yang dimainkan di buku Rippu. Dan mereka beri nama Coret Bukuku, Coret Wajahmu.

***

Setelah pelajaran Sejarah, para murid kelas Bayangan pergi ke Aula untuk makan siang. 2 jam pelajaran Sejarah Aldi dan Rippu habiskan untuk bermain dengan permainan ciptaan mereka. Para murid yang lainnyapun nyaris tak ada yang memperhatikan. Mereka semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Di tengah jalan menuju ruang aula, mereka bertemu dengan anak-anak kelas Penyihir tingkat satu. Mereka yang cowok memakai baju dalaman hitam dan jas putih yang mirip jas guru. Hanya saja warnanya lebih cerah. Mereka memakai kalung berbandul simbol mata. Yang cewek memakai baju krem pendek yang lengannya lebar seperti gaun. Dan juga dilapisi rompi hijau yang di dadanya terdapat lambang yang mirip huruf Y yang merupakan simbol sekolah Fairren. Rok pendek berwarna hijau dan juga mereka memakai mahkota kecil di kepalanya.

Beberapa anak sekelas Aldi ada yang menyapa dan ada juga yang tidak. Aldi teringat kembali kata-kata Moti bahwa anak-anak kelas Penyihir itu sombong-sombong. Benar saja. Beberapa dari mereka membuang muka dan ada juga yang cara jalannya dibuat-buat.

“Hai, Rippu.” Sapa salah seorang Penyihir cewek kepada Rippu yang berjalan di samping Aldi. Rambutnya panjang hitam. Mukanya cantik sekali. Selain mukanya yang polos, kulitnya juga amat putih. Mukanya mulus dan matanya agak sipit.

“Hai, Yuyi. Bagaimana?” Jawab Rippu.

“Baik. Semoga bisa berhasil.” Balas cewek itu. Aldi sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka omongkan.

“Oh, ya. Ini, kenalkan. Murid baru di sini. Namanya Aldi.” Kata Rippu sambil memperkenalkan Aldi pada cewek itu.

Cewek itu menawarkan jabat tangannya. “Yuyi Majesti. Panggil saja Yuyi.”

Aldi senang sekali bisa menjabat tangannya. Mungkin tangannya tak akan ia cuci selama 3 hari. Dan tanpa sadar, ia masih menjabat tangan Yuyi sambil. Yuyi bengong saja.

“Oi! Kenapa kamu?” Rippu menyadarkan Aldi. “Aku tahu dia cantik. Tapi jangan keterusan dong.”

“Ah... nggak...” Aldi malu setengah mati. Rippu berkata seperti itu sama saja dengan menelanjangi Aldi di tengah kota Hagleit.

“Kita mau ke aulakan? Yuk bareng.” Ajak Yuyi kepada mereka berdua.

Aldi dan Rippu mengangguk. Mereka meneruskan perjalanan menuju aula untuk makan siang. Pendapat tentang orang-orang kelas Penyihir adalah sombong-sombong saat ini ditepis mentah-mentah oleh Aldi. Ia sama sekali tidak merasa begitu. (Untuk orang tertentu seperti gadis cantik di sebelahnya tentunya.)

Mereka sampai di ruang tengah di mana pintu masuk utama ada di pojok sebelah kanan. Gantungan lilin yang besar di tengah ruangan kembali dijumpai oleh Aldi. Para anak-anak kelas Bayangan dan Penyihir tingkat satu semua memasuki pintu di seberang pintu ruang guru. Aldi, Rippu dan Yuyi masuk paling akhir.

Ruang aula yang dulu pernah Aldi kunjungi walau sebentar untuk masuk ke ruangan “Suara Gaib” sama sekali berbeda dengan sekarang. Meja-mejanya berhiaskan taplak meja hijau. Bertumpuk-tumpuk makanan dihidangkan di meja tersebut. Atap kubah yang bening tersebut tidak berbeda. Hanya saja menyinari seisi aula dengan cahaya lembut dan hangat dari luar ruangan. Beberapa guru terlihat sedang duduk di meja altar di ujung aula. Beberapa Gion mondar-mandir sambil mengisi piring-piring dan mangkuk besar yang berada di tengah meja.

Aldi, Rippu dan Yuyi langsung memilih tempat duduk di tempat paling pojok dan kemudian duduk. Rippu mengambilkan Aldi dan Yuyi piring dan langsung menyerbu makanan yang ada di sana. Ia mengambil 2 potong ayam goreng, sebakul nasi, kentang goreng, spageti dan saus. Sehingga terciptalah gunungan makanan di piringnya. Aldi mengambil sup krim dan 3 sendok nasi yang disertai ayam goreng. Yuyi hanya mengambil beberapa potong roti dan mengisinya dengan daging yang tersedia di dekatnya.

Baru kali ini Aldi makan mewah seperti ini. Berbagai macam makanan dan minuman ada di sana-sini. Ia amat senang dengan keadaannya sekarang. Ternyata masuk ke sekolah ini adalah langkah yang tepat. Suasana amat ramai. Satu murid dengan murid lain saling bertukar cerita. Ada juga yang mengadakan lomba makan.

Dalam sekejap, ruang aula makin penuh dengan anak-anak dari kelas lain maupun tingkat lain. Makanan yang ada di mejapun lambat laun makin habis. Setelah makan, Rippu mengajak Aldi dan Yuyi ke pinggir ruang aula untuk mencari tempat ngobrol yang enak dan sepi.

***

Bel berbunyi yang menandakan habisnya waktu istirahat. Aldi dan Rippu berpisah dengan Yuyi. Setelah ini Yuyi akan menjalani pelajaran Tanaman Bettalakron. Aldi dan Rippu mendapat pelajaran Mentalis di ruang Suci Fairren. Aldi makin penasaran pelajaran seperti apalagi ini.

Aldi mengikuti anak-anak sekelasnya menuju ruang Suci Fairren. Mereka banyak yang mengobrolkan tentang pelajaran Mentalis ini.

“Hei, waktu itu saat masuk pelajaran ini, aku sedang frustasi lho.” Kata Rippu mengajak bicara Aldi.

“Oh, ya? Mengapa?” Tanya Aldi.

“Biasa... aku memikirkan masalah yang jalan keluarnya susah. Lalu saat bertemu Pak Ingrith, perasaanku seperti melayang. Aku dibuat tenang olehnya. Sungguh bisa membuat tenang, orang itu. Kau coba saja nanti.”

Aldi mengangguk. Dan juga makin penasaran tentunya.

Mereka sampai di depan sebuah pintu kayu besar berangka besi di lantai 2. Tingginya mencapai 4 meter dan terdapat dua buah daun pintu. Fonkav mendorong pintu tersebut. Sebuah julangan ruangan yang tak kalah tinggi dari aula di lantai satu terlihat di dalamnya.memang agak gelap. Tetapi terlihat ratusan lilin menyala di altar depan. Di sana terdapat bangku-bangku panjang tanpa sandaran dan di sana tidak ada meja. Di depan ruangan terdapat sebuah meja tinggi seperti yang biasa dipakai untuk berkhotbah. Lantai ruangan tersebut terbuat dari batu pualan yang ditata sedemikian rupa. Tidak terdapat jendela pada dinding-dinding batu di sekitar ruangan itu.

Mereka memasuki ruangan itu. Saat Aldi melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu, seperti ada yang menyambar semua kegelisahan di hatinya. Perasaan tenang memenuhi hatinya dan juga seperti ada yang menyiram tubuhnya dengan air yang membuat dirinya merasa amat segar. Seperti ada yang mengecilkan volume, seluruh suara seperti hilang di dalam ruangan itu. Anak-anak kelas Bayangan langsung terdiam begitu masuk ke dalam ruangan tersebut. Tercium bau kayu manis dari dalam ruangan tersebut.

“Siang semuanya.” Terdengar sebuah suara yang datangnya dari balik meja khotbah di depan ruang Suci. Seorang pemuda berambut putih dan berwajah cerah terlihat di situ. Mukanya masih tetap tersenyum dan matanya seakan tertutup karena sipitnya matanya.

Anak-anak Bayangan menjawab sapaan Pak Ingrith dengan sebuah anggukan. Seperti tidak biasa, anak-anak kelas Bayangan yang dari tadi ribut sekarang amat tenang dan menghormati guru yang ada di depannya.

“Silakan memulai semedi kalian.” Kata Pak Ingrith. Para anak-anak Bayangan mulai menundukkan kepalanya. Aldi celingak-celinguk dan kemudian mengkuti apa yang mereka lakukan.

Hening sekali di sana. Para anak-anak kelas Bayangan tampak asyik menundukkan kepalanya dan menikmati kesunyian ini. Tapi Aldi hanya bisa menikmati keheningan ini saja. Menundukkan kepalanya membuat lehernya pegal-pegal. Pak Ingrith mendatangi Aldi. Kemudian duduk di sebelahnya.

“Bagaimana hari pertamamu di sini?” Tanya Pak Ingrith pada Aldi dengan volume suara yang hanya bisa didengar mereka berdua.

Aldi melihat ke arah Pak Ingrith. Tetapi ia bingung harus menjawab atau tidak.

“Jawab saja.” Tanyanya lagi dengan suaranya yang lembut.

“Aku... masih agak bingung.” Jawab Aldi. Ia tidak tahu berasal darimana jawaban itu. Padahal selama tadi ia menikmati pelajaran di sekolah ini.

“Jadi perasaanmu masih menyangkut di dunia lain.” Kata Pak Ingrith. “Apakah di Bumi kau hidup tersiksa?”

Aldi kaget dengan ucapan Pak Ingrith. Darimana dia tahu kalau dirinya berasal dari Bumi? Apakah Moti membocorkan rahasianya dengan begitu mudah? “Darimana anda tahu?” Mulut Aldi otomatis melemparkan pertanyaan tersebut.

“Itu tidak penting. Hilangkan kegundahan hatimu. Di sini tidak ada yang akan menyiksamu seperti dulu.”

Aldi terdiam.

“Sekarang pejamkan matamu. Bayangkanlah hal-hal terindah dalam hidupmu. Hanyutkan dirimu dalam lamunanmu. Dan perasaan hatimu akan menjadi lebih baik.”

Aldi mengikuti apa yang Pak Ingrith perintahkan. Ia membayangkan dirinya saat pulang malam berjalan berdua dengan adiknya. Tetapi perasaan tenang tidak muncul dalam hatinya. Malah tambah resah. Ia menjadi teringat dengan adiknya. Bagaimana keadaan adiknya yang ia tinggalkan sekarang.

“Jangan, jangan. Gundah di hatimu malah bertambah. Perasaanmu sekarang kacau.”

Lagi-lagi perasaan Aldi dibaca oleh Pak Ingrith.

“Pikirkanlah hal yang lain.” Pak Ingrith menggerakkan telapak tangannya sehingga menutupi pandangan Aldi. Tangannya amat harum sekali. Ia menggerak-gerakkan tangannya dan membuat Aldi seperti kehilangan kesadaran. Tiba-tiba perasaan tenang muncul di hati Aldi. “Adikmu baik-baik saja di Bumi. Aku jamin itu.”

Pak Ingrith menurunkan tangannya dan kembali berdiri untuk mengitari murid-muridnya yang sedang bersemedi. Aldi mulai menikmati persemediannya. Hatinya kembali tenang dengan kata-kata Pak Ingrith tadi. Entah kenapa, kata-kata Pak Ingrith dengan mudah ia percaya begitu saja. Seakan Aldi baru saja dinasehati oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi.

Pak Ingrith kembali duduk di sebelah Marfiar. Anak sekelas Aldi yang bertubuh kurus dan tinggi. Entah apa yang mereka omongkan. Tapi nampaknya posisi Marfiar tidak berbeda dengan posisi Aldi saat ditanyai oleh Pak Ingrith tadi.

***

Bel pergantian pelajaran telah berbunyi. 2 jam di dalam ruang Suci Bettalakron amat sangat tidak terasa. Rasanya ingin berada di sana terus. Apalagi perlakuan Pak Ingrth yang benar-benar membuat hati tenang dan sikapnya yang amat kalem. Kegelapan di dalam ruangan itupun menjadi salah satu faktor pendukung untuk membuat ketenangan. Berbeda dengan pelajaran Sejarah. Kegelapan di ruangan tersebut yang diiringi nyanyian dari Pak Maron yang bisa membuat sekumpulan Deef yang sedang dalam siap tempur menjadi tertidur.

Anak-anak kelas Bayangan tingkat satu semuanya keluar dari ruang Suci Bettalakron dengan tenang. Aldipun terenyak dalam diam yang ia dapat di dalam sana tadi. Bahkan ada beberapa murid cewek yang meneteskan air mata. Ordel contohnya. Cewek berambut pendek hitam yang pipinya berjerawat terus meneteskan air matanya. Katanya ia mengobrol dengan mendiang kakeknya yang telah mati 2 bulan lalu di dalam ruang Suci Bettalakron itu dalam persemediannya.

“Pelajaran apalagi sekarang?” Tanya Aldi.

“Pelajaran terakhir, yaitu Taktik Perang.” Rippu menarik nafas dalam-dalam. “Aku benci pelajaran ini.”

“Memangnya kenapa? Membosankan seperti pelajaran sejarah?”

“Mending kalau membosankan.” Rippu menggelengkan kepalanya. “Gurunya, Di. Gurunya selalu memberi PR banyak. Belum lagi ia membenci anak-anak kelas Bayangan. Sifatnya judes, suka seenaknya dan yang paling penting adalah, dia akan mengajar kita sampai tingkat 6.”

“Wow. Sebegitu parahnya kah?”

“Kamu lihat saja sendiri nanti.”

***

Dari ruang Suci menuju ruang strategi, yaitu tempat di mana pelajaran Taktik Perang akan dilakukan tidak begitu jauh dan hanya memakan waktu 2 menit perjalanan. Mereka tiba di depan pintu gerbang ruang Strategi. Di dalamnya terdapat sebuah meja persegi berukuran besar yang ditutupi kaca di bagian tengahnya. Para anak-anak kelas Bayangan langsung mengitari meja tersebut. Aldi dan Rippu mengambil tempat bersebelahan di bagian kanan meja dekat pajangan baju zirah dipajang.

“Lama sekali kalian.” Terdengar suara yang mirip lengkingan dari pintu mereka masuk. Seorang setengah baya berdiri di depan pintu ruang Strategi. Badannya hampir se Aldi, hanya saja tubunya kurus dan paras muka yang menyebalkan terlihat dari wajahnya. Bibirnya kelihatan lebih lebar daripada bibir orang normal. Jubah guru Fairren ia pakai seperti layaknya guru-guru Fairren lainnya. Kedua matanya menatap rombongan anak-anak kelas Bayangan tingkat satu dengan tajam.

“Maaf, kami sudah berusaha sampai sini secepatnya.” Jawab Fonkav.

“Siapa yang suruh kau bicara?” Kata Orang tua itu tajam. Fonkav langsung diam. Wajahnya langsung memerah.

“Siapa nama guru itu?” Bisik Aldi kepada Rippu.

“Pak Qiamut Revelian. Panggil saja Qiamut. Pakai Pak tentunya.” Jawab Rippu. “Tapi kami lebih sering menyebutnya ‘Si Bibir’.”

Pak Qiamut mendekati meja yang berada di tengah ruangan tersebut. Para murid yang ada di depannya langsung bergeser. “Tampaknya hukuman adalah yang paling tepat untuk kalian. Kalian memang kelas yang paling tidak bisa diatur.” Saat Pak Qiamut mendekati meja tersebut, beberapa puluh orang-orangan kecil muncul di balik kaca yang menutupi tengah meja tersebut. Beberapa gundukan yang menyerupai gunungpun ikut muncul. Begitu juga pepohonan dan aliran sungai. Sungguh sebuah miniatur yang bagus. Aldi langsung tertarik untuk melihatnya.

“Buka buku kalian halaman 14. di situ tertulis... aha...” Kata-kata Pak Qiamut terhenti saat menyadari kehadiran seorang murid baru yang tak lain adalah Aldi. “Kau... Murid baru?”

Aldi mengangguk.

“Kalau begitu, jelaskan apa yang dimaksud dengan taktik Gelas Plastik?” Tanya Pak Qiamut tiba-tiba.

Aldi kaget. Mendengar nama taktik itu sendiri tidak pernah. Apalagi menjelaskan maksudnya. “Maaf, saya tidak tahu.”

“Haha... Murid baru. Kau sudah hebat rupanya. Tidak adakah sedikitpun niatmu untuk belajar? Taktik itu adalah taktik di mana kita memecahkan formasi lawan dengan pasukan pengacau barisan dan diikuti dengan serangan pasukan panah dan pasukan utama.”

Aldi melirik kepada Rippu. Rippu menggelengkan kepalanya.

“Dan siapa suruh kau melihat ke sana kemari? Hukuman untukmu! Selesai pelajaran, datanglah ke mejaku di ruang guru! Dan kuperingatkan kau! Jangan coba-coba mengobrol saat pelajaranku.”

Aldi menghela nafasnya dalam-dalam. Ia tak mengira sudah jadi begini pada hari pertamanya bersekolah. “Tenang sobat. Guru yang ini memang biasa memberi hukuman pada kita. Paling hukuman untukmu hanya mengepelkan seluruh ruang guru.” Kata Rippu menghibur Aldi.

Aldi memperhatikan orang-orangan yang bergerak menuruti perintah Pak Qiamut di dalam meja kaca. “Yah... atau kalau tidak menggosok seluruh lantai sekolah ini.”

“Sekalian sama dindingnya.” Tambah Rippu. “Perabotannya juga, kaca jendelanya... dan...”

“Cukup...” Kata Aldi pelan.

***

Setelah pelajaran Taktik Perang selesai, sekolah hari inipun ikut selesai. Para anak-anak dibebaskan pergi ke manapun mereka mau. Asalkan bisa kembali ke asrama tidak melebihi batas waktu yang ditentukan. Yaitu jam 9 malam. Semua anak bebas. Kecuali...

“Hah... harus nunggu dulu ya?” Kata Aldi dengan nafas berat karena ia harus menjalani hukuman dari Pak Qiamut.

“Sabar, Sobat.” Kata Rippu yang setia menemani Aldi.

“Kalau begitu, aku akan langsung menemui Pak Qiamut sekarang.”

“Ide bagus. Biar cepat pulang.”

“Tapi, sebelum itu...”

“Apa lagi?”

Aldi meringis. “Antarkan ke ruang guru. Aku belum hafal bangunan sekolah ini.”

Rippu membuang nafas. “Payah kau.”

Rippu setuju untuk mengantarkan Aldi ke ruang guru. Sekolah Fairren yang amat luas ini dapat dihafalkan oleh Rippu. Bahkan sampai ke jalan-jalan kecil yang tampaknya seperti tidak ada. Seperti dari celah-celah patung baju perang abad pertengahan yang di pajang di lorong, ia menggeser salah satunya dan alhasil, sebuah jalan terbuka dan membuat Aldi dan Rippu sampai ke depan pintu ruang guru dengan seketika. Jalan yang tadi di lewati Aldi dan Rippu kembali menjadi dinding dan tidak bisa dilewati lagi.

“Ini adalah jalan rahasia. Jangan beritahu yang lainnya!” Kata Rippu kepada Aldi.

Aldi dengan langkah berat mendekati pintu ruang guru. Bersiap menerima yang terburuk. Aldi membuka pintu ruang guru itu dan kembali terlihat sebuah ruangan yang memiliki 5 meja panjang dan kursi yang mengelilinginya. Ruang guru nampak lebih penuh dari tadi pagi sewaktu Aldi kemari bersama Moti. Aldi celingak-celinguk mencari orang yang bernama Pak Qiamut. Tapi tiba-tiba ia lupa bagaimana wajahnya.

“Mencari siapa, Aldi?”

Sebuah suara lembut terdengar dari belakang Aldi. Saat Aldi membalik, terlihat sesosok pemuda memakai jubah guru. Dengan senyum di mukanya yang seperti biasa seakan telah mengetahui segalanya dan matanya yang seakan tertutup karena saking sipitnya matanya. Pak Ingrith berdiri di belakang Aldi.

“Mencari Pak Qiamut. Dia di mana?” Tanya Aldi.

“Oh... ikutlah denganku. Apa kau dihukum?” Pak Ingrith berbalik tanya. Aldi mengangguk.

Aldi mengikuti langkah Pak Ingrith yang sedang mencarikan tempat duduk Pak Qiamut. Akhirnya ia sampai di tempat duduk seorang guru yang memiliki paras muka yang menyebalkan dan bibirnya yang lebarnya melebihi batas bibir manusia normal. Ia melihat ke arah Aldi dan Pak Ingrith secara bergantian. Kemudian senyum tipis setipis yang bisa bibirnya lakukan ia keluarkan.

“Datang juga kau. Sekarang akan kupikirkan apa hukuman untukmu.” Kata Pak Qiamut. “Aha... sebaiknya kau ku...” Pak Ingrith mengulurkan tangannya dan seketika menghentikan kata-kata Pak Qiamut.

“Dia baru sekolah hari ini. Kuharap kau tak menghukumnya seenaknya, Revelian.” Kata Pak Ingrith.

“Apa hakmu?”

“Tidak ada.” Jawab Pak Ingrith ringan. Aldi gemetaran. Ia takut kedua guru ini berkelahi karena dirinya.

“Sudahlah. Kau kembali saja ke bangkumu dan lanjutkan berdoamu!” Aldi merasa ini adalah sebuah ejekan. Dan Aldi yakin di dunia ini, kata-kata itupun merupakan suatu ejekan juga. Tetapi Pak Ingrith tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.

“Anak ini belum tahu aturanmu. Ia adalah seorang anak yang...”

“Aku tanya sekali lagi... apa hakmu?” Tanya Pak Qiamut tajam memotong kata-kata Pak Ingrith.

“Dan apa hakmu memberi hukuman kepada seseorang yang tak bsia menjawab pertanyaanmu?” Jawab Pak Ingrith santai.

“Seharusnya dia menyiapkan segala sesuatunya sebelum mengikuti pelajaranku!” Pak Qiamut tampak mulai kesal.

“Dan bagaimana dia bisa tahu materi yang akan kau berikan tanpa pernah mengikuti pelajaranmu sekalipun?”

“SUDAHLAH!!! Kali ini aku biarkan ia pergi. Tapi lain kali awas.” Kata Pak Qiamut sambil menunjuk Aldi. “Dan kau, Ingrith. Jangan coba-coba mencampuri urusanku lagi.”

“Tugasku adalah menjaga mental para murid sekolah ini. Dan bila ada kasus seperti ini lagi, ini adalah urusanku juga.” Balas Pak Ingrith tenang. “Nah, jika sudah tidak ada urusan lagi, kau boleh keluar, Aldi.”

Aldi senang sekali akhirnya diperbolehkan keluar. Ia rasanya ingin mengucapkan ribuan rasa terima kasih pada Pak Ingrith atas jasanya. “Terima kasih, Pak.” Aldi kemudian berjalan menuju pintu ruang guru.

Sesampainya di luar ruang guru, tak peduli di sana banyak orang, Aldi meloncat-loncat kegirangan diiringi dengan perasaan lega.

“Hei, kenapa kau, sobat?” Terdengar suara Rippu dari tembok di pojok ruangan. Yuyi ada di sebelahnya. Ia menyapa Aldi dengan senyumnya. Aldi mendatangi mereka berdua. Kemudian menceritakan apa saja yang terjadi di dalam ruang guru sana.

“Wow. Memang tidak salah aku mengidolakan Pak Ingrith.” Kata Rippu terkesan.

“Hati-hatilah lain kali. Pak Qiamut memang kurang menyukai anak-anak kelas Bayangan. Hal ini sudah menjadi rahasia umum sekolah ini.” Kata Yuyi.

“Sudah. Bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan saja ke taman saja? Kita santai di tempat favorit aku dan Yuyi.” Ajak Rippu sambil merangkul Aldi. Aldi mengangguk.

***

Mereka bertiga sampai di sebuah taman di bagian barat kota Wiblam. Di sana terdapat sebuah taman yang sangat indah. Hamparan rumput-rumput yang terawat terhampar luas yang diselingi beberapa pohon rindang. Di tengahnya terdapat sebuah kolam ikan yang cukup luas dan dikitari oleh batu-batu jalan sebagai jalan setapak. Di pinggir-pinggir kolam terdapat beberapa bangku panjang. Dan ada beberapa orang dengan gerobak bawaannya menjual berbagai macam makanan kecil.

Terlihat beberapa Gion dengan membawa pemotong rumput dan gunting tanaman sedang merawat pepohonan dan rerumputan di taman tersebut. Tampaknya di sini pun Gion digunakan.

“Aku mau beli es krim ah.” Kata Yuyi. “Kau mau beli juga, Rippu? Aldi?”

Rippu menggelengkan kepalanya. Aldi sebenarnya ingin juga. Tapi ia tak memiliki uang dunia ini sepeserpun. Aldipun ikut menggelengkan kepalanya.

Aldi dan Rippu duduk duluan di bangku di pinggir kolam di bawah sebuah pohon rindang. Rippu meluruskan kaki dan tangannya.

“Dasar cewek. Suka banget sama es krim.” Kata Rippu.

“Kau nggak jajan?” Tanya Aldi.

Rippu diam sejenak. Kemudain menggelengkan kepalanya. “Mana aku punya duit buat yang begituan. Ayahku hanyalah seorang pedagang kecil di kota Hagleit. Ibuku sibuk mengurus rumah. Dan aku punya 3 orang adik.”

“Adik? 3 orang?”

“Ya. Aku anak tertua.” Rippu melemparkan kerikil ke dalam kolam. “Apa kau punya adik juga?”

Aldi kembali teringat oleh Ami, adiknya yang ia tinggalkan di Bumi. Kemudian Aldi mengangguk. “Ya. Aku punya. Ia manis sekali.”

“Oh ya? Kalau begitu suatu hari aku ingin melihatnya. Bolehkan?”

“Tentu.”

Tiba-tiba 2 buah es krim disodorkan kepada mereka berdua. “Nih, untuk kalian. Kan nggak enak kalau makan sendirian.” Kata Yuyi.

Aldi dan Rippu saling melihat. Kemudian nyengir lebar sambil mencubit pipi Yuyi.. “MAKASIH YI..... Kamu selalu tahu kalau aku nggak punya uang.”

“Sudah jadi rahasia umum juga kalau kau nggak punya uang.” Kata Yuyi.

Yuyi lalu duduk di sebelah Aldi. Ia membuka koran yang ada di tangannya. Koran tersebut berjudul “Harian Betta”. Isinya tak jauh berbeda dengan koran di Bumi. Hanya saja kertas yang dipakai berwarna coklat kusam seperti kulit binatang. Peletakan huruf dan gambarnya pun berbeda dengan cara peletakkan koran di Bumi pada umumnya.

“Koran?” Tanya Rippu.

“Ya.” Kata Aldi. Ia membuka halaman selanjutnya. Dan ternyata kertas koran tersebut kosong melompong.

“Oh, ternyata belum sampai beritanya.” Kata Rippu melihat halaman kosong tersebut.

“Belum sampai?” Tanya Aldi.

“Ya. Kertas koran ini selalu terhapus setiap hari dan berganti dengan berita baru setiap harinya. Jadi kita tak perlu menghamburkan kertas. Ayahku pernah lupa membaca koran. Padahal isinya adalah tentang perdagangan ‘Siput Petelur Emas’ kesukaan ayah. Dan pada esok harinya saat ia hendak membaca, halamannya sudah berganti dengan topik dengan ‘Keong Penghasil Garan’. Ayahku jadi marah-marah pada ibu karena tidak mengingatkan. Kukira di kotamu juga ada koran seperti ini?”

“Oh, tentu.” Kata Aldi sedikit bingung. Ia mengalihkan perhatian pada koran Yuyi lagi. Dari halaman kosong tersebut kemudian muncul tulisan samar yang makin lama makin jelas. Di sudut kanan atas dan kiri bawah pun bermunculan berbagai macam foto.

Pencuri Brimstone Tak Diketahui Lagi Jejaknya

Para Fleim Dianggap Kurang Serius menanggapi masalah ini

seperti yang kita tahu, batu berkekuatan besar ini telah dicuri dari tempat asalnya, yaitu kota Wimblam (tempat secara detil masih dirahasiakan). Batu ini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang yang hampir mati sekalipun. Batu ini juga pernah dipakai untuk menyelamatkan sang raja kota Timma, Audegrei Falmum.

Sebelum batu ini dicuri, batu ini hendak digunakan untuk menyembuhkan penyakit flu unta di kota Klapaikow yang sedang mewabah. Namun, seorang pemuda yang tanpa tujuan yang jelas dan kemampuan yang hebat berhasil mencurinya dari para Fleim yang membawa batu itu. Pemuda tersebut seperti yang kita kenal bernama Frio Lizzi yang berasal dari kota Wimblam dan bersekolah di Fairren kelas Prajurit tingkat tiga. Padahal sekolah ini terkenal karena melahirkan banyak Fleim yang handal. Bukan seorang maling handal seperti pemuda ini.

Dan pada hari Rabu kemarin...

“Hari Rabu... Berarti hari di mana aku dan Asgard berbelanja di Hagleit.” Gumam Aldi.

Jejak sang pencuri ini hilang. Tanpa diketahui jejaknya. Para Fleimpun merasa kerepotan untuk mencari seorang anak ini. Tapi mereka yakin bisa menangkapnya dan memberinya hukuman setimpal karena telah mencuri sebuah benda penting di Bettalakron ini.

Di bawah artikel ini, terdapat sebuah foto seorang pemuda bertampang tampan yang tampaknya pernah Aldi lihat. Tapi entah di mana. Ia lupa sama sekali.

“Murid sekolah Fairren mencuri?” Kata Aldi kaget.

Rippu mengangguk. “Frio Lizzi. Dia kelas Prajurit tingkat 3. orangnya cukup terkenal dan kemampuannya memang hebat sekali. Beberapa guru yakin kelak ia akan menjadi seorang Fleim yang handal. Tapi ternyata ia...”

Yuyi menutup korannya dan mulai ikut berbicara. “Ya. Sangat tidak diduga. Untuk itulah, maka kitapun harus amat berhati-hati dengan yang namanya teman. Walau sudah dekat sekalipun.”

“Hei, kalian mencurigaiku?” Kata Aldi.

“Oh, tidak, Sobat. Aku tahu kau orang yang jujur.” Jawab Rippu. Ia memungut sebuah batu dan melemparkannya ke kolam. Membuat para ikan yang sedang berkumpul tercerai berai. “Sebab kami tidak mau lagi dikhianati.”

“Dikhianati?” Aldi penasaran.

“Ya. Frio adalah teman dekat kami. Dan pada hari itu, ia pergi meninggalkan kita tanpa pesan yang jelas dan ternyata... Ia melakukan ini semua.”

“Ia teman kalian. Apa kalian tidak curiga ia dituduh?”

“Tidak.”

“Mengapa?”

Rippu menarik nafas berat. Kemudian menghembuskannya. “Tadinya kami tidak percaya. Lalu kami menyelidiki, dan ternyata kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Ia melawan 2 Fleim yang sedang mengejarnya dan mengalahkan keduanya. Kalau ia tidak melakukannya, ia tak harus melawan mereka.”

“Tapi... bisa saja ia hanya membela diri, kan?” Sanggah Aldi.

Rippu dan Yuyi bertukar pandang. Kemudian hanya terdiam.

“Yang pasti kalianpun sebagai temannya memiliki sifat tak berbeda jauh dengan dia.” Terdengar suara cowok menyebalkan dari belakang mereka.

Dua orang murid Fairren berdiri di belakang mereka bertiga. Yang satu, cewek memakai seragam kelas Prajurit dan yang satu cowok memakai seragam keals Penyihir.

“Katakan sekali lagi dan hidungmu akan menjadi semerah tomat busuk, Tauren!” Gertak Rippu.

“Lakukan kalau berani. Dan kau akan kena hukuman. Tentunya ibumu yang miskin itu akan sangat sedih jika anaknya dikeluarkan dari Fairren.” Kata cowok berpakaian kelas Penyihir bernama Tauren itu. Badannya tinggi dan rambutnya belah tengah. Mukanya putih dan terdapat bintik-bintik hitam di pipinya. Warna mukanya sengak dan menyebalkan.

“Dan jika kau, cewek nakal yang berteman hanya dengan buku saja berani menentang kami, maka orang tuaku yang guru juga akan menyulitkan kalian jika kalian kena hukuman.” Kata yang cewek kepada Yuyi.

Muka Rippu sudah merah redam. Ia sudah berdiri dan sepertinya sudah bersiap menonjok wajah Tauren. Tetapi Yuyi memegangi tangan Rippu supaya ia bisa menahan amarahnya. Perhatian Tauren dan cewek itu teralih kepada Aldi.

“Kau anak baru yang sedang ramai dibicarakan itu ya?” Kata Tauren.

“Manis juga.” Kata cewek itu menambahkan sambil memperhatikan Aldi dengan seksama.

“Bagaimana jika kau berhenti bergaul dengan mereka dan ikut bergabung dengan geng Fairren Flunk? Demi kebaikanmu juga.” Ajak Tauren sambil merangkul Aldi. “Kau...” Tauren mengarahkan telapak tangannya ke arah bangunan sekolah Fairren seakan berusaha menggapainya. “...bisa menggapai apa yang kau mau bersama kami.”

Aldi memperhatikan Tauren lebih seksama. Kemudian ia melemparkan tangan Tauren yang sedang merangkulnya. Tauren mendelik. “Jikalau kalian adalah malaikat penolongku sekalipun, aku pasti akan menolaknya. Terima kasih akan ajakannya.”

“Keren, Di!!!” Teriak Rippu.

Gadis yang bersama Tauren tak bisa menahan emosi. Ia memegang tangan Rippu dan melemparkannya dengan mudah ke arah kolam ikan.

BIUUUURRRRRRR

Rippu terlempat ke kolam ikan. Walaupun kolamnya tidak begitu dalam, tetapi seluruh badannya basah karena cipratan airnya. Aldi kaget karena melihat tenaga cewek itu yang dengan mudah bisa melempar Rippu sejauh itu.

“Aku Felia Rowell. Akan kubuat kau menyesal menolak ajakan kami”” Kata cewek yang melempar Rippu ke kolam itu. Kemudian ia berbalik dan mengajak Tauren untuk kembali.

“Tunggu kau!!! Akan kubuat kau mandi di kolam bau ini juga!!!!” Teriak Rippu. Yuyi hanya bisa diam saja. Aldi hendak melakukan sesuatu untuk membantu Rippu keluar dari kolam tetapi...

“Lenlaides...” Teriak Yuyi. Seketika setelah Yuyi mengatakan mantera tersebut, tiba-tiba muncul daratan dari pinggir kolam menuju ke arah Rippu yang berada di tengah kolam. Rippu mencengkeram daratan tersebut dan naik.

“Dasar cewek lonte!” Kata Rippu kesal.

“Siapa mereka?” Tanya Aldi.

“2 orang dari kelompok yang paling menyebalkan yang ada di sekolah ini.” Jawab Yuyi.

“Yang satu namanya Tauren. Dia dari kelas penyihir tingkat 2. Dan cewek sialan itu bernama Felia. Ia dari kelas Prajurit tingkat 1.” Jawab Rippu. Sekarang badannya menggigil.

“Mau kusihirkan api untuk mengeringkan pakaianmu?” Kata Yuyi.

“Yeah...” Kata Rippu. “Aku juga ingin Felia panggang dan sate Tauren.”

No comments: